Compassion

Bad Weather Makes Good Timber

Ditulis oleh Gede Prama

Pohon tua dan kokoh yang tidak pernah melewati badai heboh tidak ada. Demikian juga dengan jiwa-jiwa yang kokoh. Tidak ada yang tidak pernah melewati putaran waktu yang heboh. Sekali lagi tidak ada. Psikolog kondang Carl G. Jung bahkan secara eksplisit menyebutkan, semua jiwa-jiwa suci melewati malam-malam gelap bagi sang jiwa. Semakin gelap dan pekat malam-malam yang dilewati, semakin terang Cahaya jiwa yang bersangkutan. Penyair besar Jalalludin Rumi cahayanya sangat mengagumkan karena pernah mengalami kesedihan mendalam karena kehilangan Guru. Seniman besar Kahlil Gibran menulis mahakarya Sang Nabi (The Prophet) ketika beliau sedang patah hati. Salah satu pahlawan dunia usaha di AS bernama Lee Iacocca, beliau pernah dijatuhkan dari kursi kekuasaan yang tertinggi. Neale Donald Walsch adalah salah satu Guru spiritual terkenal di dunia melalui bukunya “Conversation with God”, beliau juga pernah mengalami kehidupan yang sangat gelap. Bahkan pernah tidak bisa makan, sampai mengais makanan di tong sampah.

Spirit dan semangat seperti ini sangat layak untuk disebarkan di putaran waktu ketika zaman sedang sangat heboh. Dari ekonomi yang bertumbuh tertinggi di sepanjang sejarah di tahun 2019, tiba-tiba menjadi ekonomi yang tumbuh terrendah di sepanjang sejarah di tahun 2020. Ia mengakibatkan miliaran manusia kehilangan pekerjaan. Tidak terhitung pengusaha dan perusahaan yang berdarah-darah. Belum lagi korban panjang virus corona, ditambah dengan konflik dan ketidakpastian yang dihadirkan di mana-mana. Tapi jangan khawatir, lotus indah muncul dari lumpur yang kotor. Jiwa-jiwa yang indah semuanya, sekali lagi semuanya, lahir di putaran waktu yang penuh musibah. Ringkasnya, berbaik hatilah pada kegelapan. Ia tidak lahir untuk menyerang. Kegelapan lahir untuk membuat Cahaya memancar semakin terang.

Malaikat cantik di dalam

Agar para sahabat memiliki seluruh kelenturan dan daya tahan untuk menjadi kokoh di zaman yang heboh, layak direnungkan untuk segera menghentikan segala bentuk kebocoran energi di dalam. Tidak sedikit peneliti energi yang menyimpulkan, kebocoran energi dalam tubuh manusia paling banyak terjadi melalui pikiran negatif yang penuh dengan kritik dan konflik. Di zaman ini, ia terjadi karena perjumpaan dua kepalsuan. Berita palsu di luar (hoax) bersekongkol dengan berita palsu di dalam (baca: ketakutan dan kepanikan). Agar energi yang bocor tertutup rapat, cepat rapikan berita palsu di dalam. Para sahabat tidak bisa menghentikan hoax di luar. Tapi Anda bisa menghentikan ketakutan dan kepanikan di dalam. Sahabat yang belajar psikologi mengerti, ketakutan dan kepanikan masuk dalam kelompok learned behaviour. Perilaku yang dipelajari dari orang luar. Bukan sesuatu yang secara alami ada di dalam. Dengan kata lain, ia mungkin dan bisa disembuhkan.

