Kedamaian Spiritualitas

PUISI KEDAMAIAN

PUISI KEDAMAIAN

Seorang sahabat bule bertanya tentang agama orang Bali, tatkala dijawab dengan agama kedamaian, matanya tersenyum penuh dengan kekaguman, jiwanya membungkuk dengan rasa hormat.

Lapar Kedamaian

Bila boleh jujur, terlalu banyak pencari yang lapar sekali dengan kedamaian. Demikian laparnya, bahkan tidak sedikit manusia yang dengan gegabah mau meninggalkan tradisi tempat lahirnya. Padahal, meninggalkan tradisi tempat lahir serupa dengan pohon yang meninggalkan akar. Pada waktunya, ia akan kering.

Ciri lain manusia yang lapar kedamaian, ia sangat bernafsu untuk menemukannya di luar. Ada yang mencoba menemukannya dalam makanan, minuman, hiburan. Dan semua yang mencoba menemukan kedamaian di luar, semuanya tersesat entah ke mana.

Padahal, rasa lapar akan kedamaian adalah kerinduan jiwa untuk pulang. Bila perut lapar obatnya makanan dan minuman, jiwa rindu pulang obatnya adalah penggalian ke dalam. Ia serupa mengupas buah kelapa muda. Kulit luarnya keras, batoknya lebih keras lagi. Orang memerlukan alat agar bisa membukanya. Tapi bila kelapa mudanya sudah dibuka, di dalamnya ada kelapa yang lembut, air yang sejuk.

Kolam Kedamaian

Meminjam piskolog Carl G. Jung, manusia akan melakukan apa saja untuk menghindari perjumpaan dengan sang Jiwa. Terutama karena mirip dengan mengupas kelapa muda, awalnya sangat menyakitkan sekaligus menakutkan. Ini yang menjelaskan kenapa Nelson Mandela dipenjara 27 tahun, Mahatma Gandhi ditembak, YM Dalai Lama kehilangan negerinya yang tercinta di umur belasan tahun. Sederhananya, perjumpaan dengan sang Jiwa amat menyakitkan.

Tapi bila tulus, tekun, ikhlas di depan penderitaan, serupa kayu yang dihaluskan oleh amplas keras, pada waktunya jiwa akan jadi halus, lembut, bercahaya. Meminjam pendapatnya Santo Agustinus, tatkala Yesus mendekati salib, beliau seperti seorang pengantin pria berjumpa pengantin wanita. Untuk berjumpa sang Jiwa, tidak perlu pergi jauh-jauh. Yang bekerja, tulus dan tekun di tempat kerja. Yang di rumah, tulus dan halus melayani orang rumah. Dan siapkan mental, kebaikan, ketulusan akan mengundang guncangan yang lebih hebat lagi.

Dan di puncak guncangan inilah, jiwa menunjukkan cahayanya. Mirip dengan cerita pangeran Siddartha, tatkala beliau pertama kali meninggalkan istana, guru simbolik di alam memberikan pelajaran pertama: “hidup adalah duka”. Seorang sahabat di Barat bercerita, di puncak guncangan ia kerap bermimpi terbang, ringan di udara. Melihat ke bawah semua makhluk yang menangis memerlukan pertolongan. Terutama orang-orang yang menyakiti dan melukai, sesungguhnya mereka menangis memerlukan pertolongan.

Bulan Purnama Kedamaian

Setelah lewat dari guncangan-guncangan berat seperti ini, baru telinga jiwa bisa mendengar, mata jiwa bisa melihat, ternyata hidup adalah puisi indah kedamaian.Penderitaan, kesedihan, kepedihan hanya suara-suara yang membimbing jiwa agar pulang. Orang-orang yang menyakiti, melukai, mencaci hanya orang-orang yang memerlukan pertolongan.

Dengan penggalian seperti ini, kehidupan di dalam berubah wajah jadi samudra senyuman dan pengertian. Gelombang pikiran dan emosi masih ada, tapi kita bukan gelombang melainkan samudra. Kehidupan di luar berubah menjadi malam gelap yang memerlukan cahaya bulan purnama kedamaian. Senyuman, pelayanan, pertolongan, itulah bentuk-bentuk cahaya yang memancar dari bulan purnama kedamaian. Perhatikan salah satu lirik puisi Upanishad ini: “When I forget myself, I serve you. In serving I rediscover that I am you“.

Sebait puisi Upanishad ini bercerita, hidup adalah sebuah puisi kedamaian. Awalnya banyak jiwa yang tersesat. Jiwa-jiwa ini kemudian menemukan kembali dirinya dalam pelayanan. Dalam filsafat Timur, pencapaian seperti ini disebut Satchittananda. Tatkala keberadaan (sat) berjumpa kesadaran (chitt), ia melahirkan suka cita abadi (ananda). Dan puncak suka cita ini – sebagaimana puisi Upanishad sebelumnya – adalah pelayanan. Dalam pelayanan, kata saya lenyap dan membukakan pintu pengertian yang baru: “saya adalah Anda”.

————————————–

 

English Note: English speaking friends, the messages that flowing through me can be accessed in twitter @gede_prama or web //www.bellofpeace.org

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 Komentar