Compassion

Konsep Tuhan dalam agama Buddha

Ditulis oleh Gede Prama

Di sekitar abad ke 12 pernah terjadi kejadian menyentuh di pulau cinta kasih Bali, seorang raja bernama Mayadenawa yang menganut paham Buddha Mahayana dibunuh secara menyedihkan. Sejauh yang bisa dibaca dari sejarah, alasan terpenting kenapa raja Mayadenawa dibunuh ketika itu karena disebut ateis. Dan di zaman itu, ateis identik dengan tidak percaya Tuhan, penuh dengan kejahatan serta atribut tidak positif lainnya. Padahal, di zaman kita ada tidak sedikit orang ateis yang juga berhati indah. Di Barat disebut atheist with good intention. Kejadian menyentuh itu terjadi ketika penduduk bumi masih jauh lebih sedikit dari sekarang, kehidupan masih belum serumit sekarang, bumi belum seterbuka dan setransparan sekarang. Tidak kebayang apa yang akan terjadi dengan umat Buddha umumnya jika mereka salah menjelaskan ajaran anatta (tanpa diri). Untuk membantu para sahabat agar sehat selamat, di hari Tri Suci Waisak tahun 2021 ini, ada baiknya memaknakan kembali secara lebih jernih dan bersih, bagaimana buku suci agama Buddha memandang konsep Tuhan.

Di tingkat Hinayana dan Mahayana khususnya, pencari Cahaya memang dibukakan pintu melalui ajaran anatta (simpelnya berarti tanpa diri). Sedihnya, tidak sedikit orang yang memelesetkan arti anatta menjadi tidak percaya Tuhan. Sebuah penafsiran yang terlalu sederhana, sekaligus bisa membuka pintu sangat berbahaya. Khususnya di zaman ini. Untuk kepentingan publik pemula, umat Buddha memang tidak menghabiskan banyak energi untuk mencari Tuhan di luar. Tapi menghabiskan nyaris semua energi untuk menemukan Tuhan di dalam. Salah satu ajaran Buddha yang banyak dikutip bernama Brahma Vihara yang berisi empat tiang penyangga. Yakni metta (cinta kasih), karuna (compassion, belas kasih lebih dalam karena rela menderita untuk membuat orang lain bahagia), muditta (berbahagia melihat orang lain bahagia), upheksa (tenang-seimbang dalam memandang kehidupan). Dan sebagaimana kita ketahui, ciri-ciri indah seperti ini diakui oleh nyaris semua agama sebagai sifat-sifat indah Tuhan. Dengan kata lain, tidak benar anggapan yang menyimpulkan bahwa agama Buddha tidak percaya Tuhan. Apa lagi menyebarkan kejahatan karena tidak percaya Tuhan. Sekali lagi tidak benar.

Salah satu Guru Agung yang pernah lahir di bumi bernama YMA Lama Padmasambawa. Beliau pernah dibakar orang tiga kali, dan di ketiga kesempatan itu apinya berubah menjadi kolam sejuk berisi bunga Lotus Indah. Serta Beliau duduk di atas bunga Lotus yang disebutkan. Tatkala ditanya oleh salah satu consort-nya apa beda Buddha dengan orang biasa, jawabannya sederhana namun sangat mendalam: “Manusia yang tidak membadankan wisdom (kebijaksanaan) dan compassion (belas kasih) adalah manusia biasa. Ia yang membadankan wisdom dan compassion, itulah Buddha”. Tidak ada kejahatan di sana. Tidak ada pengertian anti Tuhan di sana. Kebijaksanaan memandang semuanya sebagai tarian kesempurnaan yang sama. Fisika kuantum menyebutnya quantum field. YA Thich Nhat Hanh menyebutnya “interbeing”. Fisikawan besar Dr. Fritjof Capra menyebutnya the hidden connection. Antropolog sosial Gregory Bateson menyebutnya the pattern that connects. Sebagaimana sifat alami air yang basah, sifat alami bunga yang indah, sifat alami kebijaksanaan adalah penuh belas kasih. Belas kasih tidak menjadi perintah ini itu, tidak ada kaitannya dengan neraka-surga, ia menjadi sifat alami seseorang. Sealami pohon besar yang menyejukkan lingkungan sekitar.

