Kedamaian

Jejak-jejak Makna (25)

Ditulis oleh Gede Prama

Budaya kemiskinan, itu judul yang pernah diberikan sebagian pakar ilmu sosial terhadap kemiskinan yang turun temurun di negara-negara terkebelakang. Tidak saja kemiskinan material, tapi juga kemiskinan spiritual. Salah satu faktor yang disalahkan dalam hal ini adalah gen yang bersifat tetap. Jika kakeknya miskin, anaknya miskin, cucunya juga miskin. Sudah terlalu lama manusia dipenjara oleh penjara pikiran berbahaya bahwa gen itu tetap serta besifat turun temurun. Sampai suatu hari lahir seorang Guru besar bioteknologi yang mendalami gen dari Jepang bernama Profesor Kazuo Murakami yang menemukan, ternyata gen bisa dirubah. Ini bukan hasil mimpi di siang hari, tapi hasil penelitian laboratorium selama bertahun-tahun. Seperti ruang-ruang gelap, asal seseorang menemukan saklarnya, maka ruang gelapnya bisa dibikin terang benderang.

Iru sebabnya, judul buku Prof. Murakami adalah “Switch”. Artinya, siapa saja yang bisa mengaktifkan saklar positif gen di dalam, tidak saja hidupnya bisa berubah, pencapaian spiritualnya juga bisa sangat indah. Diantara banyak pilihan yang tersedia untuk menghidupkan saklar gen di dalam, ada beberapa cara yang dibahas secara mendalam oleh buku ini. Dari mengubah kondisi pikiran agar serba positif, tumbuh di lingkungan yang lebih mendukung, banyak berdoa, sampai dengan memandikan jiwa dengan tawa dan canda. Semuanya dibahas secara gamblang dan terang oleh buku ini. Bahasanya pun jauh dari rumit. Logika yang mau dibagikan mudah dicerna oleh orang biasa.

Dan yang paling menggembirakan, di halaman 133 buku ini Prof. Murakami berpesan indah: “Senyuman adalah saklar terkuat yang bisa menyalakan gen kita menjadi ON”. Belajar dari temuan ilmiah ini, jangan pernah mengecilkan pentingnya senyuman. Dulunya, senyuman adalah wilayah-wilayah spiritual yang dimasuki dengan keyakinan tanpa banyak pembuktian akademis. Sekarang, ia sudah dibuktikan di laboratorium bioteknologi selama bertahun-tahun. Lebih dari itu, sebagaimana ditulis di bungkus belakang buku ini, mahakarya Guru besar bioteknologi ini telah merubah dan menyentuh hati jutaan orang Jepang setelah bencana gempa dahsyat yang terjadi di tahun 2011. Ringkasnya, jika bencana sebesar gempa dahsyat di Jepang saja bisa dibangkitkan dengan cara banyak berbagi senyuman, sekarang giliran Anda diundang untuk mengubah hidup Anda, memperbaiki pencapaian spiritual Anda, terutama dengan cara banyak berbagi senyuman. Ini juga salah satu alasan penting, kenapa sejak akhir 2017 ini, meditasi keluarga spiritual Compassion diberi judul “Smileful Meditation” (meditasi penuh senyuman).

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Koleksi pribadi

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Leave a Comment