Compassion

Diselamatkan oleh bhakti pada Guru sejati

Ditulis oleh Gede Prama

Tantangan zaman ini memang sangat menyentuh hati. Bali yang lama menjadi Cahaya dunia sekarang harus merana karena minimnya wisatawan. Gedung putih di AS yang lama menjadi simbol demokrasi dunia harus menelan ludah karena diduduki secara paksa oleh ratusan demonstran. Korban covid juga menunjukkan tanda-tanda yang semakin menyentuh hati.

Tapi tidak perlu bersedih secara berlebihan, sering terjadi krisis gelap dan panjang membuka pintu Cahaya yang baru. Sejak zamannya filsuf Descartes, manusia memang lebih mengagungkan pengetahuan. Tapi setelah pengetahuan melahirkan bom atom yang mematikan, kecerdasan buatan yang mengacaukan, layak mengimbangi pengetahuan dengan bhakti.

Keduanya saling melengkapi. Bagian yang tidak bisa dimasuki melalui pengetahuan, bisa dimasuki melalui bhakti. Bagian yang tidak bisa dibuka oleh bhakti, bisa dibuka oleh pengetahuan. Agar langkah bhakti para sahabat mantap sekaligus menyelamatkan perjalanan jiwa, ada baiknya belajar dari bhakti bangsa Tibet pada Guru sejati bernama Lama Padmasambawa (Guru Rinpoche).

Di awal abad 8 raja Tibet mau mendirikan Vihara. Berapa kali pun Vihara dibangun, sejumlah itu juga Viharanya dihancurkan oleh kekuatan gelap di sana. Maka diundanglah Lama Padmasambawa untuk menyelamatkan bangsa Tibet. Dan bangsa Tibet ketika itu selamat karena bhakti rajanya sangat mengagumkan. Bahkan permaisurinya yang cantik pun dipersembahkan kepada Guru Rinpoche.

Di putaran waktu lain, terjadi debat panas dan membakar antara orang Buddhist dan non-Buddhist di Tibet. Di zaman itu, siapa yang kalah debat harus masuk menjadi penganut agama yang menang debat. Orang Buddhist tidak saja nyaris kalah debat, tapi juga nyawanya sangat terancam. Seketika itu juga dilantunkan doa sangat indah untuk Guru Rinpoche.

Karena yang melantunkan doa bhaktinya super mengagumkan, di langit muncul awan yang mirip Lama Padmasambawa. Kemudian beliau turun memimpin debat. Ujungnya tidak saja semua pihak selamat, debat dimenangkan oleh kaum Buddhist. Sehingga terpaksa penganut agama asli Bon masuk agama Buddha. Sekali lagi, itu kisah tentang kekuatan bhakti.

Di zaman kita sejumlah peneliti energi – salah satunya bernama Christie Marie Seldon – secara eksplisit menyebutkan bahwa vibrasi buku suci tua tinggal 55 %. Sebagian hilang karena berbagai faktor. Sehingga layak belajar menyelamatkan diri dengan cara berbakti pada Guru sejati yang masih hidup. Terutama karena Guru sejati yang masih hidup adalah buku suci yang berjalan.

Persisnya, buku suci yang cocok dengan bioritme alam sekarang. Sementara buku suci tua lahir ketika bioritme alam berputar tidak sepenuhnya sama dengan bioritme sekarang. Sebagai langkah-langkah penyelamatan untuk para sahabat – terutama karena alam memberi sejumlah tanda bahaya – berikut beberapa renungan soal berbakti pada Guru sejati yang masih hidup.

Pertama, dengan seluruh keterbatasan, segera temukan Guru sejati yang masih hidup. Yang cocok dan pas di hati. Di keluarga Compassion sering ada yang bertanya “siapa Guru hidup yang sejati di zaman ini?”. Semua dijawab seperti ini: “Di dunia binatang hanya lebah dan kupu-kupu indah yang bisa melihat keindahan bunga. Di dunia manusia hanya ia yang sejati yang bisa melihat Guru sejati”.

Dengan demikian, kembangkan kesejatian di dalam. Layani kehidupan setulus dan seikhlas mungkin. Nanti terlihat – entah melalui mimpi, entah menangis terharu, entah munculnya rasa hormat tanpa alasan dari dalam – siapa Guru sejatinya. Milarepa menggigil menangis sambil berlutut ketika pertama kali mendengar nama Gurunya Marpa. Padahal belum pernah dengar (ketemu) sama sekali.

Kedua, kembangkan rasa bhakti di dalam. Untuk publik pemula, kenali intisari ajarannya, kemudian laksanakan dengan tekun dalam keseharian, itu bentuk bhakti yang menyelamatkan. Tidak semua orang diberkahi dekat dengan Guru sejati. Terutama karena Guru sejati mirip matahari. Jika terlalu dekat bisa membakar, jika terlalu jauh, seseorang kekurangan vitamin D.

Untuk itu langkah ketiga, selalu pertahankan jarak yang tepat dan pas dengan Guru sejati. Tidak terlalu jauh, tidak terlalu dekat. Tanda bahwa jaraknya pas dan tepat sederhana, semakin hari rasa bhakti di dalam bertumbuh semakin baik. Rasa hormat terhadap Guru sejati terus menerus menaik. Sampai suatu hari bisa melihat, ternyata Guru sejati adalah Cahaya yang meminjam tubuh manusia.

Makanya di Tantra ada doa indah yang berbunyi seperti ini: “Terimakasih Guru, telah berkenan mengenakan tubuh manusia yang hina ini. Seandainya Guru tetap mengenakan tubuh Cahaya yang asli, kami umat manusia akan tumbuh dari satu kegelapan ke kegelapan yang lain”. Dengan demikian, konsentrasilah pada mendapatkan Cahaya pengertian dari Guru sejati.

Cahaya pengertiannya disembunyikan di intisari ajaran. Di keluarga Compassion, intisari ajarannya berbunyi seperti ini: “Banyak menolong, sesedikit mungkin menyakiti”. Gunakan intisari ini sebagai sosok Guru sejati yang mendampingi para sahabat di sepanjang perjalanan. Selebihnya, Guru sejati akan muncul dalam berbagai wajah yang sangat indah.

Sejumlah sahabat di keluarga Compassion bercerita didatangi Guru di alam mimpi. Serta diperciki Tirtha (air suci). Ada juga yang mengalami secara pribadi, Tirthanya memercik dalam bentuk Cahaya dari langit. Ada yang berwarna putih, ada yang berwarna kuning. Kadang Guru memberi tanda dalam bentuk gempa-gempa kecil yang tidak membahayakan. Kadang meminjam pelangi indah.

Pusat layanan gratis (tanpa bayar) keluarga spiritual Compassion:
P3A (Pusat Pelayanan Perawatan Anak berkebutuhan khusus)
P3B (Pusat Pelayanan Pencegahan Bunuh Diri)
P3C (Pusat Pelayanan Pencegahan Perceraian)
082335555644 (Telkomsel)
081999162555 (XL)
085857536536 (Indosat)

Photo by Sebastian Pena Lambarri on unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.