Compassion

Pemimpin di dalam diri

Ditulis oleh Gede Prama

“Kapan saja di luar tidak terlihat ada pemimpin, segera temukan di dalam seorang pemimpin”, begitu pesan yang terdengar di Ashram. Krisis panjang ini memang menguras energi nyaris seluruh umat manusia. Sebagaimana sering terjadi, ketika putaran waktu demikian keruh, jarang ada orang yang bisa jernih. Untuk itu, mari mewartakan kejernihan.

Salah satu ilmuwan dunia yang jernih sejak awal memandang krisis ini adalah pakar biologi sel Dr. Bruce Lipton. Penulis buku The biology of belief ini sejak awal sampai hari ini tetap mewartakan, virus corona tentu bahaya, tapi stres kolektif umat manusia jauh lebih berbahaya. Stres berlebihan bisa membuat sistim kekebalan tubuh berhenti bekerja, ujungnya umat manusia bisa bahaya.

Di youtube ada situs LockdownTV, salah satu tokoh yang diwawancarai adalah pemenang hadiah nobel di bidang kimia sekaligus Guru besar dari Stanford yang bernama Prof. Michael Levitt, ilmuwan yang berumur tua ini jelas-jelas menyebutkan: “Lockdown is a huge mistake” (lock down adalah kesalahan besar). Secara lebih rinci beliau menyebutkan: “Ongkos sosial, ongkos mental, ongkos ekonomi lock down besar sekali. Jauh lebih besar dari jumlah manusia yang mungkin wafat karena corona”.

Swedia adalah cerita indah. Negara yang tidak melakukan lock down berlebihan. Serta melakukan social distancing secara sangat terbatas. Kendati sejumlah pemimpin dunia menuduh Swedia dengan sebutan miring, tidak sedikit warga Swedia secara volunteer mewartakan pada dunia: “Kami tidak menyebutkan menteri kesehatan kami lebih baik, tapi kami percaya penuh dan yakin dengan langkah yang diambil pemerintah. Sebagai informasi, di Swedia angka korupsi nyaris nol”.

Dengan bekal informasi ini, jangan pernah menggunakan informasi ini untuk mengkritik pemerintah. Jangan pernah. Apa lagi di Bali, itu Guru wisesa. Salah satu perwujudan Guru. Gunakan informasi ini untuk membuat pikiran jadi damai, membuat hati jadi indah. Kombinasi antara pikiran yang damai, dengan hati yang indah, itulah wujud nyata dari pemimpin di dalam diri. Dibekali pikiran yang damai, serta hati yang indah, mari merenungkan beberapa hal berikut ini.

  1. Waspadai berita palsu di luar yang bersekongkol dengan berita palsu di dalam (baca: ketakutan dan kepanikan berlebihan)
  2. Selektiflah dalam menonton berita. Setiap mendengar berita, bekali diri dengan keyakinan kuat: “Semuanya akan baik-baik saja”
  3. Keyakinan adalah Cahaya yang masih menyala di dalam ketika semua Cahaya telah padam
  4. Dalam keseharian selalu jumpai titik pusat kebahagiaan yang ketiga di dalam: “Menyatu dengan setiap kekinian”
  5. Kuncinya, lakukan yang terbaik, ikhlaskan hasilnya. Percakapkanlah di dalam hanya hal-hal indah
  6. Dengan bekal ini, selamatkan orang tua dan anak-anak di lingkungan dekat. Mereka memerlukan uluran tangan kita
  7. Orang tua di atas umur 70 tahun yang paling memerlukan social distancing. Minta mereka berjarak secara sehat dengan lingkungan
  8. Anak-anak sebaliknya. Mereka memerlukan lingkungan sosial tempat bertumbuh. Dari bermain sampai bernyanyi bersama teman mereka
  9. Minta anak-anak bermain social media secukupnya saja. Jurnal Psychology Today telah lama mewartakan: “Medsos adalah jalan tol menuju sakit mental”
  10. Ingatkan diri lagi dan lagi, ketika kita menyelamatkan mahluk di sekitar kita, kita sedang mempercantik perjalanan jiwa kita sendiri
  11. Agar selalu menjadi pemimpin di dalam diri, teruslah nyalakan lentera senyuman di sepanjang perjalanan. Tersenyum ke luar sekaligus ke dalam.

Selamat bertugas para sahabat dekat. Dunia yang menyentuh ini sedang memerlukan uluran tangan kita. Dan untuk itulah kita semua ada di sini.

Pusat pelayanan pencegahan bunuh diri (P3B) keluarga Compassion: 0361 845 5555

Agar para sahabat sehat selamat, ini alamat tautan (link) “Buku Suci” keluarga Compassion https://play.google.com/store/books/details?id=BMXgDwAAQBAJ

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Twitter

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.