Compassion Spiritualitas

Tiga Doa Yang Berbagi Cahaya

Ditulis oleh Gede Prama

Kebanyakan orang datang ke tempat suci untuk mendapatkan cahaya. Tidak salah. Namun seperti air sumur yang diambil terus, kalau semua orang datang ke tempat suci untuk mengambil cahaya, persoalan waktu cahaya yang ada di sana akan redup. Untuk itulah, diperlukan jiwa-jiwa indah yang datang ke tempat suci untuk berbagi cahaya. Berikut tiga jenis doa yang bisa membuat jiwa-jiwa indah bisa berbagi cahaya.

1. Bersyukur dan bertrimakasih. Datanglah ke tempat suci dengan hati yang penuh dengan rasa syukur. Syukuri apa saja yang sudah Anda miliki. Entah kesehatan tubuh, keluarga yang sedang bertumbuh. Kurangi menoleh ke atas, belajar memilih pembanding ke bawah. Di puncak rasa syukur, lantumkan doa ini berulang-ulang ke 11 arah mata angin: “terimakasih, terimakasih, terimakasih…”

2. Doakan agar semua mahluk berbahagia. Di mana-mana angka bunuh diri, penghuni rumah sakit jiwa, korban Aids/Hiv, korban narkoba, angka perceraian, kekerasan, semuanya serba meningkat. Sebagaimana kegelapan yang merindukan datangnya cahaya, dunia yang semakin menyentuh ini sedang mengundang jiwa-jiwa indah seperti Anda untuk berdoa dengan tulus dan halus. Awali doa dengan membayangkan penderitaan alam samsara yang mudah mengundang air mata. Dari rumah sakit jiwa, rumah sakit yang penuh dengan manusia menderita, panti jompo, panti asuhan. Begitu di dalam terasa tersentuh, apa lagi meneteskan air mata, di sana lantumkan doa indah: “semoga semua mahluk berbahagia”.

3. Mengambil penderitaan (tonglen). Bagi sahabat yang jiwanya sudah dewasa, apa lagi bercahaya, datanglah ke tempat suci untuk mengambil penderitaan alam bawah di sana. Visualisasikan kesedihan binatang yang dibunuh, mahluk setan yang kelaparan, alam neraka yang panas dan ganas. Begitu gambarnya jelas, saat menarik nafas bayangkan Anda mengambil asap hitam dari setiap pori-pori tubuh Anda. Tatkala menghembuskan nafas, bayangkan cahaya putih memancar indah keluar dari setiap pori-pori tubuh Anda. Jika Anda memerlukan mantra, lafalkan Maha Karuna (belas kasih yang Agung) saat nafas masuk, ucapkan kata Maha Metta (cinta kasih yang Agung) saat nafas keluar. Ingat jiwa-jiwa yang indah, the best measurement of love is to love without any measurement (ukuran terindah cinta adalah mencintai tanpa pernah mengukurnya)

Penulis: Guru Gede Prama.
Photo Courtesy: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.