Guru rahasia

Jika di tingkat Hinayana Guru disebut kalyana mitra (mitra sejajar), di tingkat Tantrayana Guru muncul dalam wajah yang berbeda. Dalam kisah Naropa yang berguru pada Tilopa, Milarepa yang diselamatkan Gurunya Marpa berlaku pesan seperti ini: “Ajaran suci mirip cahaya matahari, penderitaan serupa daun kering. Bhakti pada Guru sejati adalah kaca pembesar yang diletakkan diantara keduanya”. Dalam kisah YMA Lama Padmasambawa, nilai seorang Guru lebih tinggi lagi. Terutama karena beliau tidak pernah terdengar wafat. Tatkala meninggalkan Tibet mengendarai cahaya matahari ke arah Barat. Ringkasnya, ada Guru rahasia di tingkat Tantrayana. Sebagai pendaki di jalan Shiva-Buddha, mempraktikkan secara mendalam ajaran Buddha Tantrayana selama lebih dari 10 tahun, serta tidak lagi berumur muda, harus dibagikan di sini bahwa Guru rahasia itu ada. Dengan meminta maaf sedalam-dalamnya pada Guru rahasia, Beliau sering hadir dengan wajah yang melampaui semua pikiran manusia. Untuk kepentingan menerangi dunia – bukan untuk gagah-gagahan – dibagikan ke publik pemula di forum ini, ketika perjalanan spiritual sangat berbahaya, Guru rahasia hadir dalam wajahnya sebagai kekuatan penjaga. Tatkala kehidupan terpuruk ke jurang yang sangat dalam, Guru rahasia hadir dalam bentuk tangan suci yang mengangkat naik. Ketika di dalam terasa sakit sekali, Guru rahasia hadir sebagai penyembuh. Lengkap dengan obat yang diberikan.

Saat keraguan muncul di pikiran, Ayah langit sering memberkahi dengan Cahaya dan pelangi dalam jumlah yang tidak terhitung, kadang Ibu bumi memberi tanda melalui gempa-gempa kecil. Setiap kali mau berbagi Cahaya pada dunia, Guru rahasia hadir dalam bentuk sumber air pengetahuan yang tidak pernah kering. Ada saja pengetahuan yang bisa dibagikan setiap hari, berkali-kali, selama bertahun-tahun, tanpa mengenal istilah libur. Kadang-kadang Guru rahasia terdengar dalam bentuk bel suci (Genta). Suara Genta ini membimbing untuk melampaui keadaan dengan tanda (nimitta) maupun keadaan tanpa tanda (animitta). Serta mengingatkan untuk selalu duduk di atas nimitta dan animitta ditemani oleh senyuman. Tidak beda jauh dengan orang tua yang rindu agar putera-puterinya segera pulang, suara Genta itu juga berisi kerinduan agar jiwa-jiwa segera pulang ke rumah kedamaian. Makanya peneliti energi menyebutkan, kedamaian adalah vibrasi energi tertinggi di alam ini. Itu juga sebabnya, kenapa setiap hari keluarga Compassion berbagi energi kedamaian di alam ini. Di agama-agama teistik yang pusat pencariannya adalah Tuhan, tanda-tanda rahasia inilah yang sering diberi nama Tuhan.

Dengan kata lain, baik apa yang ditulis oleh buku suci, pengalaman jiwa-jiwa suci, maupun pengalaman pribadi di atas bercerita, agama Buddha jauh dari bayangan sejumlah orang yang menyebut ateis. Yang menyebut anti Tuhan. Apa lagi menyebarkan kejahatan. Sekali lagi, jauh dari bayangan seperti itu. Cerita seperti ini dibagikan ke publik, tidak saja agar publik punya pemahaman yang lebih utuh tentang agama Buddha, tapi juga untuk menyelamatkan umat Buddha dari kemungkinan bahaya. Itu juga sebabnya, di keluarga Compassion para sahabat tidak ada yang diizinkan untuk berganti judul agama. Tidak satu pun. Jika ada yang minta izin untuk pindah ke agama Buddha khususnya, selalu mereka dikembalikan ke agama tempat ia terlahir. Sambil dibekali pesan, berganti agama bukan jawaban, berganti hati pemarah menjadi pemurah itulah jawabannya. Sejumlah sahabat bule di Bali kadang ada yang bertanya tentang agama, selalu dijawab dengan jawaban seperti ini: “I was born in Hinduism, I was deeply trained in Tantric Buddhism, but I do not teach Hinduism or Buddhism. I teach loving-kindness and compassion”. Spirit ceritanya sederhana, tatkala berbagi kebaikan ke jiwa-jiwa gelisah khususnya, ia serangkaian cerita melalui tindakan bahwa di bumi ini masih ada tersedia Cahaya indah.

Tuhan yang ada di dalam

Dengan tetap menghormati ajaran-ajaran suci yang pernah turun melalui jiwa-jiwa suci di putaran waktu sebelumnya, di putaran waktu ini terang sekali tandanya, manusia sedang dibimbing untuk menemukan Tuhan yang ada di dalam. Pandemic panjang akibat virus corona yang mengglobal, bahkan tidak sedikit yang meramalkan bahwa ini akan menjadi permanent pandemic, melalui social distancing-nya membawa pesan yang bersih dan jernih: “Segera belajar menemukan Tuhan di dalam”. Tanpa menemukan Tuhan di dalam, putaran waktu ini tidak saja berisi banyak bahaya, tapi juga sangat miskin Cahaya. Karena umat manusia digiring untuk melakukan nyaris semua hal melalui internet, segera belajar mengimbangi internet dengan innernet (jejaring yang ada di dalam). Begitu jejaring di dalam dikenali – salah satunya melalui meditasi – maka berita buruk di luar tidak mudah bersekongkol dengan berita buruk di dalam (baca: keraguan, ketakutan, kepanikan). Sebagai akibatnya, kegelapan di luar batal melahirkan kegelapan di dalam. Sebaliknya, kegelapan di luar bisa melahirkan Cahaya di dalam.

Dalam bahasa Indah psikolog kondang Carl G. Jung, ia yang lapar mencari keluar sesungguhnya sedang tidur pulas. Ia yang menemukan di dalam, itulah jiwa yang telah terbangun (awake). Bukan kebetulan jika tetua Bali memberi nama salah satu tempat suci sakral di Bali dengan Pura Dalem. Meminjam puisi tua mistikus Sufi Jalaludin Rumi: “Bertahun-tahun keketuk pintu Mu. Lama sekali tidak dibuka. Tatkala pintu itu terbuka, ternyata saya mengetuknya dari dalam”. Sebagai bekal melangkah dalam keseharian, di luar jadilah murid Hinayana yang dibimbing oleh etika dan tatakrama. Setidaknya jauhkan diri dari menyakiti. Di dalam jadilah murid Mahayana. Perlakukan semua mahluk dengan penuh belas kasih (compassion). Di waktu yang tepat, serta tubuh yang sehat kuat, beranilah menderita untuk kebahagiaan orang lain. Di tempat dan waktu rahasia, boleh melaksanakan ajaran Tantra. Di sepanjang perjalanan, bimbing diri dengan rasa syukur yang mendalam. Rasa syukur yang mendalam adalah perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang ada di dalam.

Selamat hari Tri Suci Waisak. Semoga semua mahluk berbahagia.

Keterangan foto: Beberapa hari sebelum hari Tri Suci Waisak tahun 2021 ini, seorang keluarga spiritual Compassion meletakkan persembahan indah di gerbang Ashram Avalokiteshvara tempat Guruji bermukim di Bali Utara. Begitu lewat sedikit saja di atas Ashram, sahabat ini melihat Cahaya super indah di arah Timur. Gambar ini hanya mewakili kurang dari 50 % keindahan Cahaya yang muncul ketika itu. Di jalan Shiva-Buddha, warna putih mewakili Shiva, warna kuning keemasan mewakili Buddha.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.