Compassion

Tiga Lotus Yang Mekar Indah Di Dalam

Ditulis oleh Gede Prama

Dalam pilosofi Timur, bunga lotus adalah lambang pencerahan. Di lumpur tapi tidak kotor, di air tapi tidak basah. Alam samsara ini memang penuh lumpur penderitaan, tapi mahluk tercerahkan mekar indah di sana seperti bunga lotus. Berikut 3 lotus yang mekar indah di dalam setelah seseorang tercerahkan.

1. Penderitaan adalah bel suci yang memanggil pulang. Di zaman ini, nyaris semua jiwa dipanggil pulang melalui penderitaan. Penderitaanlah yang membuat seseorang mencari buku suci dan Guru suci. Seperti amplas yang menghaluskan, serupa matahari yang membuat bunga mekar, seperti itulah wajah penderitaan di mata mahluk tercerahkan.

2. Keikhlasan dalam tindakan adalah buku suci tanpa huruf. Siapa saja yang bisa tulus ikhlas di depan penderitaan, tidak melawan tidak menendang, ia sedang membadankan buku suci tingkat tinggi di dalam diri. Sejenis buku suci tanpa huruf, tanpa kata-kata, tapi sangat menyembuhkan, sekaligus membimbing jiwa pulang secara sangat meyakinkan.

3. Kasih sayang sebagai lentera penerang. Sebagaimana di setiap lautan selalu tumbuh ikan, di setiap ladang tumbuh pepohonan, di setiap jiwa yang tulus dan ikhlas akan mekar bunga indah kasih sayang. Bukan kasih sayang yang menakuti neraka serta merindukan surga, tapi kasih sayang sebagai rumah indahnya jiwa.

.. bellofpeace.org belkedamaian.org

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar