Compassion

Menemukan Shambala di Dalam

Ditulis oleh Gede Prama

Di tahun 1930-an ketika dunia dilanda depresi berat, umat manusia dikejutkan oleh hadirnya film yg bercerita bahwa ada sebuah tempat di barat laut Gunung Kailash Tibet yg disebut Shambala.

Sebuah tempat di mana manusianya tumbuh secara sangat harmoni dan sangat damai. Sejak saat itu, tidak terhitung pencari yg pergi ke Himalaya untuk menemukan Shambala.

Sedihnya, sampai hari ini Shambala sebagai sebuah tempat di luar belum ditemukan. Kendati didukung oleh buku suci tua seperti Vishnu Purana serta Kalachakra Tantra

Sehingga titik pusat pencarian banyak orang tidak lagi mencari Shambala di luar, tapi menemukan Shambala di dalam. Pikiran adalah ladang yg paling menjanjikan dalam hal ini.

Terutama karena semua benih (sedih-senang, disharmoni-harmoni, kacau-damai) ada di pikiran. Shambala di dalam lebih mungkin ditemukan jika pikiran sering dilatih untuk “istirahat”.

Persisnya, istirahat di saat ini apa adanya. Kebiasaan tua yg mempertentangkan yg seharusnya dg yg senyatanya hanya akan memperpanjang daftar panjang penderitaan yg telah panjang.

Tidak mudah tentu saja, karena umat manusia telah dikondisikan seperti itu dalam waktu yg sangat lama. Tapi tidak perlu menyerah, teruslah latih pikiran agar istirahat di saat ini apa adanya.

Bekali diri dg pengertian, semua adalah tarian kesempurnaan. Apa yg disebut samsara dan nirvana mirip malam dan siang. Keduanya ada di sini untuk saling melengkapi.

Dalam bahasa peneliti energi, semuanya energi. Tanpa negatif-positif. Ia yg tekun di jalan ini suatu hari akan berjumpa “orang tua” spiritual yg paling dicari. Yg akan melahirkan Shambala di dalam.

Di Ashram tempat Guruji bermukim, orang tua spiritual itu bernama compassion (ayah) dan wisdom (ibu). Orang Hindu menyebut ayah dg sebutan Shiva (universal consciousness). Ibu dg sebutan Shakti (cosmic energy).

Kapan saja seseorang bisa memadukan compassion dengan wisdom di dalam, menyatukan Shiva dg Shakti di dalam, di sana terbuka rahasia tentang Shambala di dalam diri.

Selamat tahun baru 2022. Semoga semua mahluk berbahagia.

Keterangan foto: Gerbang Ashram diberi papan “meditation center” sebagai pengingat ke para sahabat dekat agar rajin meditasi. Mengistirahatkan pikiran di saat ini apa adanya.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.