Compassion

Bayi Menangis Bernama Kemarahan

Ditulis oleh Gede Prama

Sangat jarang ada dialog spiritual yang bersih, jernih, serta bermartabat di youtube. Salah satu diantara yang sangat jarang itu adalah dialog antara Ram Dass dan YA Thich Nhat Hanh di tahun 1995. Bagian terindah dari dialog ini ketika Ram Dass menanyakan tentang menyembuhkan kemarahan. Praktisi meditasi tingkat tinggi YA Thich Nhat Hanh jawabannya sangat mengagumkan.

“Kemarahan adalah tanda bahwa ada bagian dari diri kita di dalam yang sedang menangis. Dan praktik kesadaran penuh yang penuh belas kasih (compassion) adalah Ibu sangat penyayang yang sedang menenangkan bayi yang sedang menangis ini”. Saat mendengarkan jawaban ini Ram Dass takjub: “The most brilliant intelectual presentation on anger that I have ever heard”.

Sebagai informasi, almarhum Ram Dass adalah Guru besar psikologi dari Universitas Harvard yang pensiun di usia sangat muda. Kemudian belajar spiritual di India. Sekarang memiliki warisan spiritual berupa murid-murid spiritual yang tidak sedikit di seluruh dunia. Bisa dimaklumi jika Ram Dass takjub, terutama karena banyak orang melihat kemarahan sebagai setan yang harus dihancurkan.

Padahal, kemarahan adalah bagian dari taman jiwa di dalam. Meminjam dari YA Thich Nhat Hanh, bunga indah terbuat dari bahan yang bukan bunga indah (baca: matahari, hujan, tanah subur, tukang taman, dll). Kemarahan juga serupa, ia terbuat dari bahan-bahan yang berasal dari luar kemarahan. Dari masa kecil yang terluka, sekolah yang berisi banyak bahaya, sampai tempat kerja yang bikin stres.

Ketika tukang taman membuang sampah organik, ia juga sedang membuang bahan yang akan mekar menjadi bunga indah. Tatkala seseorang sangat bertenaga mau membuang kemarahan di dalam, sesungguhnya ia juga sedang membuang potensi pencerahan yang ada di dalam. Terutama karena pencerahan tidak membuang kemarahan, tapi tersenyum pada kemarahan.

Guru meditasi yang berpelukan indah dengan holistic science seperti YA Thich Nhat Hanh sangat langka. Sedikit ada orang yang bisa memadukan kesederhanaan dengan kedalaman, sebagaimana dilakukan oleh YA Thich Nhat Hanh. Perhatikan pendekatan meditasinya yang sangat indah: “Tarik nafas, saya adalah ruang. Hembuskan nafas, saya telah bebas”.

Maksudnya, pikiran tercerahkan mirip ruang. Yang bisa memberikan tempat pada apa saja untuk bertumbuh. Termasuk memberikan ruang pada kemarahan. Sesederhana ruang di alam ini yang memberikan ruang pada kegelapan, setan, energi gelap dan yang sejenis. Begitu seseorang pikirannya seluas ruang, di sana ia terbebaskan.

Bahasa praktis YA Thich Nhat Hanh adalah “interbeings”. Di balik kemarahan orang lain ada kekeliruan kita. Di balik kemarahan kita ada kegagalan kita untuk melatih pikiran. Ringkasnya, tidak ada satu pun hal yang berdiri sendiri di alam ini. Semua serba terkait. Menghancurkan salah satu unsur seperti kemarahan tidak saja tidak menyembuhkan, tapi juga menciptakan ketidakseimbangan.

Itu sebabnya, di kelas-kelas meditasi para sahabat sering dibimbing seperti ini: “Istirahat dari segala konflik di dalam. Bagikan senyuman. Terutama karena semua adalah tarian kesempurnaan”. Begitu cara menyembuhkan kemarahan secara lebih holistik. Seperti bayi menangis, begitu ia didekap indah, pelan perlahan tangisannya menghilang. Kemarahan juga serupa. Selamat mencoba para sahabat.

Pusat layanan gratis (tanpa bayar) keluarga spiritual Compassion:
P3A (Pusat Pelayanan Perawatan Anak berkebutuhan khusus)
P3B (Pusat Pelayanan Pencegahan Bunuh Diri)
P3C (Pusat Pelayanan Pencegahan Perceraian)
082335555644 (Telkomsel)
081999162555 (XL)
085857536536 (Indosat)

Photo by Luiza Braun on unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.