Compassion

Dialog bulan Purnama di Ashram Avalokiteshvara

Ditulis oleh Gede Prama

Penanya: Di tengah rata-rata pendidikan orang yang demikian tinggi, apakah doa masih diperlukan?
Guru di dalam: Tentu saja diperlukan. Tapi cara berdoanya yang disesuaikan dengan tuntutan zaman serta bioritme alam yang terus berubah. Kurangi membimbing anak-anak muda terdidik dengan doa-doa dogmatis yang penuh ancaman. Bimbing mereka untuk berdoa melalui tindakan. Setidaknya berdoa dengan tidak ikut-ikutan melakukan kekerasan di dalam pikiran.

Penanya: Kenapa lebih ditekankan doa melalui tindakan, bukan doa melalui ucapan seperti zaman dulu?
Guru di dalam: Orang-orang zaman sekarang lebih menyukai dampak doa dalam jangka pendek. Yang langsung bisa dirasakan. Jika tidak melakukan kekerasan misalnya, secara alami serangan orang menurun, keterhubungan dengan alam sekitar membaik, godaan hidup lebih sedikit, tidurnya lebih nyenyak, makannya mudah enak. Orang sekarang menyukai yang begitu.

Penanya: Ada penjelasan di balik banyaknya orang berdoa di malam Purnama?
Guru di dalam: Setiap Guru suci lahir membawa mata kuliah yang berbeda-beda. Makanya ada yang menyarankan berdoa di malam Purnama, di malam setengah bulan, saat bulan sabit, atau malah ada yang menyarankan untuk berdoa di malam yang tidak ada bulan sama sekali. Bimbing masyarakat untuk tidak fanatik. Sebaliknya, kenali diri di dalam kemudian sesuaikan waktu berdoa masing-masing.

Penanya: Bisa lebih spesifik lagi?
Guru di dalam: Sebagaimana bisa dilihat dengan mata telanjang, Shri Krisna tidak bisa meng-Hindu-kan semua orang, Buddha tidak bisa mem-Buddha-kan semua manusia. Demikian juga dengan jiwa-jiwa suci yang lain. Agar tidak dibikin rumit oleh buku suci tua yang demikian banyak, luas sekaligus dalam, kenali diri di dalam. Kemudian pilih ajaran dan waktu berdoa yang tepat dengan diri Anda.

Penanya: Sepertinya mengenali diri sangat ditekankan?
Guru di dalam: Berpikirlah lebih jernih. Saat manusia melihat realita di luar, ia tidak saja sedang memotret realita di luar, tapi juga berjumpa dirinya di dalam. Sebagai contoh, ketika masuk ke taman indah, orang dengan otak kiri akan menghitung jumlah pohon, manusia dengan otak kanan akan merasakan kesejukan melihat pohon berdaun hijau. Anda lihat, yang dilihat sama yakni kumpulan pohon, tapi karena struktur kecerdasannya berbeda, kedua kelompok manusia ini berjumpa kesimpulan yang berbeda. Hal yang sama juga terjadi dengan interaksi manusia dengan ajaran suci. Jika Anda mengenali diri di dalam, Anda bisa waspada dengan judul “kebenaran” yang dikirim oleh otak. Sehingga tidak perlu menggunakan ajaran suci untuk meracuni perjalanan jiwa. Seperti melukai orang lain.

Penanya: Banyak orang bingung dengan cara mengenali diri?
Guru di dalam: Bisa dimaklumi, karena pendidikan modern terlalu menekankan pencarian ke luar. Jika seseorang cukup peka dengan tanda-tanda baik di dalam maupun di luar, sesungguhnya ada berlimpah tanda yang bisa membimbing seseorang menemukan dirinya. Dari mimpi-mimpi masa kecil, pengalaman sangat berkesan ketika pertama masuk sekolah, ciri-ciri manusia yang cepat menimbulkan rasa nyaman, pelajaran sekolah yang disukai serta mudah dimengerti, tempat-tempat indah yang terus mengikuti di memori, serta segudang contoh lainnya. Imbangilah pendidikan modern yang terlalu fokus ke luar dengan penggalian spiritual ke dalam diri. Pada waktunya, manusia bisa mengenali dirinya.

