Compassion

Cerita indah dari Ashram Avalokiteshvara di perbukitan Bali Utara: Memercikkan air suci ke permukaan bumi

Ditulis oleh Gede Prama

Sekian tahun sebelum Guruji pensiun, atas undangan pihak BRI (bank rakyat indonesia) cabang Klungkung Bali, Guruji diminta mengajar di depan karyawan karyawati BRI di sana. Yang unik dalam kejadian ini, tempat yang dipinjam adalah Pesantren besar yang berada hanya beberapa ratus meter dari pusat kota Semarapura. Sehingga anak-anak Pesantren juga ikut mendengarkan.

Karena Pak Ustad di sana menunjukkan sikap yang sangat bersahabat, bahkan tempat mengajarnya diberikan ruangan yang sangat bersih dan sangat indah, selesai mengajar terjadi dialog indah antara Guruji dengan Pak Ustad.

Guruji: Maaf, jika boleh tahu siapa yang memberi tanah seluas dan seindah ini untuk Pesantren, serta berlokasi hanya beberapa ratus meter dari pusat kota Semarapura?
Pak Ustad: Keluarga Puri tentu saja. Mana kami punya uang sebanyak ini (catatan: keluarga Puri di Bali biasanya identik dengan keturunan raja)

Guruji: Apakah anak-anak muda Hindu dan Islam pernah bertengkar di Semarapura
Pak Ustad: Tentu saja. Memangnya kita tatkala muda dulu tidak pernah bertengkar?

Guruji: Jika mereka bertengkar, apa yang dilakukan?
Pak Ustad: Selalu keluarga Puri yang turun tangan mendamaikan keadaan

Guruji: Apa persisnya yang dilakukan keluarga Puri saat terjadi konflik?
Pak Ustad: Jika yang nakal remaja Hindu, keluarga Puri minta maaf ke keluarga Islam. Jika yang nakal remaja Islam, keluarga Puri minta maaf ke keluarga Hindu.

Sebuah cuplikan dialog yang sangat menyentuh hati. Jika ditarik ke akarnya lebih dalam, benih-benih toleransi di Bali sudah bertumbuh demikian tua dan lama. Sebagai tambahan informasi, di Bali Utara ada sebuah desa tua bernama Pegayaman. Penduduknya nyaris 100 % beragama Islam. Nama sahabat di sana unik-unik, dari Wayan Muhammad sampai Ketut Umar.

Ia bercerita indah tentang toleransi yang berumur tua dan lama, spirit pulau Bali menyatu rapi dengan spirit Islam yang bertumbuh di sana. Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh di Bali Utara, belum pernah terdengar sahabat-sahabat di Pegayamanan puasa maupun shalatnya terganggu karena kegiatan upacara orang Bali.

Ringkasnya, segelintir orang memang suka menyebar api di bumi. Hanya segelintir. Kendati demikian, teruslah percikkan air suci ke permukaan bumi. Jika bisa tersenyum pada orang memuji, semua orang bisa melakukannya. Jika bisa tersenyum pada orang yang mencaci, hanya jiwa-jiwa indah yang bisa melakukannya.

Meminjam warisan tua tetua Bali, jiwa memiliki sepasang sayap. Sayap kiri bernama nyepi lan ngewindu (baca: semua adalah tarian kesempurnaan yang sama). Sayap kanan diberi nama urip lan nguripi. Kendati semuanya adalah tarian kesempurnaan, jangan pernah melukai karena luka yang sama akan balik ke diri sendiri. Saat berbahagia, ingat juga membahagiakan orang lain.

Dalam bahasa yang lebih universal, sebagaimana sifat alami air yang basah, sebagaimana sifat alami bunga yang indah, sifat alami jiwa-jiwa yang hening-bening menemukan kebahagiaan dan kedamaian dengan cara melakukan hal-hal yang indah. Dan di zaman yang panas dan ganas ini, tidak marah saja sudah termasuk dalam kelompok jiwa yang indah.

Keterangan foto: Tiga pojokan Ashram Avalokiteshvara pagi ini ketika cerita indah ini dibagikan. Spirit di Ashram tersenyum indah ketika cerita ini dibagikan

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.