Compassion

Tiga Pancuran Indah Di Dalam

Ditulis oleh Gede Prama

Bagi jiwa yang kaya rasa, di balik pancuran indah selalu tersembunyi kesejukan-kesejukan yang indah. Tidak saja suara gemericik air yang bikin suasana jadi indah, tapi aura kelembutan dan kesejukan juga membuat semuanya terasa indah. Dan bagi pencari ke dalam diri yang diberkati, di dalam pun ada 3 pancuran indah.

1. Pikiran yang terbuka. Seperti parasut yang terbuka, yang membuat seseorang bisa terbang indah, pikiran yang terbuka juga serupa. Ia membuat seseorang memiliki jiwa yang terbang indah. Ciri pikiran jenis ini, ia jauh dari penghakiman, kaya dengan pengertian.

2. Melihat hal-hal yang sama diantara kita. Apa pun agama seseorang, apa pun ras seseorang, semua manusia ingin bahagia, serta tidak ingin menderita. Meminjam sebuah pesan tua, jangan pernah meminta orang lain melakukan sesuatu yang Anda sendiri tidak bisa lakukan.

3. Kehidupan sebagai jejaring yang menghubungkan. Di jejaring kehidupan, apa pun yang dilakukan akan kembali pada yang bersangkutan. Ia yang rajin berbagi senyuman akan mendapat senyuman, ia yang tekun berbagi cahaya akan mendapatkan cahaya.

Photo Courtesy: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar