Compassion Spiritualitas

Tiga Pohon Sejuknya Keluarga

Ditulis oleh Gede Prama

Di tengah cuaca yang panas, burung-burung memerlukan tempat berteduh. Di
tengah kekerasan yang meningkat di mana-mana, jiwa memerlukan pohon yang
sejuk dan teduh. Dan di zaman ini, pohon sejuknya jiwa adalah keluarga.
Berikut tiga langkah agar keluarga menjadi pohon sejuknya jiwa.

1. Kurangi bertengkar. Sudah lewat masanya di mana orang membawa sampah dan
sumpah ke rumah. Agar keluarga sejuk, yakinlah sebelum masuk ke rumah sampah
dan sumpah sudah diolah menjadi bunga indah. Caranya, lihat semuanya dari
segi-segi positif. Sebagaimana sampah sedang berevolusi menjadi bunga indah,
masalah sedang berevolusi menjadi berkah.

2. Mendengarkan secara bergantian. Salah satu air yang menyejukkan jiwa di
zaman ini adalah mendengarkan. Lebih-lebih mendengarkan secara penuh
pengertian. Ia membuat keluarga jadi sejuk. Untuk itu, latih diri dan
anggota keluarga agar bisa mendengarkan secara bergantian. Tidak saja mulut
yang dibebaskan dari suara saat mendengarkan, pikiran juga dibebaskan dari
penghakiman.

3. Mengolah semuanya menjadi sang jalan. Daun kering yang jatuh pun membawa
pesan, apa lagi kejadian di dalam keluarga. Di tangan tukang taman, daun
kering diolah menjadi bunga indah. Di tangan jiwa-jiwa yang dalam, persoalan
dalam keluarga diolah menjadi sang jalan. Memaafkan kesalahan adalah sahabat
terdekat dalam hal ini. Kasih sayang adalah lentera di sepanjang perjalanan.

.. bellofpeace.org belkedamaian.org

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.