Compassion Spiritualitas

KEHIDUPAN SEBAGAI KEKASIH

Ditulis oleh Gede Prama

 

Seorang sahabat dari Prancis bertutur, ada penekun meditasi di sana disebut sebagai manusia paling damai. Setelah dipelajari secara lebih mendalam, ternyata ia memperlakukan kehidupan seperti seorang kekasih.

Musuh Kehidupan

Ciri dominan manusia yang sakit sekaligus menderita, ia sangat bermusuhan dengan kehidupan. Dari masa lalu yang menakutkan, masa kini yang menjengkelkan, sampai dengan masa depan yang mengkhawatirkan. Sebagai akibatnya, setiap putaran waktu seperti menduduki bara api.

Bila api yang sesungguhnya tidak memberi pilihan lain selain panas, api kehidupan memberi pilihan lain, tergantung cara memandang dan memperlakukannya. Sakit sebagai contoh, bila ia dilihat sebagai panggilan badan agar istirahat, memberi tahu tentang batas-batas diri, serta hal-hal di dalam diri yang perlu diperbaiki, maka sakit pun membawa pesan-pesan kedamaian.

Kegagalan sebagai contoh lain, ia adalah cara kehidupan untuk memberitahu, hidup tidak selalu naik. Dan kegagalan adalah Guru agar seseorang belajar lebih rendah hati. Dengan cara pandang seperti ini, benar pendapat tua yang mengungkapkan: “tidak ada musuh kehidupan, hanya pesan-pesan yang perlu diendapkan”.

Sahabat Kehidupan

Meditasi mendalam dimulai dari garis start seperti ini, semua hanya pesan dan bimbingan. Itu sebabnya, semua kekinian didekap lembut oleh meditasi mendalam melalui lingkaran sempurna: “terima, mengalir, senyum”. Inilah cara bersahabat dekat dengan kehidupan.

Hasil langsung dari persahabatan mendalam dengan kehidupan, tidak ada yang lain selain kedamaian. Tidak sembarang kedamaian, melainkan kedamaian yang membukakan pintu pada pelayanan yang penuh kasih sayang.

Perhatikan pesan damai seorang sahabat asli Filipina: “saya tidak punya muka cantik yang bisa disombongkan, tapi saya punya tangan indah untuk melayani orang lain”. Dalam bahasa penulis buku When I Love Myself Enough, tatkala orang mencintai hidupnya, hidup kemudian mekar seperti bunga indah.

Mencium Kehidupan

Persahabatan mendalam dengan kehidupan kemudian membimbing orang-orang suci untuk istirahat dalam keheningan, mencium tiap kekinian seperti remaja mencium kekasihnya. Dalam kedalaman penggalian seperti ini, waktu tidak lagi bergerak linier di tiga ruang (lalu, kini, nanti), melainkan berputar di sebuah lingkaran sempurna. Itu sebabnya, di banyak tradisi kesempurnaan disimbolkan dengan lingkaran sempurna.

Di lingkaran sempurna seperti ini, manusia kembali ke sifat alaminya. Seperti matahari yang alaminya terbit di timur, alaminya tenggelam di barat, orang yang sampai di sini secara alamiah penuh dengan kasih sayang. Perhatikan pesan puitis Kahlil Gibran: “kegelapan bisa menyembunyikan pohon, tapi kegelapan tidak bisa menyembunyikan cinta”. Bahkan kegelapan pun tidak bisa merubah sifat alami manusia yang penuh cinta.

Di dunia sufi, pernah lahir seorang pencinta yang meletakkan kehidupan sebagai kekasih. Perhatikan lirik pesannya: “cintaku, jika saya mencintaimu karena takut nerakamu, masukkan saya ke sana. Bila saya merindukanmu karena serakah akan surgamu, jauhkan saya dari surga”. Inilah ciri khas seorang kekasih kehidupan, mencium kehidupan tanpa syarat apa-apa (unconditional love).

————————————–

 

English Note: English speaking friends, the messages that flowing through me can be accessed in twitter @gede_prama or web //www.bellofpeace.org

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

8 Komentar

  • Salam Guru, Terimakasi atas pencerahan yang tak henti2nya guru pancarkan. ingin rasanya segera sampai dirumah pencerahan, dan semoga kita semua tercerahkan.

  • pak gede, begitu besar cengkraman ketidaksadaran hingga niat untuk menjadi lebih hening dan lembut belum terpenuhi. ternyata kemauan saja tdk cukup. mengasah secara terus-menerus akan hamba usahakan demi cinta yg tidak dapat disembunyikan oleh kegelapan itu. dan terutama dalam bentuk praktek dilapangan kehidupan ini. terima kasih pak gede atas tulisan-tulisan yg menyentuh hati.

  • Seorang guru besar telah kembali ke kedamaian, nelson mandela telah mewariskan pesan yg sangat mendalam…bahwa kita semua sama…semoga kedamaian selalu hadir disisi kita…saat kita berkasih dengan kehidupan..maka akan lahir bayi kedamaian…rahayu guru..terima kasih atas bimbingannya…