Meminjam temuan para sahabat di epigenetics, di mana gen di dalam bisa diubah dengan mengubah lingkungan, persisnya mengubah persepsi terhadap lingkungan, ketakutan dan kepanikan juga bisa diubah dengan mengubah persepsi terhadap lingkungan. Penemu bom pasti tidak membayangkan sebelumnya bahwa bom temuannya akan digunakan oleh teroris untuk membunuh banyak orang. Dengan cara yang sama, penemu artificial intelligence (kecerdasan buatan) pasti tidak membayangkan, bahwa temuannya akan membuat dunia jadi sekacau ini. Miliran manusia tiarap di rumah, miliaran manusia diteror ketakutan melalui media sosial khususnya. Tapi jangan berkecil hati, cahaya matahari panas memang membuat sebagian rumput jadi kering. Namun pada saat yang sama, cahaya matahari panas yang sama membuat banyak bunga mekar sangat indah. Tugas spiritualnya kemudian, bagaimana cuaca panas kehidupan tidak membuat para sahabat menjadi rumput kering. Sebaliknya menjadi bunga yang mekar sangat indah.

Karena semua yang ada di alam ini adalah energi, langkah pertama dan paling utama dalam hal ini adalah menghentikan kebocoran energi melalui pikiran. Salah satu pendekatan indah yang tersedia, mari berevolusi dari hard rock logic (logika batu) menjadi water logic (logika air). Perhatikan para pelaku kekerasan sejak dulu hingga kini, hampir semuanya mengenakan logika batu yang kaku: “Saya benar orang salah. Agama saya betul, agama orang keliru. Bangsa saya benar, bangsa orang lain salah”. Sebagaimana batu yang rawan berbenturan, logika batu juga sering berbenturan, kemudian diakhiri dengan kebocoran energi yang parah. Dari sinilah lahir tubuh yang sakit, mental yang tidak seimbang, jiwa yang bermasalah. Sekarang perhatikan orang bijaksana yang menjadi sumber Cahaya. Semuanya memiliki logika air yang lentur dan lembut. Ajakannya untuk para sahabat, mari menghentikan kebocoran energi melalui pikiran dengan cara belajar logika air yang lembut dan luwes. Ringkasnya, kebenaran tidak saja ada di kelompok kita, tapi juga mungkin ada di kelompok lain. Filsuf Richard Rorty dalam “Philosophy and the mirror of nature” secara eksplisit menyebutkan, kebenaran mirip kaca cermin yang telah pecah berserakan di mana-mana. Tugas kita adalah merangkainya kembali. Intinya, pikiran yang luwes dan lentur, itulah malaikat cantik di dalam.

Merawat yatim piatu di dalam diri

Penulis buku indah Matt Licata Ph.D dalam buku “A healing space: Befriending ourselves in difficult time” memperkenalkan istilah menyentuh yakni yatim piatu di dalam diri. Maksudnya, dalam kadar yang berbeda kita semua memiliki bagian-bagian diri yang ditolak. Ia bisa keadaan tanpa orang tua sejak kecil, bisa pengalaman traumatik berupa pelecehan seksual ketika masih kecil. Bisa juga rasa berdosa yang terus mengejar karena kesalahan besar yang dilakukan di masa lalu, sampai dengan kekurangan di dalam diri yang terus menerus mau dikubur dan disembunyikan. Jika tidak disembuhkan, ia membuat seseorang menjadi tidak lentur di tengah bantingan zaman. Atau bahkan bisa melahirkan tidak terhitung penderitaan dalam hidup seseorang. Termasuk bisa terkena penyakit kronis.

Untuk membantu para sahabat agar sehat selamat, sekaligus menjadi jiwa kokoh di tengah zaman yang heboh, pertama-tama penting sekali menyadari bahwa ada yatim piatu di dalam diri (baca: bagian diri yang ditolak). Kemudian pelan perlahan hadirkan energi penerimaan pada yatim piatu di dalam diri. Bekali diri dengan pandangan yang lebih sehat, kekurangan dan ketidaksempurnaan adalah jalan menuju kedewasaan. Bukan bagian dari hukuman. Untuk memberi energi penyemangat, bahkan jiwa-jiwa suci pun melakukan kesalahan di awal, sebagai bagian dari jalan panjang menuju kedewasaan. Sang Rama memanah kaki Subali ketika masih kecil. Pangeran Siddharta yang belakangan menjadi Buddha mengecewakan ayahandanya di umur 29 tahun. Yatim piatu di dalam diri cengkramannya pelan perlahan akan melonggar, begitu ia diterima sebagai bagian dari diri yang utuh. Seperti alam yang menerima malam-siang secara utuh, belajar menerima yatim piatu di dalam diri. Ia bukan musuh yang mesti dimusnahkan, tapi kawan dekat di jalan pertumbuhan.

