Compassion

Pengetahuan yang Menyelamatkan

Ditulis oleh Gede Prama

Penemu bom mungkin tidak mengira di awal bahwa temuannya akan mengakhiri nyawa banyak manusia. Demikian juga dengan penemu teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang sekarang sangat berpengaruh. Mungkin mereka tidak mengira, jika temuan mereka akan membuat bumi akan sekacau ini. Kehidupan di bumi bersama krisis pandemik menjadi sangat tidak pasti.

Belajar dari sini, hati-hati dengan pengetahuan. Ia bisa menjadi pedang yang mematikan, atau menjadi Cahaya yang menyelamatkan. Tergantung bagaimana manusia menggunakan pengetahuan. Jika pengetahuan digunakan untuk menyerang orang – apa lagi merendahkan agama orang, pengetahuan bisa membuka pintu bahaya dan petaka. Buktinya ada banyak.

Oleh karena itulah, banyak pihak menyarankan, jangan pernah menggunakan pengetahuan sebagai kaca mata untuk menemukan kekurangan orang di luar. Gunakan pengetahuan untuk mempercantik taman jiwa di dalam. Setiap kali pengetahuan berbagi Cahaya, gunakan Sang Cahaya untuk menerangi kegelapan di dalam. Bukan mempergelap kegelapan di luar.

Studi-studi tentang pelaku kekerasan di banyak agama bercerita, luka jiwa di masa kecil khususnya melahirkan banyak dendam dan kebencian di dalam. Dendam dan kebencian ini kemudian membimbing pelaku kekerasan hanya memilih ayat-ayat suci yang membenarkan amarah mereka. Ujungnya sudah terlihat, agama yang lahir sebagai sumber Cahaya malah menjadi sumber kegelapan.

Pesan bimbingannya, waspadai diri di dalam ketika membuka buka suci. Mata, otak dan organ tubuh manusia bukan cermin yang sepenuhnya bersih. Saat belajar, ia memilih. Itu sebabnya, di semua agama orang disarankan hening dan bening ketika membuka buku suci. Tetua Bali bahkan menyarankan untuk tidak membuka buku suci di hari turunnya pengetahuan Saraswati.

Tentu saja agar pikiran dan hati para sahabat hening dan bening. Mengumpulkan pengetahuan tentu baik. Melaksanakan pengetahuan dalam keseharian, itu lebih baik lagi. Mengizinkan pengetahuan melahirkan kesejukan dan kedamaian di dalam, itu yang paling baik. Ia tidak saja menyembuhkan jiwa di dalam, tapi juga menyembuhkan lingkungan sekitar.

Pedoman praktisnya untuk para sahabat, hidup seperti melukis. Lukisan jadi indah tidak saja karena tangan menambahkan warna baru di kertas jiwa, tapi juga berani menghapus sebagian warna yang telah digoreskan. Mengumpulkan pengetahuan di masa muda khususnya mirip dengan menambahkan warna-warni baru di kertas jiwa.

Tapi begitu bertumbuh dewasa, apa lagi menua, miliki keberanian untuk menghapus sebagian warna yang telah digoreskan. Memaafkan yang telah lewat, melupakan pengetahuan yang melahirkan amarah dan kebencian adalah sebagian langkah berani yang sebaiknya dilakukan di usia tua. Tanpa keberanian jenis ini, masa tua akan berat dan gelap.

Bisa dimaklumi jika masterpiece (maha karya) J. Krisnamurti berjudul “Freedom from the known”. Ada waktunya dalam hidup untuk belajar membebaskan diri dari apa-apa yang telah diketahui. Sehingga penghakiman dan kebencian menghilang. Yang tersisa kemudian hanya pikiran yang bersih dan jernih. Selamat hari raya turunnya ilmu pengetahuan Saraswati.

Pusat layanan gratis (tanpa bayar) keluarga spiritual Compassion:
P3A (Pusat Pelayanan Perawatan Anak berkebutuhan khusus)
P3B (Pusat Pelayanan Pencegahan Bunuh Diri)
P3C (Pusat Pelayanan Pencegahan Perceraian)
082335555644 (Telkomsel)
081999162555 (XL)
085857536536 (Indosat)

Photo by Mike Kienle on unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.