Compassion

Bali My Love…

Ditulis oleh Gede Prama

Salah seorang cucu kaisar Jepang membuka rahasia, kapan saja ada bencana alam di sana, kaisar akan masuk ke ruang doa berhari-hari minta maaf, minta maaf dan minta maaf. Karena bencana alam adalah pantulan dari hati kaisar yang tidak sepenuhnya bersih.

Kamis sore ini, situs detik melaporkan, aparat keamanan menyita 100 detonator serta 25 kg bahan peledak yang mau diledakkan di pulau Bali. Sedih tentu saja. Dan belajar dari keteladanan kaisar Jepang, inilah saatnya untuk melihat kembali taman jiwa di dalam.

Jika rumahnya kotor, jangan pernah menyalahkan lalat yang datang. Jika kita di dalam banyak melakukan kekerasan, jangan pernah menyalahkan jika ada pihak luar yang tertarik melakukan kekerasan di tempat kita. Untuk itu, dibandingkan membenci orang luar, lebih baik memperindah taman jiwa di dalam.

Di saat-saat genting seperti ini, ada gempa, ada orang luar yang mau meledakkan bom, saling menyalahkan tentu saja tidak menyejukkan. Yang diperlukan adalah ketekunan untuk kembali ke identitas Bali yang asli. Sulit memungkiri, diantara semua identitas tentang Bali, yang paling menonjol adalah keindahan.

Jangankan tempat suci, sawah pun ditata indah. Jangankan upacara yang dipersembahkan ke Tuhan, kayu lapuk yang hanyut di kali pun dibikin indah. Ajakannya ke para sahabat di Bali, tunjukkan dengan sikap, bahwa kita bisa berespon indah di tengah masalah.

Tidak menjawab kekerasan dengan kekerasan, itu respon indah yang pertama. Tidak berpikir buruk tentang agama dan kelompok lain, itu respon indah ke dua. Bisa mengolah masalah menjadi bunga indah, itu respon ketiga sekaligus yang terindah.

Maksud mengolah masalah jadi bunga indah sederhana, tunjukkan ke dunia, bahwa yang indah di Bali tidak saja pemandangan alamnya, tapi juga manusianya. Dan catatan keteladanan yang datang dari masa lalu ada berlimpah.

Di tahun 1998 tatkala Jakarta rusuh, tempat yang dianggap aman dan nyaman di Indonesia ketika itu salah satunya Bali. Jika bom teroris di AS diikuti olah tembakan tidak sedikit peluru di Afganistan dan Irak, di Bali tidak ada satu batu kecil pun yang dilemparkan ke rumah bukan orang Bali.

Seorang wanita Amerika mencari jawaban ke seluruh dunia, kemudian sampai pada kesimpulan menyentuh seperti ini: “Makanan enak ditemukan di Italia, doa indah terdengar di India, tapi cinta yang menyentuh hanya ditemukan di pulau Bali”. Inilah yang membuat tulisan ini diberi judul “Bali My Love”.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo by Christine Wehrmeier on Unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.