Compassion

Tiga Bel Suci Di Dalam

Ditulis oleh Gede Prama

Seperti seorang Ibu yang memanggil anak-anaknya agar segera pulang, begitu
juga dengan sang Cahaya. Ia sering memanggil jiwa-jiwa yang resah dan
gelisah khususnya untuk segera pulang ke rumah Cahaya. Berikut 3 bel suci
yang memanggil jiwa-jiwa agar pulang.

1. Penderitaan. Nyaris semua jiwa-jiwa yang sudah pulang awalnya dipanggil
melalui penderitaan. Entah terkena penyakit ganas, ditinggal wafat oleh
orang dekat, atau keluarga yang runtuh oleh perceraian dan perselingkuhan.
Namun jika orang biasa dibikin roboh oleh penderitaan, jiwa-jiwa bercahaya
dibikin kokoh oleh penderitaan. Terutama karena berhasil menggunakan
penderitaan sebagai batu lompatan untuk pulang.

2. Kesadaran. Dibimbing oleh penderitaan mendalam, jiwa-jiwa becahaya
kemudian mencoba menemukan permata bercahaya di dalam. Dan ternyata permata
bercahaya itu bernama kesadaran penuh. Apa saja tamu kehidupan – sedih atau
senang – sadari sifat alaminya yang muncul-lenyap. Sadari sifat semuanya
yang berpasang-pasangan. Duka pasangannya suka. Cacian pasangannya pujian.

3. Kesempurnaan. Siapa saja yang praktik kesadaran penuhnya sudah mendalam,
suatu hari akan diberkahi kehidupan yang bermandikan senyuman. Setiap berkah
kekinian dimandikan dengan air senyuman. Terutama karena sudah mengalami –
bukan hanya mengerti – ternyata semuanya adalah senyuman kesempurnaan yang
sama.

.. bellofpeace.org belkedamaian.org

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar