Compassion

Memaknakan ulang arti kemenangan

Ditulis oleh Gede Prama

Seorang sahabat dari Barat menulis tentang arti hari raya Galungan di Bali seperti ini: “Hari kemenangan Cahaya melawan kegelapan”. Tidak salah tentu saja. Khususnya jika maknanya ditujukan untuk publik pemula. Namun bagi sahabat dekat yang dibimbing untuk bertumbuh lebih dalam, sebaiknya mengupas lebih dalam lagi.

Tidak perlu menjadi seorang sejarahwan untuk mengetahui bahwa nyaris semua catatan sejarah dibuat oleh pihak-pihak yang menang. Jarang terdengar, kalau tidak mau dikatakan tidak ada, pihak yang kalah diperbolehkan menulis sejarah versi mereka. Sebut saja kisah tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi di Indonesia di tahun 1965. Nyaris semua catatan dibuat oleh pihak yang menang.

Dengan demikian, belajar cerdas ketika membaca kisah sejarah. Hindari menelan semuanya mentah-mentah. Termasuk ketika mencerna kisah kemenangan yang digunakan sebagai perayaan hari raya Galungan. Lagi-lagi harus diungkapkan ke para sahabat dekat, nyaris semua catatan dan penafsiran datang dari pihak yang menang.

Jarang sekali terdengar, bagaimana kubu Mayadenawa menjelaskan kejadian yang terjadi di Tampak Siring ratusan tahun yang lalu. Agar perjalanan jiwa dibimbing ke arah yang bersih dan jernih, tenang dan seimbang, selalu sempatkan waktu untuk melihat sejarah dari pihak yang kalah. Tidak untuk melawan arus, sekali lagi tidak!. Tapi sekali lagi agar jernih-bersih serta tenang-seimbang.

Sulit mengingkari, pertempuran yang menewaskan Mayadenawa ratusan tahun lalu di Tampaksiring Bali berbau politik dan kekuasaan. Sebagaimana terjadi dari dulu hingga kini, politik dan kekuasaan jarang sekali jernih. Bagi sahabat yang pernah duduk di kursi kekuasaan mengerti, di sana beredar banyak sekali energi yang sangat mengacaukan. Dari saling menjatuhkan sampai saling mematikan.

Jika dilihat dengan mata spiritual (catatan: ini bukan sejarah), tidak tertutup kemungkinan Maya Denawa adalah seorang penganut Buddha Mahayana. Untuk direnungkan, salah satu ajaran Buddha yang banyak disalah mengerti oleh pihak non-Buddhis adalah ajaran anatta. Dari ajaran ini banyak yang mengira bahwa orang Buddha ateis, tidak percaya Tuhan, serta judul tidak bersahabat lainnya.

Sejauh bacaan tentang teks-teks agama Buddha, pandangan itu perlu diluruskan. Agama Buddha (di tingkat Hinayana dan Mahayana) memang kurang memberi perhatian pada memuja Tuhan yang di langit, tapi mengalokasikan banyak sekali energi untuk menemukan Tuhan di dalam (baca: cinta kasih, belas kasih, bahagia melihat orang bahagia, seimbang dalam memandang semuanya).

Serangkaian kualitas yang juga diakui sebagai wajah Tuhan di agama-agama lain. Cinta kasih sebagai contoh, ia dipuja oleh nyaris semua agama. Dengan kata lain, tidak benar kesimpulan bahwa agama Buddha ateis atau tidak percaya Tuhan. Di tingkat Buddha Tantrayana, di sana secara eksplisit diakui adanya Guru rahasia. Dan itu mirip sekali dengan Tuhan-nya agama-agama teistik.

Sebagai seseorang yang tidak lagi muda, diberkahi bisa melihat ini dan itu, serta tumbuh lama di jalan Tantrayana, harus diceritakan di sini, Guru rahasia itu ada dan nyata. Ia dirahasiakan karena yang bisa melihat sangat sedikit, yang tidak bisa melihat sangat banyak. Sehingga rawan melahirkan kesalahpahaman dan bahkan kekerasan. Makanya lebih banyak disimpan di lemari bernama senyuman.

Kembali ke cerita awal soal makna kemenangan, bagi anak-anak dan remaja pemula, kegelapan itu musuhnya Cahaya, duri membuat mawar jadi buruk, sampah itu kotor. Tapi begitu tumbuh dewasa, apa lagi bercahaya, kegelapan bukan musuhnya Cahaya. Hanya karena ada kegelapan maka manusia bisa melihat Cahaya. Bahkan saat kegelapan sangat gelap, Cahaya malah memancar sangat terang.

Demikian juga dengan duri dan sampah. Duri bukan bagian dari nodanya mawar, durilah yang membuat mawar jadi sempurna. Sampah di hari ini bisa jadi bunga indah di hari lain. Dengan kata lain, di tingkat yang lebih dalam, Galungan bukan kemenangan Cahaya melawan kegelapan. Tapi perjumpaan manusia dengan ke-u-Tuhan. Bahasa Inggrisnya whole.

Dan ini bukan tanpa bukti. Perhatikan janur (daun kelapa yang masih muda) yang digantung di depan rumah di hari Galungan menuju Kuningan. Di hari Galungan bentuknya mirip dengan Linggam (energi maskulin). Begitu memasuki hari Kuningan, bentuknya sama dengan Mandala (kesempurnaan). Yang bentuknya melingkar sempurna menyerupai matahari, bulan dan bumi.

Di dunia para ilmuwan, banyak yang sepakat: “Kata health (kesehatan) berasal dari kata whole alias ke-u-Tuhan”. Dari penyembuh beragama Hindu bernama Deepak Chopra, Bhiksu Buddhist bernama YA Thich Nhat Hanh, sampai fisikawan kaliber seperti Dr. Fritjof Capra dan Dr. David Bohm. YMM Dalai Lama secara eksplisit menyebut Dr. David Bohm dengan sebutan: “My science Guru”.

Undangannya untuk para sahabat dekat, dunia sudah berubah menjadi sebuah desa global, Bali adalah sebuah kawasan internasional yang sangat terkenal di dunia. Agar selaras dengan putaran zaman, mari membimbing diri dengan pengertian kemenangan yang lebih utuh. Terutama agar para sahabat bertumbuh. Selamat hari raya Galungan untuk semua sahabat dekat.

Photo by Irfan Maulidi on unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.