Compassion

Dialog ke dalam di Ashram Avalokiteshvara di perbukitan di Bali Utara: Bercakap-cakap dengan senyuman di dalam

Ditulis oleh Gede Prama

Pengantar: Di zaman dulu, tiap kali jiwa suci mendengar pesan di dalam, ia sering disebut wahyu. Di zaman ini, jika ada yang berani menyebut diri mendengar wahyu, siap-siaplah disebut sakit mental. Di Barat yang ekspilist, ada Neale Donald Walsch yang menyebut perbincangan ke dalam dengan “Bercakap-cakap bersama Tuhan”. Di Timur yang implisit, judul seperti itu masuk dalam kelompok yang tidak sopan. Berikut dialog ke dalam di Ashram.

Penanya: Banyak yang bertanya, apa yang didapatkan dari latihan hening selama 2 minggu?

Senyuman di dalam: Banyak orang mengukur pencapaian spiritual dari apa yang didapatkan. Sedikit yang mengukur pencapaian spiritual melalui apa yang dilepaskan. Dan latihan hening melepaskan banyak sekali racun tidak perlu di dalam. Dari congkak sampai sombong. Saat hening, dunia punya logika, kita punya logika. Keduanya sering tidak sejalan. Jika bisa tenang-seimbang, itu latihan wafat yang bagus sekali. Di hari-hari pertama kematian, seperti itu juga yang akan terjadi. Seperti melepaskan burung dari sangkar, begitu burungnya lepas, sangkarnya kosong. Kekosongan inilah yang membuat banyak hal tidak mungkin jadi mungkin.

Penanya: Sedihnya, tidak sedikit orang menakuti kekosongan. Mareka takut dimasuki setan.

Senyuman di dalam: Tergantung niat seseorang memasuki kekosongan. Jika seseorang ke sana karena merasa ditelantarkan, tidak punya harapan akan masa depan, lebih-lebih merasakan bisikan bunuh diri, maka kekosongan itu berbahaya. Tapi jika seseorang memasuki kekosongan dengan niat mulya mau mempercantik jiwa, apa lagi menyempurnakan pelayanan, kekosongan berisi banyak kemilau Cahaya. Ringkasnya, tidak mungkin kegelapan masuk jika ruangannya penuh Cahaya. Tidak mungkin setan masuk jika jiwa penuh Cahaya.

Penanya: Bisa dijelaskan lebih jernih wajah kekosongan yang penuh kemilau Cahaya?

Senyuman di dalam: Tanpa kegelapan maka Cahaya menghilang. Tanpa sampah tidak akan ada bunga indah. Hal yang sama terjadi dengan kotor-suci, sedih-senang. Bagi publik pemula, yang kotor (the devil) dan yang suci (the divine) tidak terjembatani. Begitu jiwa penuh kemilau Cahaya, di sana seseorang mengerti melalui pencapaian langsung, kekotoran ibarat benih, kesucian mirip dengan bunga. Kesedihan serupa lumpur, kebahagiaan tidak jauh beda dengan lotus (teratai). Dalam benih ada bunga, dalam bunga ada benih. Dalam lumpur ada lotus, dalam lotus ada lumpur. Di tingkat pencapaian ini, cinta kasih dan kedamaian tidak akan mudah dicuri oleh kemarahan.

Penanya: Bisa pakai contoh agar publik pembaca bisa lebih paham?

Senyuman di dalam: Di suatu waktu ada tempat yang tidak dikunjungi hujan selama bertahun-tahun. Kemudian mengundang pawang hujan yang kebetulan seorang Guru meditasi. Guru meditasi ini tidak minta apa-apa selain ruangan meditasi yang hening. Setelah meditasi hening selama 3 hari, tiba-tiba di tempat itu turun hujan. Tentu saja orang heran dan bertanya: “Apa yang Anda lakukan?”. Dengan tenang penekun meditasi ini menjawab: “Tatkala dunia di dalam penuh harmoni, maka dunia di luar juga penuh harmoni”.

Penanya: Kalau begitu, di tempat-tempat yang super kacau, pikiran manusianya kacau sekali?

Senyuman di dalam: Anda menanyakan pertanyaan yang sudah Anda tahu jawabannya. Makanya di salah satu tempat indah di kepala bumi bernama Jepang, setiap kali ada bencana alam, kaisar akan masuk ke ruang doa selama berbulan-bulan untuk minta maaf pada alam dan Tuhan. Karena bencana alam bercerita bahwa pikiran dan hati kaisar berisi banyak noda. Di atap bumi Tibet pernah ada raksasa yang mau makan domba, tapi raksasanya gagal. Ketika dicari tahu sebabnya, raja Tibet ketika itu setiap hari memeditasikan compassion (belas kasih).

Penanya: Langkah aplikatifnya dalam keseharian bagaimana?

