Compassion Spiritualitas

Tiga Mata Jiwa Bercahaya

Ditulis oleh Gede Prama

Sejalan dengan semakin dewasanya seseorang secara spiritual, ia akan memiliki mata yang jauh lebih tajam dari mata orang biasa. Sebagai bahan renungan, berikut tiga mata jiwa-jiwa yang bercahaya.

1. Mata luar. Sementara mata orang biasa hanya melihat hal-hal kulit yang di permukaan. Mata luar jiwa-jiwa bercahaya menembus jauh ke dalam. Ia melihat aura, cahaya yang membuat orang lain sulit bohong. Hanya karena sopan santun saja, kemudian jiwa-jiwa bercahaya berpretensi untuk tidak melihat. Terutama agar tidak menyakiti orang lain.

2. Mata dalam. Di dalam tubuh jiwa-jiwa bercahaya tumbuh berbagai macam tanda. Ada yang berfungsi sebagai penjaga, ada yang berfungsi sebagai penunjuk arah perjalanan. Mimpi, rasa lelah, rasa takut, gerakan-gerakan tertentu di bagian-bagian tubuh, tanda-tanda di cakra-cakra hanya sebagian contoh dalam hal ini. Di jalan compassion, begitu seseorang hatinya tumbuh indah, ia akan merasakan hadirnya penjaga di dalam. Bentuknya unik-unik, sulit dibandingkan.

3. Mata rahasia. Dengan meminta maaf pada Guru rahasia, jiwa bercahaya juga memiliki mata rahasia. Karena sifatnya yang rahasia, ia juga muncul di tempat-tempat rahasia saat seseorang betul-betul sendiri. Tatkala ia muncul, sedikit pun tidak ada keinginan untuk menceritakannya ke siapa-siapa. Tapi pengalaman rahasia ini membangkitkan rasa percaya diri, sekaligus membimbing seseorang untuk selalu merunduk rendah hati.

Penulis: Guru Gede Prama.
Photo Courtesy: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.