Compassion Spiritualitas

Tiga Sumber Kejatuhan Spiritual

Ditulis oleh Gede Prama

Dengan sedih harus diakui, di zaman ini ada banyak tokoh spiritual yang
mengalami kejatuhan menyedihkan. Sebelum cerita sedih yang sama mengunjungi
diri Anda, sebaiknya dikenali sejak awal hal-hal yang membuat seseorang
mengalami kejatuhan. Ada sumber kejatuhan yang mudah dilihat oleh mata orang
biasa, dari membunuh, mencuri, selingkuh, berbohong, sampai mengkonsumsi
hal-hal yang mengganggu kesadaran seperti alkohol dan narkoba. Tapi yang
sangat menonjol, di zaman ini banyak tokoh jatuh karena faktor seks dan
uang. Akan tetapi, ada faktor-faktor kejatuhan spiritual yang lebih halus,
yang kalau menumpuk dalam waktu lama, bisa tiba-tiba membuat seseorang masuk
jurang. Yang lebih halus inilah yang lebih layak diwaspadai.

1. Memuji diri sendiri dan mengecilkan orang lain. Entah siapa yang memulai,
pembicaraan di ruang publik atau di pertemuan keluarga, banyak yang ditandai
oleh kecenderungan untuk meninggikan diri sendiri serta merendahkan orang
lain. Jika ini dilakukan terus menerus selama puluhan tahun, ia seperti
meminum racun dengan kadar yang ringan. Begitu menumpuk banyak di dalam,
seseorang tiba-tiba saja menyadari dirinya sudah di jurang.

2. Menolak memaafkan orang lain. Dalam kadar yang berbeda, kita semua pernah
melakukan kesalahan. Sebagai bahan renungan Sang Rama memanah kaki Subali
ketika beliau masih kecil, Pangeran Siddharta lari meninggalkan istri dan
ayahandanya tatkala berumur 29. Kalau Avatara dan Buddha saja memerlukan
kesalahan sebagai ruang bertumbuh di saat muda, apa lagi kita orang biasa.
Siapa saja yang menyimpan dendam selama bertahun-tahun, kendati diam, tetap
saja ia menyimpan racun kejatuhan di dalam. Ada ungkapan tua yang layak
diendapkan dalam hal ini: “orang yang pendendam dan pemarah, ia yang minum
racun tapi berdoa agar orang lain yang mati”.

3. Pelit dengan harta dan ajaran suci. Orang-orang yang pelit sesungguhnya
sangat melekat dengan apa-apa yang dimiliki. Kemelekatan ini akan menjadi
akar penderitaan mendalam, terutama di saat kematian. Lebih dalam dari itu,
orang pelit senantiasa berrumah di rumah kecil yang bernama diri sendiri.
Mereka tidak pernah mencoba memasuki rumah yang lebih agung. Karena rumahnya
hanya rumah kecil, suatu hari kalau rumah itu runtuh, tidak ada yang tersisa
kecuali kejatuhan yang penuh penderitaan. Oleh karena itu, sesedikit apa pun
barang atau ajaran yang Anda miliki, belajar membagikannya. Ia semacam
parasut emas yang bisa menolong Anda kalau terjadi kejatuhan.

.. bellofpeace.org belkedamaian.org

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.