Senyuman di dalam: Bertumbuhlah sampai yang tersisa hanya seorang saksi di dalam. Saat melihat hal-hal hebat seperti berjumpa Cahaya, ingat untuk kembali menjadi seorang saksi. Tatkala mengalami hal-hal yang dirindukan banyak orang seperti terjadi gerakan kundalini (baca: ada gerakan energi dari chakra 1, 2, 3 4, 5 dan 6 menuju chakra 7 di ubun-ubun), ingatkan diri lagi dan lagi: “Anda bukan pengalaman, Anda bukan yang mengalami. Anda adalah seorang saksi”. Itu yang dimaksud harmoni di dalam menghasilkan harmoni di luar.

Penanya: Ada yang bertanya, apakah tidak merasa kesepian tatkala hening demikian lama?

Senyuman di dalam: Tergantung pada sumber kebahagiaan seseorang. Jika sumber kebahagiaan seseorang sepenuhnya di luar (pujian dan kekaguman orang luar), tentu saja hening sering dikunjungi rasa kesepian. Bila sumber kebahagiaannya di dalam (rasa berkecukupan, rasa syukur, terimakasih yang dalamnya tidak berhingga), keheningan tidak berkawan dengan rasa kesepian.

Penanya: Dengan demikian, sebelum belajar hening seseorang sebaiknya menggeser sumber kebahagiaannya dari luar ke dalam?

Senyuman di dalam: Persis. Dan itu bukan perjalanan mudah. Terutama karena otak manusia sekarang sudah sangat melekat dengan hormon dopamine. Hanya mau senang saja, tidak mau tidak senang. Itu tidak saja tidak sehat, tapi juga tidak mungkin. Banyak penyembuh yang menyimpulkan, dari sanalah banyak penyakit dan rasa sakit berawal.

Penanya: Bisakah teman-teman diberikan langkah praktis agar sumber kebahagiaannya bergeser ke dalam?

Senyuman di dalam: Untuk publik pemula, belajar menghadirkan energi penyeimbang di dalam. Usahakan energi penyeimbangnya bukan pujian dan kekaguman orang luar. Tapi kualitas yang dikembangkan di dalam. Dari pikiran positif-holistik, sampai dengan hati yang senantiasa bersyukur. Begitu jiwa mulai bercahaya, belajar pure awareness (kesadaran murni). Untuk dicatat bersama, alasan kenapa kebahagiaan banyak orang demikian goyah karena bergantung pada sumber kebahagiaan yang juga goyah. Dan diantara semua sumber kebahagiaan, yang paling kokoh adalah kesadaran murni. Meditasi yang menekankan pada pentingnya “istirahat” di saat ini sangat membantu dalam hal ini. Begitu Anda bergantung sepenuhnya pada kesadaran murni, di sana kebahagiaan menjadi alami. Tanpa upaya. Sesederhana bunga yang dikunjungi kupu-kupu indah. Kebahagiaan bukan tujuan, kebahagiaan adalah sifat alami Anda di dalam.

Penanya: Apakah meditasi berarti duduk diam terus menerus?

Senyuman di dalam: Tentu saja tidak. Tiap gerak kehidupan (makan, minum, kerja, jalan, dll) bisa dijadikan meditasi jika seseorang selalu kembali ke kesempurnaan saat ini. Lakukanlah meditasi yang singkat-singkat tapi sering. Misalnya, saat mendengar suara motor tanpa kenalpot atau alarm mobil, cakupkan tangan, bisikkan gatha seperti ini ke dalam: “Saya telah pulang. Saya telah sampai. Rumah sejati ada di sini. Di saat ini”. Pada saat yang sama, lihatlah saat ini dari sisi-sisi yang membahagiakan. Selalu ada sisi membahagiakan di balik keadaan yang paling tidak membahagiakan sekali pun. Setidaknya seseorang dibikin semakin dewasa. Jangan pernah lupa, ia yang melakukan hal terbaik di saat ini sedang melakukan persiapan terbaik menuju masa depan.

Penanya: Pertanyaan terakhir pada dialog kali ini, kenapa di jalan keheningan pencerahan sempurna disebut sebagai pelayanan terbaik?

Senyuman di dalam: Lihat pencerahannya Buddha. Ia terjadi 2.600 tahun yang lalu. Tapi ia masih meringankan beban banyak penderitaan di alam ini sampai sekarang. Mungkin masih akan meringankan beban penderitaan banyak mahluk sampai ribuan tahun ke depan. Anggap saja seseorang yang hening pencerahannya belum sempurna, setidaknya ia akan menjauh dari segala bentuk kekerasan, merawat keluarga dan orang dekat seperti merawat diri sendiri. Yang paling buruk, sebut saja seseorang yang latihan hening belum tercerahkan sama sekali. Setidaknya ia sudah mengurangi jumlah kekerasan yang ada di masyarakat.

Penanya: Terimakasih banyak. Merunduk yang dalam (deep bow).

Keterangan foto: Salah satu pojokan Ashram tempat Guruji bermukim. Taman Ashram didisain dan dirawat oleh kepala urusan rumah tangga Ashram Kadek Optimis

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.