Matt Licata punya saran indah: “Dekap yatim piatu di dalam diri, pada saat yang sama izinkan kekuatan yang lebih besar dari diri kita menerangi di dalam”. Bagi penyembah Tuhan, kekuatan lebih besar ini bernama Tuhan. Bagi murid di jalan meditasi, ia bernama mindfulness (kesadaran penuh). Bagi pencinta keheningan, kekuaran lebih besar ini bernama keheningan. Begitu yatim piatu di dalam diri didekap, pada saat yang sama Cahaya yang lebih besar dari diri kita diizinkan menerangi di dalam, di sana seseorang bisa menjadi the inner alchemist (alkimia di dalam diri). Di mana pelan perlahan logam mengkarat di dalam, berubah menjadi emas indah kesembuhan dan kedamaian.

Intisari pelajarannya, yatim piatu di dalam diri jangan ditolak. Hindari memberi ia judul tidak bersahabat seperti dosa dan neraka. Pada saat yang sama, belajar menjadi sahabat yang mendekap. Bahasa psikologinya, belajar berbelaskasih pada diri sendiri (self-compassion). Sebelum bisa berbuat baik pada orang lain, berbaik hatilah pada yatim piatu di dalam diri. Anehnya, ketika ia didekap dengan spirit ke-u-Tuhan, pelan perlahan yatim piatu di dalam diri menjadi kekuatan yang semakin kecil. Sampai suatu hari ia hilang sambil membuka pintu kesembuhan dan kedamaian. Inilah persisnya yang disebut the inner alchemsits.

Otak yang kedua

Salah satu ciri penting pelaku kekerasan sejak dulu yang hidupnya heboh dan roboh, nyaris semuanya bergantung sepenuhnya pada otak yang ada di kepala. Khususnya otak kiri yang rasional, sistimatis, serta cenderung kaku. Buktinya ada banyak. Tapi tidak elok bercerita buruk tentang kecelakaan hidup orang lain. Tidak elok. Lebih baik belajar mengimbangi otak pertama yang ada di kepala dengan otak kedua yang ada di hati. Jika otak pertama bahasanya kepintaran, otak kedua bahasanya kebaikan. Bila otak pertama suka membangun tembok pemisah dengan orang-orang berbeda, otak kedua bahagia membangun jembatan penghubung dengan pihak lain. Manakala otak pertama (otak kiri) kaya dengan logika, otak kedua kaya dengan rasa. Begitulah keduanya saling mengimbangi. Kecelakaan kehidupan sering terjadi karena seseorang hanya bergantung pada otak pertama. Menghina otak kedua.

Agar para sahabat dibikin kokoh oleh zaman yang heboh, mari belajar mengimbangi otak pertama dengan otak kedua. Dalam studi tentang otak sering terdengar, otak yang kaya logika (logical brain) baru berumur tidak sampai dua ribu tahun. Otak yang kaya rasa (emotional brain) berumur jauh lebih dari dua ribu tahun. Yang paling tua, berumur ratusan ribu tahun lebih adalah instinctive brain (naluri, intuisi, kepekaan, rasa). Di tengah zaman yang dibikin heboh oleh serang menyerang menggunakan logika, tidak ada salahnya memperlajari ulang otak yang berumur jauh lebih tua. Di bidang kajian psikologi yang mendalami intuisi, ada beberapa sumber pengetahuan yang layak dibaca dalam hal ini. Dari kearifan yang disimpan di dalam tubuh, mendengarkan tanda-tanda yang dikirim oleh binatang, peka dengan apa yang terjadi di dunia tetumbuhan, sampai dengan ilmu astrobiology yang memadukan astronomi dengan biologi.

