Compassion

Kecil Itu Indah

Ditulis oleh Gede Prama

Suatu hari YA Mogalana (salah satu murid dekat GA Buddha) menggunakan kekuatan siddhi-nya untuk berjalan-jalan di neraka. Betapa terkejutnya beliau, ternyata di neraka ada sejumlah Guru spiritual. Sebagian diantara mereka bahkan titip pesan ke murid-muridnya di bumi agar tidak melanjutkan ajaran yang pernah diajarkan. Terutama karena semakin keras muridnya melaksanakan apa yang pernah diajarkan, semakin menderita ia di neraka.

Di zaman tatkala ada Buddha dan Avatara saja, ada sejumlah Guru spiritual yang mengalami kejatuhan spiritual dengan cara terlahir di alam neraka. Tidak kebayang, apa yang terjadi di waktu lain dan di tempat lain. Dan belajar dari pengalaman sejumlah kelompok spiritual di Barat yang mengalami keruntuhan, ada beberapa titik kritis yang membuat kelompok spiritual itu roboh.

Sejalan dengan bertumbuhnya kualitasi spiritual seorang Guru, biasanya berdatangan banyak murid lengkap dengan berbagai bentuk penghormatannya. Dari mereka yang mau cium kaki, memuji, sampai dengan yang membawa barang dan uang. Jika tidak membekali diri dengan kewaspadaan yang cukup, berbagai bentuk penghormatan orang ini membuat ego menaik. Dan dari sinilah muncul benih-benih kejatuhan spiritual.

Keakuan yang bertumbuh dalam diri seorang Guru ini kemudian mengundang datangnya banyak pengikut yang aneh-aneh. Sejauh yang bisa dipantau di Barat, keluarga spiritual yang roboh umumnya jatuh karena alasan seks atau uang. Dalam cerita sejumlah kelompok spiritual dengan pengikuti berlimpah dan kemudian bubar, di sana bahkan terjadi pesta narkoba yang berbahaya.

Kelompok spiritual yang dipimpin oleh George Gurdjieff termasuk yang langka. Keluarga spiritual yang dibimbing J. Krisnamurti lebih langka lagi. Kebanyakan keluarga spiritual di Barat roboh sebelum mereka sempat berbagi banyak cahaya kepada dunia. Sebagian dari Guru mereka bahkan mengalami sejumlah kejadian menyentuh yang tidak layak diceritakan di ruang-ruang publik.

Belajar dari kisah-kisah seperti inilah, maka keluarga spiritual Compassion hati-hati sekali dalam melangkah. Menjadi besar adalah arah pertumbuhan yang sangat dihindari dalam hal ini. Terutama karena menjadi besar adalah menjadi rumit. Menjadi rumit adalah awal dari banyak penyakit.

Itu sebabnya, ada sahabat pengusaha dari Jakarta, ada sahabat pengusaha dari salah satu negeri di Eropa, kedunya berniat sangat mulya mau mendirikan Ashram atau pusat meditasi untuk keluarga spiritual Compassion. Dan keduanya ditolak dengan sangat halus. Khususnya karena bangunan yang megah menuntut perawatan yang mahal. Ini mau tidak mau memaksa kami untuk mencari uang. Akibatnya, kami bisa kehilangan kekayaan spiritual yang paling mulya di zaman ini yakni ketulusan.

Itu sebabnya, keluarga spiritual Compassion tidak pernah punya bangunan, bahkan uang kas kecil pun kami tidak punya. Terutama karena semua sumbangan dari peserta didonasikan sepenuhnya ke pihak Vihara di mana kami berbagi cahaya selama bertahun-tahun. Ada efek negatifnya tentu saja, tidak sedikit sahabat yang harus kecewa dalam hal ini.

Sejumlah dokter terpaksa tidak diterima sebagai anggota team medis kelompok spiritual Compassion, karena jumlah dokter sudah lebih dari cukup. Banyak sahabat dari jauh yang memohon agar bisa menjadi dharma workers (pelayan) di kelompok spiritual Compassion. Ini pun ditolak karena jumlah pelayan sudah terlalu banyak.

Semua ini dilakukan bukan karena teman-teman punya kesalahan, bukan juga karena kami arogan. Tapi karena kami ingin belajar dari salah satu pemikir Inggris yang berpengaruh di tahun 1980-an yakni EF Schumacher, yang menulis buku Small Is Beautiful (kecil itu indah). Satu spirit dengan ini, tatkala dipergoki naik kereta api kelas tiga, murid-murid Mahatma Gandhi bertanya heran kenapa Gurunya naik kereta api kelas murahan. Dengan enteng pria kurus tidak berrambut ini menjawab: “karena tidak ada kelas empat”. Ia seperti mau menyampaikan pesan mendalam: “kesederhanaan adalah selimut jiwa yang paling hangat”. Sebagaimana sering dikemukakan di sesi penutupan meditasi di malam bulan purnama, tolong bantu kami keluarga spiritual Compassion agar bisa memancarkan cahaya lebih lama, tidak dengan cara memberi kami uang. Melainkan dengan cara mengizinkan kami tumbuh dalam kesederhanaan dan ketulusan.

Penulis: Gede Prama.
Photo Courtesy: Spiritual Family of Compassion Documentation.

===============================
Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa dibaca di bellofpeace.org, versi bahasa Indonesia beserta ratusan tulisan Guruji yang lain, wawancara sejumlah media terkemuka seperti Kompas bersama Guruji, video-video pesan perdamaian, video bimbingan meditasi, e-book, semuanya ada di belkedamaian.org. With compassion, admin.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar