Compassion

Kecerdasan tertinggi dari Bali…(The ultimate intelligence from Bali)

Ditulis oleh Gede Prama

Penulis buku “Multiple Intelligences” Prof. Howard Gardner benar sekali ketika menyimpulkan, kecerdasan manusia tidak hanya IQ.

Ada sejumlah kecerdasan manusia yg lain. Sebagai mantan kosultan yg pernah masuk ke sana ke mari harus diceritakan di sini.

Pemimpin yg hanya bermodalkan IQ tinggi saja bisa sangat membahayakan. Bahkan bisa membayakan bangsa dan umat manusia.

Utk itu, mari merenungkan wajah kecerdasan yg lain. Musikus besar seperti Mozart, tidak diragukan pasti memiliki kecerdasan musik yg tinggi.

Penulis dan pembicara yg dikagumi dunia, pasti memiliki kecerdasan linguistik yg mengagumkan. Makanya kata-katanya dikagumi orang.

Orang-orang yg kaya empati, kesehariannya menyentuh hati, pasti kecerdasan emosnyai bagus sekali. Daniel Goleman dari Harvard bahkan secara spesial menulis sebuah buku dalam hal ini.

Guru spiritual dg pencapaian tingkat tinggi seperti Buddha dan Krishna, tidak diragukan pasti memiliki kecerdasan spiritual yg mengagumkan.

Jika mata spiritualnya terbuka, Guru spiritual dg pencapaian tingkat tinggi, bentuk tubuhnya berbeda. Tubuhnya bercerita jujur tentang kecerdasan spiritualnya.

Yg layak direnungkan menjelang hari raya Nyepi 2024 ini, tetua Bali yg memutuskan merayakan tahun baru dg hari Nyepi memiliki kecerdasan tertinggi.

Yakni kecerdasan keheningan. Jalalludin Rumi di Islam, Meister Eickhert di Gereja, Rabindranath Tagore di Hindu, Nagarjuna di Buddha semua sampai di sini.

Cermati salah satu peninggalan pujangga besar Kahlil Gibran: “Tatkala Anda bercengkrama dg kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu di tempat tidur”.

Artinya, manusia hidup serumah dg kesedihan dan kahabagiaan. Dan tidak bisa lari. Kebahagiaan itu plus satu, kesedihan itu minus satu.

Begitu dijumlahkan, ia menjadi nol (kosong, hening, bening). Bukan sembarang kekosongan, tapi kekosongan yg memberi ruang pada apa saja utk bertumbuh.

Di Barat ia disebut unconditional love. Cinta kasih yg tidak bersyarat. Makanya, sehari sebelum hari Nyepi, orang Bali arak-arakan di jalan ditemani ogoh-ogoh yg semuanya seram menakutkan.

Bahasa psikologinya: “Let’s the demon speak”. Di waktu dan tempat yg tepat, izinkan setan di dalam bicara. Jangan selalu ditekan.

Tetua Bali berpesan: “Rwa-bhinedane tampi”. Di tiap zaman ada gelap-terang, mundur-maju. Di tiap zaman!. Siapa pun pemimpinnya.

Makanya orang Bali berdoa baik saat malam Purnama yg disenangi Buddha, sekaligus di malam tanpa bulan yg disenangi pemuja Shiva.

Karena gelap-terang datang dari rahim yg sama, serta pulang ke rumah suci yg sama. Sesampai di sini lidah jadi kelu. Tidak ada lagi yg mau diterangkan.

Dari keheningan jenis ini kemudian lahir niat mulya agar semua mahluk bisa sampai di tingkat pencapaian ini. Itu yg disebut compassion.

Tetua Bali menyebut keheningan dg “Nyepi lan ngewindu”, memberi nama compassion dg “urip lan nguripi”. Dari keheningan lahir kasih sayang.

Itu kecerdasan tertinggi dari Bali. Jika diberkahi alam Bali, kecerdasan tertinggi ini akan dibawa dan dibagikan ke seluruh bumi.

Selamat hari raya Nyepi 2024. Semoga Bali dan bumi tambah harmoni.

Photo courtesy: Pexels
Shambala meditation center: bellofpeace.org, belkedamaian.org
#bali #love #peace #meditation #healing #healingjourney

Tentang Penulis

Gede Prama

Guruji Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Detil dan kontak di https://www.gedeprama.com/

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.