Compassion Spiritualitas

Tiga Tubuh Mahluk Tercerahkan

Ditulis oleh Gede Prama

Di setiap putaran waktu ada mahluk tercerahkan. Dan sangat sedikit diantara mereka yang boleh menyebut diri sebagai orang suci. Apa lagi disebut Nabi, Avatara, Buddha. Itu lebih sedikit lagi. Namun, agar ada pedoman untuk mencari Cahaya, mesti ada yang berani memberi tanda-tanda agar para pencari jauh dari kegelapan kebingungan. Dengan segala keterbatasan, berikut ini adalah tiga ciri tubuh mahluk tercerahkan.

1. Personal body. Dalam tubuh pribadi mahluk tercerahkan ada tanda-tanda luar, tanda-tanda dalam dan tanda-tanda rahasia. Di jalan compassion (belas kasih), mahluk tercerahkan matanya penuh penerimaan dan persahabatan. Yang bersangkutan awas dan hati-hati sekali dengan lidah. Terutama agar tidak menyakiti. Dan yang paling menonjol adalah memperlakukan orang menyakiti sebagai Guru sejati yang menyamar. Bagi jiwa-jiwa yang peka dalam rasa, jangankan melihat tubuhnya, hanya mendengarkan namanya saja bisa membuat seseorang berlinang air mata haru. Itu tanda-tanda dalam. Sedangkan tanda-tanda rahasia, tentu saja rahasia.

2. Interpersonal body. Mahluk tercerahkan melihat orang lain sebagai bagian dari dirinya sendiri. Rasa sakit orang lain mirip dengan tangan kiri yang tidak sengaja terkena palu oleh tangan kanan. Secara alami, tanpa paksaan sama sekali, ia akan menyediakan tangan bantuan. Itu sebabnya, jiwa-jiwa indah seperti Bunda Teresa menemukan kebahagiaan mendalam dengan cara mengurangi beban penderitaan orang lain. Dari sinilah muncul pesan indah, banyak menolong kurangi menyakiti.

3. Cosmic body. Bagi jiwa yang tercerahkan, setiap tempat dan setiap waktu adalah rumah (home). Itu sebabnya kehidupan terlihat bermandikan senyuman. Dalam bahasa sederhana namun mendalam, pada akhirnya tidak ada beda antara burung bernyanyi dengan tetangga yang mencaci. Terutama karena keduanya bel suci yang sama, yang mengingatkan seseorang untuk selalu kembali ke rumah kosmik yang bernama basic goodness (sifat-sifat baik yang ada di dalam diri). Dan teman terdekat dalam hal ini bernama ke-u-Tuhan. Di mana ada puncak gunung di sana ada jurang, di mana ada kelebihan di sana ada kekurangan.

Penulis: Guru Gede Prama.
Photo Courtesy: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.