Compassion

Genta cinta kasih dari pulau cinta kasih Bali

Ditulis oleh Gede Prama

Tidak semua orang yang bicaranya indah, hidupnya juga indah. Uniknya, ada orang yang bicaranya biasa-biasa saja, tapi hidupnya sangat indah. Ia sedang mengajarkan, tidak perlu tahu terlalu banyak. Cukup tahu yang sedikit, yang paling penting seperti cinta kasih dan kesabaran, kemudian “laksanakan” dalam keseharian seserius dan setulus mungkin.

Keteladan dan pelajaran sangat penting inilah yang diajarkan oleh tauladan cinta kasih kita minggu ini. Beliau adalah Bapak I Nengah Warsa serta Ibu Ni Nyoman Sri. Warga desa Tajun kecamatan Kubutambahan Bali Utara. Beliau adalah tetangga dekat Guruji di rumah tua. Rumah tempat lahir. Di umur yang sudah mendekati 90 tahun, keduanya sehat dan bahagia.

Kendati ketujuh anaknya semuanya puteri, tidak ada tanda-tanda aneh dalam kehidupan Pak Nengah Warsa (Wa Dita). Istrinya tetap dirawat dan disayangi selama 63 tahun lagi!. Alias setengah abad plus 13 tahun. Ia sedang menjadi cerita hidup (living example) tentang unconditional love (cinta kasih yang tidak bersyarat). Puncak pencarian agama-agama.

Sebagai tetangga dekat yang rumahnya hanya dipisahkan tembok tidak tinggi, Guruji tahu sekali keseharian Wa Dita selama puluhan tahun. Beliau tidak pernah terdengar marah, jika ketemu siapa saja bibirnya selalu tersenyum indah. Fotografer yang mengambil gambar terlampir sampai bingung, bibir bapak itu tidak pernah berpisah dengan senyuman.

Di jalan tua meditasi, itu pencapaian mengagumkan. Ia mengingatkan pada sebuah puisi tua: “Genta bukanlah genta sebelum ia dibunyikan. Sepeda bukanlah sepeda sebelum ia dijalankan. Cinta bukanlah cinta sebelum ia dilaksanakan”. Dari kedalaman hati yang sangat dalam, terimakasih Wa Dita telah membunyikan Genta cinta kasih dari kepala pulau Bali.

Di sebuah tempat sangat indah, di mana alam memberi tanda melalui hadirnya Pura suci dan bukit Suci bernama Bukit Sinunggal. Bukit tempat di mana banyak jiwa melakukan panunggalan. Semoga suara Genta ini terdengar sampai di tempat yang paling jauh. Sehingga bisa berbagi aura cinta kasih di putaran waktu yang sangat miskin dengan cinta kasih.

Foto diambil oleh kepala urusan rumah tangga Ashram Kadek Optimis

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.