Compassion

Menemukan kembali rumah Cahaya…

Ditulis oleh Gede Prama

Bunuh diri, narkoba, konflik, kekerasan, perang, dan penyakit sosial lainnya adalah tanda-tanda nyata bahwa banyak orang bertumbuh dari kegelapan ke kegelapan. Tidak hanya gelap di kehidupan ini, tetapi bahkan lebih gelap di kehidupan berikutnya. Untuk membantu para pencari Cahaya agar bertumbuh dan bercahaya, sekarang mari kita renungkan bersama gagasan indah tentang rumah Cahaya.

Rumah cahaya dalam literatur & spiritualitas…

“Rumah Cahaya” adalah istilah yang dapat membangkitkan berbagai interpretasi tergantung pada konteksnya. Secara umum, istilah ini melambangkan tempat atau negara yang dipenuhi dengan kehangatan, keamanan, pencerahan, dan aura positif. Konsep ini melampaui budaya dan disiplin ilmu, sering kali hadir dalam literatur, spiritualitas, dan arsitektur modern.

Dalam literatur dan spiritualitas, “Rumah Cahaya” sering kali mewakili alam metafisik kedamaian dan pemahaman tentang kehidupan yang mendalam. Tempat ini digambarkan sebagai tempat perlindungan tempat individu mengalami pencerahan, kebijaksanaan, dan kedamaian batin. Gagasan ini muncul di dalam berbagai tradisi agama dan filsafat.  Misalnya, dalam agama Kristen, Surga sering disebut sebagai tempat Cahaya abadi, bebas dari kegelapan dan penderitaan. Demikian pula, dalam agama Buddha, pencerahan (Nirvana) dilambangkan dengan Cahaya, yang melambangkan berakhirnya ketidaktahuan dan tercapainya kebenaran hakiki.

Untuk mencapai rumah cahaya tersebut, praktik spiritual seperti meditasi, yoga, doa, dll. akan sangat membantu dalam kasus ini. Yoga berarti mengikat atau menyatukan. Dalam konteks Cahaya, menyatukan energi negatif-positif di dalam diri. Meditasi bahkan lebih praktis. Dengan terus belajar menjadi saksi, terjadi sintesis negatif-positif di dalam diri yang melahirkan Cahaya pencerahan. Saat Anda menyalakan Cahaya di dialam, hidup akan dipenuhi cahaya. Anda dapat membuka gerbang penyembuhan, kebahagiaan, dan kedamaian secara alami.

Rumah Cahaya dalam arsitektur & desain interior…

Dalam pengertian yang lebih harfiah dan kontemporer, “Rumah Cahaya” dapat merujuk pada lingkungan fisik sebuah hunian. Arsitektur dan desain interior modern semakin menekankan penggunaan Cahaya alami untuk menciptakan ruang yang tidak hanya hemat energi tetapi juga meningkatkan kesejahteraan penghuninya. Jendela besar, jendela atap, dan denah lantai terbuka adalah fitur umum yang dirancang untuk memaksimalkan paparan sinar matahari, menciptakan ruang hidup yang cerah dan lebih menarik. Penelitian telah menunjukkan bahwa Cahaya alami berdampak positif pada suasana hati, produktivitas, dan kesehatan secara menyeluruh, menjadikan penyertaan Cahaya sebagai aspek penting dari desain sebuah rumah.

Selain itu, “Rumah Cahaya” dapat menjadi metafora untuk lingkungan yang mendorong pertumbuhan intelektual dan emosional. Lembaga pendidikan, perpustakaan, dan ruang kreatif yang mendorong pembelajaran, kreativitas, dan pengembangan pribadi juga dapat dilihat sebagai rumah Cahaya. Tempat-tempat ini menyediakan sumber daya dan inspirasi yang diperlukan bagi individu untuk menerangi pikiran mereka dan dapat memperluas wawasan mereka.

Tubuh, pikiran, jiwa sebagai rumah Cahaya…

Lihatlah jiwa-jiwa yang menderita yang mengalami banyak kegelapan dalam hidup, semuanya berfokus pada hal-hal yang kurang dalam hidup.  Selalu mengeluh, membanding-bandingkan, bersaing adalah menu dari hidup mereka sehari-hari. Akibatnya, tubuh, pikiran, dan jiwa menjadi tong sampah yang terus mengundang datangnya masalah dan malapetaka. Sebaliknya, jiwa yang berkembang fokus pada hal-hal yang patut disyukuri. Selalu ada sesuatu hal yang patut disyukuri setiap hari. Setidaknya Anda mendapat pelajaran dari sebuah kegagalan, Anda tahu apa yang tidak boleh dimakan setelah mengalami sebuah penyakit.

Dengan kata lain, jika Anda ingin tubuh, pikiran, dan jiwa menjadi rumahnya Cahaya, tinggalkan kebiasaan lama untuk fokus pada apa-apa yang kurang dalam hidup. Belajarlah untuk bersyukur kepada apa pun dan siapa pun yang Anda miliki saat ini. Pada saat yang sama selalu ingat, semuanya adalah organik di alam ini. Mirip dengan lumpur yang sedang dalam proses menjadi teratai, kegagalan dan penyakit juga sedang dalam proses menjadi teratai kebahagiaan dan kedamaian. Pertanyaannya bukanlah apa kesalahan Anda, tetapi bagaimana mengubah kesalahan menjadi nutrisi pertumbuhan mental dan spiritual.

Tidak peduli seberapa sederhana hidup ini, belajarlah untuk bersyukur. Ingat, rasa syukur menghapus banyak hal negatif, menggandakan atau bahkan melipatgandakan hal positif yang tak terhitung jumlahnya. Itulah fondasi terkuat untuk membangun tubuh, pikiran, dan jiwa sebagai rumah Cahaya.  Seperti halnya kegelapan tidak dapat mengganggu Cahaya, begitu tubuh Anda menjadi rumah Cahaya, konflik, kekerasan, masalah, bencana tidak dapat mengganggu perjalanan jiwa Anda. Begitu di dalam penuh Cahaya, Anda akan sering di datangi Cahaya. Semakin lama Cahayanya semakin dekat. Sampai suatu hari sang rahasia menunjukkan: “Sumber Cahaya ada di dalam”.

Bagaimana Cahaya telah menuntun Guruji…

Karena yang serupa akan menarik yang serupa, Cahaya menarik Cahaya, begitu dirimu dipenuhi Cahaya di dalam, kamu akan melihat Cahaya yang tak terhitung jumlahnya di luar. Dalam perjalanan spiritual Guruji, pada awalnya Cahaya muncul di langit. Kadang dalam bentuk bintang yang bergerak, Cahaya yang bergerak cepat, di Bali muncul dalam bentuk percikan air suci. Seiring berjalannya waktu, Cahaya semakin dekat dan dekat, hingga suatu hari ia melingkari tubuh Guruji. Bersyukur atas latihan meditasi Guruji, dan juga berkat dari Guru yang tak terhitung jumlahnya di tiga waktu, suatu hari Cahaya tidak lagi berada di luar.  Pada tahap ini, guru rahasia berbisik di dalam: “Rahasiakan rahasia ini bahkan dari dirimu sendiri!’.

Foto milik: Akun Fb Architecture & Design
Pusat meditasi Shambala: bellofpeace.org, belkedamaian.org
#bali #love #peace #meditation #healing #healingjourney #harmoni #gurujigedeprama

Tentang Penulis

Gede Prama

Guruji Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Detil dan kontak di https://www.gedeprama.com/

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.