Compassion

Membuka Lapisan-Lapisan Indah Tempat suci

Ditulis oleh Gede Prama

Ini bukan cerita buku suci, tapi pengalaman pribadi. Terutama karena umur tidak lagi muda, kedua pernah datang ke tidak sedikit tempat suci, termasuk pernah mengunjungi salah satu puncak Himalaya di negara bagian Ladakh India Utara, termasuk memasuki tempat suci beberapa agama, serta mengalami ini dan itu di tempat suci.

Nyaris semua pemula datang ke tempat suci dengan niat mau meminta. Maklum, namanya juga pemula. Ada permintaan yang terpenuhi, ada yang tidak terpenuhi tentu saja. Dan beda antara keduanya masih misteri. Begitu bosan meminta, ada kerinduan di dalam untuk berkomunikasi di tempat suci. Lagi-lagi, ada komunikasi yang dijawab, ada yang tidak dijawab.

Bagi jiwa-jiwa yang tumbuh dewasa, apa lagi bercahaya, tempat suci mirip dengan cermin yang bersih dan jernih. Ia memberi masukan tentang kualitas seseorang di dalam. Ketika di dalam masih tersisa yang hebat-hebat (bahasa sentimennya ego), di tempat suci memang muncul yang hebat-hebat. Jika tidak waspada, seseorang bisa sombong karena melihat yang hebat-hebat di tempat suci.

Tidak sedikit orang mengalami kecelakaan spiritual di tingkat ini. Bukan karena salah tempat suci, tapi karena seseorang kurang cerdas memaknakan simbol-simbol yang terlihat. Wajah kecelakaan spiritual ini bahkan bisa muncul dalam bentuk membunuh (melukai) banyak orang, serta berujung menyedihkan di LP (lembaga pemasyarakatan). Tapi tidak elok menyebut contoh dalam hal ini.

Tidak sedikit orang juga dimasuki energi-energi tertentu di tempat suci. Energi sesungguhnya netral. Mirip api, jika bisa menggunakannya ia bermanfaat. Jika tidak bisa menggunakannya ia membakar. Energi seks sebagai contoh, tidak sedikit orang spiritual yang dibikin celaka oleh energi ini. Tapi ada orang seperti Saraha di Tantra yang diangkat naik oleh energi seks.

Bedanya, lagi-lagi tidak di tempat suci, tapi dalam kecerdasan memaknakan energi yang datang dari luar, serta mengolahnya di dalam. Bagi pencari Cahaya, disarankan untuk hati-hati dengan simbol-simbol yang meningkatkan ego. Lebih hati-hati lagi dengan energi seks. Bimbing diri dengan langkah arif seperti ini: “Lihat, renungkan, endapkan. Lihat, renungkan, endapkan”.

Seperti mengendapkan lumpur di kolam, sebagai bahan untuk membuat lotus mekar indah. Jika itu bisa dilewati, ada kemungkinan para sahabat bisa membuka sejumlah rahasia di tempat suci. Tidak semua rahasia boleh dan santun untuk diceritakan di ruang-ruang publik. Pertama, tempat suci memberi tahu tentang panggilan spiritual seseorang di hidup ini.

Bagi para sahabat di Bali, bila panggilan sucinya adalah membimbing masyarakat untuk menggali ke dalam, maka yang paling bergetar adalah Pura Dalem. Bergetarnya melampaui segala bentuk logika. Sahabat yang diberkahi di puncak Himalaya, di sana bisa melihat Guru suci yang layak diikuti. Lengkap dengan ajaran suci yang membuat dunia jadi semakin harmoni.

Kedua, tempat suci memberi bimbingan tentang bagian-bagian buku suci tua yang layak dibadankan. Terutama karena buku suci tua tidak saja banyak, tapi juga luas sekali. Bahkan satu bagian dengan bagian yang lain ada yang bertentangan. Bukan karena buku sucinya salah. Tapi karena ditujukan untuk orang dengan tingkat kedewasaan spiritual yang berbeda.

Seks sebagai contoh, di bagian-bagian awal buku suci tertentu, ia lebih dekat dengan setan penggoda. Tapi di tingkat yang lebih dewasa dan bercahaya, seks bisa berubah menjadi Tuhan yang berbagi Cahaya. Tanpa bimbingan alam rahasia, buku suci bisa sangat mengacaukan. Di tingkat inilah tempat suci memberi tanda-tanda suci. Tidak saja menyelamatkan, juga mendamaikan.

Dulunya, cerita tentang bumi yang menghormat melalui gempa kecil, langit yang menghormat melalui pelangi indah, hanya terbaca di buku suci tuanya orang Tibet (atap bumi). Setelah terus menerus, berbakti, berbakti dan berbakti di Ashram, tanda-tanda yang sama betul-betul terjadi di Ashram. Tidak dalam mimpi. Tapi di dunia nyata. Bahkan tatkala sejumlah murid dekat hadir di sana.

Ketiga, setiap tempat punya ciri unik. Sebagaimana kamboja tidak bisa dibandingkan dengan lotus, Bali juga tidak bisa dibandingkan dengan puncak Himalaya. Makanya, jangan pernah menggunakan penampakan rahasia di sebuah tempat untuk menghakimi apa lagi merendahkan penampakan rahasia di tempat lain. Terutama karena setiap tempat unik.

Karena di Bali simbol yang paling disucikan adalah Tirtha (air suci), maka Sang Cahaya juga muncul dalam bentuk Tirtha. Sekali lagi ini bukan buku suci, tapi pengalaman pribadi. Begitu bhakti seseorang demikian dalam dan mengagumkan, Sang Cahaya memang memercik dalam bentuk Tirtha. Yang terlihat di Ashram kadang berwarna kuning keemasan, kadang berawarna putih.

Sangat sulit menceritakan pengalaman spiritual jenis ini, tapi penyair besar Rumi menulisnya ke dalam sebuah puisi indah: “Perjalanannya serupa mengupas bawang merah. Di luar kelihatannya coklat dan kotor. Ketika dibuka warnanya jadi putih. Semakin dibuka semakin putih. Tatkala tidak ada lagi yang bisa dibuka, yang tersisa hanya air mata yang meleleh”.

Undangannya untuk para sahabat dekat, jangan pernah menggunakan kemulyaan alam rahasia untuk menghakimi apa lagi merendahkan agama orang lain. Gunakanlah kemulyaan alam rahasia untuk merawat seisi semesta. Dalam bahasa Prof. Karen Amstrong dari Inggris, setiap penampakan Cahaya sebaiknya diikuti oleh keseharian yang semakin lembut.

Jika mau menghormati kemulyaan seorang Guru sejati, hormatilah dengan cara banyak menolong. Jika tidak bisa menolong, cukup jangan menyakiti. Dengan cara ini, lapisan-lapisan indah tempat suci menjadi kekuatan yang sangat menerangi. Sekaligus menimbulkan harmoni. Dan untuk itulah semua tempat suci dibangun di muka bumi. Selamat berlatih para sahabat dekat.

Photo by Gita Krishnamurti on unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.