Compassion Spiritualitas

Tiga Jembatan Menuju Keterhubungan

Ditulis oleh Gede Prama

Keterhubungan spiritual adalah akar semua kesembuhan, demikian bunyi sebuah
pesan tua. Sebagaimana terlihat di sesi meditasi, setiap kali berjumpa
sahabat yang sakit begini sakit begitu, terlihat sekali aura jiwa yang gagal
terhubung. Untuk membantu para sahabat pencari, berikut tiga jembatan menuju
keterhubungan.

1. Kurangi protes dan mengeluh. Protes dan keluhan adalah tembok tinggi dan
besar yang membuat seseorang terpisah dengan realita yang Agung. Itu
sebabnya, agama-agama menekankan pentingnya keikhlasan dan kepasrahan.
Terutama agar tembok tinggi dan besar ini roboh. Keakuan dan ego adalah
penghalang menentukan dalam hal ini. Yang disarankan, menjaga jangan sampai
keakuan bertumbuh besar melalui praktik-praktik keseharian seperti menyapu,
mengepel, memungut sampah. Ingat, sehebat apa pun sebutan orang, semua akan
ditelan hilang oleh sang waktu.

2. Belajar menyatu dengan setiap kekinian. Apa pun panggilan kekinian Anda,
dari bekerja hingga berkeluarga, selalu lakukan dengan penuh senyuman. Bukan
senyuman sebagai bibir yang melengkung, tapi senyuman yang menandakan kalau
seseorang bukan lagi korban, melainkan tuan. Ia yang sudah menjadi tuan bagi
hidupnya, mirip dengan seseorang yang memegang remote controle televisi. Ia
bisa memilih saluran apa saja dalam kehidupan. Termasuk bisa memilih untuk
mematikan televisi (baca: tidak terlalu diseret oleh kehidupan duniawi yang
lari ke sana ke mari).

3. Bertrimakasih dan bersyukur. Siapa saja yang sudah terbiasa lama memegang
remote controle kehidupan, mencoba saluran ini dan itu, termasuk lama
menjauh dari hiruk pikuk kehidupan duniawi, di sana ia mengerti dalamnya
makna kata terimakasih. Lebih-lebih kata trimakasih yang diucapkan oleh hati
yang bersyukur, getarannya, vibrasinya jauh berbeda. Bagi jiwa-jiwa yang
terhubung sempurna seperti ini, surga dan neraka tidak lagi serangkaian
tempat. Ia adalah hasil dari serangkaian sikap. Dengan sikap yang indah,
seluruh permukaan bumi penuh dengan senyuman indah.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.