Compassion Spiritualitas

LENTERA BELAS KASIH

LENTERA BELAS KASIH
Ditulis oleh Gede Prama

LENTERA BELAS KASIH

“Apa lentera penerang dalam perjalanan spiritual yang panjang?”, ini pertanyaan banyak orang. Mirip dengan pergi ke puncak gunung yang jauh, di setiap tahap pertumbuhan seseorang memerlukan kendaraan yang berbeda. Saat menyeberangi jalan tol, orang memerlukan mobil. Begitu memasuki jalan setapak, seseorang memerlukan kuda. Tatkala mendaki tebing, seorang pencari memerlukan tali.

Perjalanan spiritual yang panjang juga serupa. Nyaris semua orang di zaman ini memulai perjalanan dengan intelek. Membaca buku, berdialog, menghadiri kelas meditasi adalah sebagian dari dahaga intelek. Bahkan para sahabat yang menghabiskan banyak waktu dalam keheningan pun, masih bercakap-cakap dengan dirinya. Sekali lagi, ini lentera bernama intelek (bahasa kepala).

Ada saatnya dalam perjalanan spiritual di mana intelek seperti kehabisan tenaga untuk mendukung pertumbuhan spiritual. Di titik inilah orang menoleh kepada insting (pesan-pesan yg disembunyikan dalam tubuh kita). Bulu kuduk yang merinding, perasaan aneh memasuki sebuah tempat, merasa cepat akrab dan hormat pada seorang Guru, bahkan ada yang menangis menggigil saat berjumpa seorang Guru, adalah sebagian cara insting untuk memberi tahu.

Intelek dan insting juga bukan seluruh cerita. Tatkala keduanya sudah menunjukkan batas-batas daya bantunya, di sana seorang pencari menggali intuisi (bahasa hati). Mulai bisa melihat kalau semua mahluk adalah jiwa-jiwa menderita yang memanggil untuk ditolong, mereka ada di sini untuk membuat hati jadi indah, kadang terjadi hanya melihat kucing yang kurus saja sudah membuat mata meneteskan air mata. Inilah tanda-tanda bahasa hati.

Di tingkatan hati seperti ini, seseorang menemukan kebahagiaan dan kedamaian dengan cara banyak menolong dan melayani. Menolong seperti nutrisi jiwa. Melayani mirip dengan rumah jiwa. Ada perasaan aman dan nyaman di sana. Ini yang menjelaskan kenapa bunda Teresa menemukan kedamaian mendalam di tengah kekacauan kota kumuh Kalkuta.

Ini juga yang menjelaskan kenapa Mahatma Gandhi meninggalkan semua kemewahannya sebagai pengacara di Afrika Selatan, kemudian pulang ke India mengenakan baju kesederhanaan, berumah di rumah pelayanan. Dalam bahasa sederhana sekaligus mendalam YM Dalai Lama: “agama saya adalah kebajikan”.

Lagi-lagi harus dikemukakan, hati juga bukan lentera di sepanjang perjalanan. Ada masanya tatkala seorang pencari sudah tumbuh jauh di dunia hati, kemudian ia belajar menjadi saksi. Tangan masih melayani. Hati masih mencintai. Tapi seorang pencari mulai duduk sebagai seorang saksi. Pelayanan tidak lagi menimbulkan keakuan. Cinta tidak lagi membuat seseorang menderita. Terutama karena seorang sudah menjadi saksi.

Siapa saja yang sudah lama menghabiskan waktu menjadi saksi mengerti, ketekunan untuk terus menjadi saksi mirip dengan rahim yang akan melahirkan bayi cantik bernama belas kasih. Inilah lentera orang-orang di puncak gunung yakni lentera belas kasih.

Bukan sembarang belas kasih, melainkan belas kasih sebagai sifat alami bathin itu sendiri. Ia mirip dengan bunga indah dan pohon rindang. Sifat alami bunga indah mengundang datangnya kupu-kupu, sifat alami pohon rindang mengundang datangnya burung-burung bernyanyi. Sifat alami seorang saksi sejati, ia ada di bumi untuk melaksanakan dan memancarkan belas kasih.

Di tingkatan ini, jangankan saat meditasi, atau saat melayani, bahkan saat tidur pun seorang masih memancarkan belas kasih. Selamat datang di rumah sejati jiwa-jiwa yang indah.

Author: Gede Prama.

Photo Courtesy: Twitter @shedancestibet.
——
Pesan Gede Prama dalam bahasa Inggris bisa dibaca di bellofpeace.org, fb Home of Compassion by Gede Prama, atau Twitter @gede_prama

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 Komentar

  • Gede Jadiarte • one year ago
    Terima kasih guru

    johannes rollie • one year ago
    terima kasih…

    Yanti • one year ago
    Guru, saat ini susah sekali buat saya harus membantu orang yang sudah menjatuhkan saya karena saya masih punya tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan saya.
    Semoga saya kuat untuk mengesampingkan rasa kecewa saya pada orang tersebut sehingga saya menjalaninya dengan ikhlas.

    Made Mariana • 2 years ago
    matur suksma Guru

    Gede Juliarta • 2 years ago
    Matur suksma Guru, mohon izin share.

    Cerumus.com • 2 years ago
    Terima kasih guru sangat menginspirasi 🙂

    Nyoman Ariana • 2 years ago
    Suksma Guru, atas pencerahannya.

    ketut wex • 2 years ago
    Suksma guru 🙂

    made tanada • 2 years ago
    Suksma guru.

    wayan sudika • 2 years ago
    Matur Suksam Pak Gede…..rahayu!

    slamet hidayat • 2 years ago
    Terima kasih Guru,sangat menyentuh

    Beat • 2 years ago
    Salam damai guru Senang Nya selalu bisa Menjadi sahabat guru

    julianto • 2 years ago
    Terima kasih guru

    Putu Pratama • 2 years ago
    Teriterima kasih guru.
    Moga moga guru panjang umur dan sehat lahir dan bathin sekeluarga.

    i kadek adi pradana • 2 years ago
    Terimakasih Guru 🙂

    wazan • 2 years ago
    Terima kasih, Guru…