Compassion

Jiwa yang Seindah Pelangi

Ditulis oleh Gede Prama

Di buku suci tua orang Tibet (atap bumi) ditulis secara terang benderang, begitu ada jiwa yang tercerahkan, bumi akan menghormat melalui gempa kecil, langit akan menghormat melalui pelangi yang sangat indah. Pagi ini, setelah mempersiapkan bahan mengajar di hari pertama Compassion Day, ada berkah sangat indah di Ashram Avalokiteshvara tempat Guruji menetap selama 9 tahun terakhir.

Persis di atas kamar Guruji muncul double rainbow. Biasanya pelangi di Ashram tidak berhasil dipotret. Pagi ini unik, salah satu dari dua pelangi yang menutupi kamar Guruji di Ashram berhasil dipotret. Di kamar ini juga pernah terjadi beberapa kali gempa kecil ketika Guruji melakukan sleeping meditation (meditasi tidur). Ini diceritakan untuk memperkuat kualitas bhakti para sahabat dekat.

Menyegarkan ingatan sebelumnya, ajaran suci serupa cahaya matahari, penderitaan mirip daun kering. Bhakti mendalam pada Guru sejati adalah kaca pembesar yang diletakkan diantara keduanya. Anjurannya untuk para sahabat dekat, gunakan setiap simbol-simbol indah alam untuk mempercantik taman jiwa di dalam. Jangan pernah menggunakannya untuk merendahkan pihak lain.

Jangan pernah. Sahabat-sahabat dekal di keluarga Compassion berkali-kali disegarkan ingatannya, setiap penafsiran terhadap buku suci maupun simbol-simbol alam yang mengarah pada memperbesar kesombongan sebaiknya dihindari. Sebaliknya, gunakan pesan-pesan indah alam untuk membuat diri semakin rendah hati dan penuh harmoni. Kemudian sebarkan harmoni di dalam ke luar.

Setidaknya dengan cara selalu berpikir positif-holistik tentang orang lain. Lebih bagus lagi jika tidak ikut-ikutan memperpanjang daftar panjang kekerasan yang telah panjang. Yang paling bagus adalah menjadi tauladan indah di lingkungan masing-masing. Salah satu keluarga Compassion beberapa hari lalu bertanya: “Saya mimpi didatangi orang suci, beliau minta saya metembang”.

Untuk orang biasa (pemula), metembang tentu saja artinya menyanyikan lagu-lagu suci. Tapi bagi sahabat dekat Compassion yang telah dilayani selama bertahun-tahun – bahkan setiap hari tanpa mengenal hari libur – metembang artinya menjadi contoh (panutan) indah di lingkungan masing-masing. Di zaman ini, tidak cerai saja sudah bisa disebut menjadi panutan.

Lebih-lebih jika bisa mengantar anak-anak dan cucu menjadi anak (cucu) yang suputra bahasa Balinya. Soleh dan soleha dalam bahasa sahabat Muslim. Itu panutan yang lebih mengagumkan lagi. Makanya keluarga Compassion terus menerus diminta dan dirayu tanpa mengenal lelah, untuk mengingat tiga hal indah dalam hidup.

Pertama, perut yang tidak besar. Ia simbol pengendalian diri dan hawa nafsu. Kedua, emosi yang tidak mudah terbakar. Ia bercerita tentang keindahan taman jiwa di dalam. Ketiga, keluarga yang tidak bubar. Itu cermin paling jujur tentang prestasi spiritual di zaman ini. Ingat jiwa-jiwa yang indah, di siang hari lilin kecil tidak dibutuhkan. Tapi di malam yang gelap, ia sangat menyelamatkan.

Dengan cara yang sama, di putaran waktu yang terang benderang lilin kecil seperti kita mungkin tidak dibutuhkan. Tapi di zaman ketika semuanya serba gelap (ekonomi gelap, politik gelap, keteladanan gelap), lilin kecil seperti kita mungkin menjadi Cahaya indah yang bisa menyelamatkan. Tanda-tanda ke arah itu ada. Sehingga teruslah pertahankan tubuh yang merunduk rendah hati.

Keterangan foto: Pagi ini 28/2 2021 sehabis menyiapkan bahan mengajar di hari pertama pelayanan Compassion Day (hari belas kasih) yang bertepatan dengan hari ulang tahun Guruji, di atas kamar Guruji muncul double rainbow (pelangi ganda). Biasanya tidak bisa dipotret, pagi ini unik, diberkarhi untuk bisa dipotret. Kendati yang terlihat hanya salah satu dari dua pelangi.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.