Sebagai orang yang tidak lagi muda, Guruji mengalami sejak kecil dengan frekuensi yang cukup sering, setiap kali ada bahaya akan datang, ada gerakan-gerakan unik di sekitar bahu kanan. Dikatakan unik, karena gerakannya sulit diungkapkan dengan bahasa manusia. Lidah mana pun akan mengalami kesulitan untuk menjelaskannya. Setelah sering diselamatkan oleh tanda unik di bahu kanan ini, ada rasa ingin tahu yang sangat dalam untuk mencari jawaban tentang apa sebenarnya yang ada di balik gerakan unik di bahu kiri sebelum bahaya datang. Belakangan sebuah buku suci tua membuka rahasia seperti ini: “Tatkala malaikat penyelamat (guardian angel) datang mau memberi tanda bahaya, di sana ia akan hadir melalui gerakan unik di bahu sebelah kanan”. Itulah persisnya salah satu contoh kearifan yang disimpan di dalam tubuh (wisdom of the body). Lucid dreaming (mimpi yang terang benderang), synchronicity (kebetulan-kebetulan yang kaya akan pesan dan makna), orang melukai adalah sebagian tanda-tanda penting bagi ia yang tertarik mendalami kearifan yang disembunyikan di dalam tubuh (wisdom of the body).

Begitu memasuki wilayah terhubung dengan alam sekitar dengan cara membaca tanda-tanda tanaman, binatang, perbintangan, ilmu para Shaman (agama tertua di muka bumi) akan sangat membantu. Tidak ada standar dan pedoman baku dalam hal ini. Terkecuali kepekaan yang lahir dari pasangan keseimbangan dan keterhubungan. Tumbuhlah secara seimbang dalam arti yang seluas-luasnya, belajar terhubung dalam arti yang sedalam-dalamnya. Dari sana akan lahir kepekaan yang sangat menyelamatkan. Sebagaimana dialami oleh keluarga Compassion, banyak hal sangat berbahaya pernah terjadi, tapi kami selamat karena sangat peka membaca tanda-tanda. Agak sulit memasuki wilayah detail dalam hal ini. Salah-salah bisa dikira sakit mental. Terutama karena mengemukakan serangkaian hal yang tidak dilihat dan tidak dialami oleh banyak orang. Bahayanya dengan pengetahuan modern, manusia hanya terfokus pada hal-hal yang bisa dilihat dan dipegang.

Padahal banyak hal yang sangat penting dalam hidup, salah satunya energi, sulit dilihat dan sulit dipegang. Ringkasnya, agar bisa menjadi jiwa yang kokoh di zaman yang heboh, imbangi otak pertama dengan otak kedua. Kendati otak kedua termasuk wilayah yang belum banyak didalami para ilmuwan modern, tidak ada salahnya belajar sendiri. Salah satu manfaat langsung yang hadir di depan mata, para sahabat akan jauh lebih kreatif dan inovatif dalam berespon terhadap tantangan zaman. Pengandaiannya sederhana, zaman heboh mirip pelangi. Sedang otak pertama serupa kamera dengan film hitam-putih. Banyak hal yang tidak bisa ditangkap oleh otak yang berumur paling muda (baca: logika). Makanya di jalan spiritual mendalam telah lama diwariskan pesan seperti ini: “Logika tanpa rasa membuat kehidupan jadi kering, rasa tanpa logika membuat seseorang rawan disalah mengerti”.

***) Topik ini akan disampaikan secara live di jaringan social media keluarga Compassion (3 FB, 2 youtube, 2 Instagram, 1 twitter) pada malam menjelang Purnama minggu 29-11-2020 jam 18:18 waktu Bali. Guruji akan menyampaikannya dalam bahasa Inggris. Tulisan ini adalah ringkasan bahasa Indonesia yang dibuat untuk para sahabat yang kurang fasih berbahasa Inggris.

Photo courtesy: Twitter

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.