Penanya: Dengan demikian, tidak semua orang cocok berdoa di bulan Purnama?
Guru di dalam: Anda sudah baca sendiri hasil penelitian yang menunjukkan bahwa stres dan depresi cenderung meningkat di malam Purnama. Itu bukan berarti berdoa di bulan Purnama salah. Sekali lagi bukan!. Tapi orang-orang stres di bulan Purnama sedang diberi masukan bahwa waktu berdoanya di waktu lain. Sekaligus memberi masukan garis Gurunya juga lain. Gunakan stres saat Purnama sebagai kunci pembuka untuk mencari waktu berdoa di waktu lain, serta mencari garis Guru yang juga lain. Sambil belajar tetap menghormati orang yang merasa indah berdoa saat bulan Purnama.

Penanya: Sekarang apakah ada hubungan antara manusia yang tidak mengenali dirinya dengan krisis super panjang ini?
Guru di dalam: Tentu saja ada. Kebingungan, kepanikan, ketakutan adalah cermin bersih dan jernih tentang jauhnya manusia dari dirinya di dalam. Keadaannya mirip dengan cacing yang dipaksa tumbuh di tengah bunga indah, atau kupu-kupu dipaksa tumbuh di tengah lumpur. Terlalu banyak manusia yang panik dan takut nasibnya seperti kupu-kupu di lumpur. Karena terlalu bersaing, terlalu banyak belajar ke luar, kemudian memaksa diri ikut standar orang lain. Ujungnya tentu saja panik dan takut. Yang bahaya jika pemimpinnya panik dan takut, sehingga menularkan kepanikan dan ketakutan.

Penanya: Banyak sahabat selalu menunggu saran agar sehat selamat di zaman ini?
Guru di dalam: Pesan di balik krisis ini jelas sekali. Keramaian berisi banyak bahaya. Kesendirian menyimpan banyak potensi Cahaya. Gunakan pesan simbolik yang terang benderang ini untuk lebih banyak melakukan perjalanan ke dalam diri. Sebagaimana sering Anda kutip dari buku suci: “Raja segala pengetahuan adalah pengetahuan tentang diri”. Anda juga sering mengutip Confusius: “Ia yang mengenali dirinya mengenali musuhnya. Ia yang mengenali keduanya akan menang dalam tiap pertempuran”.

Penanya: Bagi teman-teman yang sibuk menafkahi keluarga, atau harus cari makan untuk mengobati rasa lapar, apakah perjalanan ke dalam diri mungkin?
Guru di dalam: Tentu saja mungkin. Gunakan setiap perjumpaan dan setiap kejadian sebagai sumber pelajaran. Tanyakan ke dalam, bagaimana Anda bisa dibikin dewasa oleh apa yang terjadi. Latih diri agar peka dengan vibrasi, terutama karena energi tidak pernah bohong. Saat di dalam terasa tidak nyaman, apa lagi takut, lindungi diri dengan kesopanan. Saat di dalam terasa aman dan senang, menyatulah dengan sukacita di tempat itu. Itu juga sejenis perjalanan ke dalam diri.

Penanya: Kembali ke soal berdoa karena hari ini malam Purnama, teman-teman sebaiknya berdoa seperti apa di tempat suci?
Guru di dalam: Berdoalah karena dibimbing oleh keindahan, bukan didorong oleh ketakutan. Caranya, berangkatlah ke tempat suci karena Anda merasakan keindahan di dalam. Bersyukur bahasa sehari-harinya. Kemudian baik di sepanjang perjalanan maupun di tempat suci, fokus pada melihat hal-hal yang indah. Berbekalkan keindahan di dalam kemudian doakan agar semua mahluk bisa merasakan keindahan yang sama. Yang paling dianjurkan, berdoalah disertai tindakan yang indah. Dari antre yang rapi, membersihkan kotoran di tempat suci, tersenyum pada orang yang dijumpai, sampai jauh dari keseharian yang marah-marah. Itulah doa yang dibutuhkan di zaman ini.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.