Kedamaian Spiritualitas

CINTA MEMBAWA KEDAMAIAN

CINTA MEMBAWA KEDAMAIAN
Ditulis oleh Gede Prama

CINTA MEMBAWA KEDAMAIAN

Suatu hari ada orang kaya dengan empat istri yang siap-siap meninggal karena umur tua. Tentu saja yang pertama kali dipanggil adalah istri ke empat. Belum sempat mengungkapkan keinginan agar istrinya mau menemani di jalan kematian, istri ke empat sudah pergi sambil membanting pintu.

Dengan sedih orang kaya ini memanggil istri ketiga. Begitu selesai bertanya apakah istrinya mau ikut mati, wanita ini langsung berucap: “maaf, saya hanya bisa menemani kanda sampai di sini saja”. Kendati hatinya tambah pedih, orang kaya ini memanggil istri kedua. Istri ini jawabannya lebih sopan: “saya bisa menemani, cuman hanya sampai di kuburan”.

Sehingga tidak ada pilihan lain terkecuali memanggil istri pertama yang tua, renta, berambut putih, serta tidak pernah mendapat perhatian. Anehnya, saat ditanya kesediaannya menemani ke alam kematian, wanita keriput ini berbisik lembut di telinga suaminya: “saya akan menemani kanda ke mana pun dan sampai kapan pun”.

Cerita ilustratif ini adalah cerita banyak manusia di depan kematian. Istri ke empat yang paling menarik dan atraktif bagi orang kebanyakan adalah harta dan tahta. Jangankan setelah tua dan sakit, bahkan tubuh masih segar bugar pun, tahta dan harta digoyang banyak orang.

Istri kedua yang hanya bisa mengantar sampai waktu kematian adalah tubuh fisik. Begitu seseorang mati, tubuh fisik langsung mengucapkan selamat tinggal. Istri ketiga yang menghantar hanya sampai di kuburan adalah keluarga dan kerabat dekat.

Tentu timbul pertanyaan, siapa istri pertama yang demikian setia menemani setelah waktu kematian, kendati ia telah lama tidak diperhatikan. Dia tidak lain adalah praktik spiritual mendalam. Itulah satu-satunya yang dibawa jiwa setelah kematian. Sedihnya, terlalu banyak manusia di zaman ini meninggal tanpa bekal praktik spiritual mendalam. Sebagai hasilnya, perjalanan jiwa menjadi sangat menyedihkan.

Di dunia spiritual mendalam dikenal luas pendapat, kualitas spiritual seseorang terlihat terang saat kematian. Dalam pengalaman sejumlah Guru tingkat tinggi, alam bahkan melakukan penghormatan. Langit menghormat dengan pelangi, bumi menghormat dengan gempa kecil.

Ramakrisna adalah seorang Guru yang meninggalnya indah. Saat beliau meninggal di umur muda, istrinya Sharadadevi tidak menangis, bahkan tidak ikut pergi ke tempat kremasi. Tatkala ditanya kenapa, wanita lembut ini menjawab: “tubuh fisik Ramakrisna memang wafat, tapi cinta Ramakrisna akan tetap hidup di hati saya”.

Sejak saat itu Sharadadevi tidak pernah berhenti menyiapkan sarapan, makan siang, handuk serta persiapan sehari-hari pada suaminya yang sudah dikremasi. Bahkan tempat tidur suaminya yang sudah kosong pun, tetap ditutup kain kelambu agar tidak dimasuki nyamuk.

Anehnya, tatkala Sharadadevi mau meninggal karena usia tua , ia malah menangis: “nanti siapa yang menyiapkan makanannya Ramakrisna?”. Inilah praktik spiritual mendalam. Di depan kematian seseorang hanya melihat cahaya cinta yang menawan. Sebagai akibatnya, perjalanan jiwa kemudian akan penuh dengan kedamaian.

Author: Gede Prama.
Photo Courtesy: Twitter @N2313Neagoe.

============

Pesan-pesan Gede Prama dalam bahasa Inggris bisa dibaca di www.bellofpeace.org atau fb Home of Compassion by Gede Prama

English Note: English speaking friends, the messages that flowing through me can be accessed in twitter @gede_prama or web http://www.bellofpeace.org

ringkasan bahasa Inggrisnya ada di fb Home of Compassion by Gede Prama

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 Komentar

  • Yanti • 2 years ago
    Bapak adalah salah satu guru spiritual saya selama ini, yang telah berpengaruh besar dalam melihat permasalahan hidup menjadi lebih tenang.
    Dalam menerapkan ajaran ini, awalnya sungguh berat karena lingkungan kerja penuh dengan orang yang kurang bijak dan selalu ingin menjatuhkan mental..
    Mohon selalu bimbingan Guru, ingin rasanya jika kesempatan itu tiba.. saya bisa bertemu langsung dengan Guru..

    Rivaldi • 2 years ago
    Hanyalah padamu, hanyalah bagimu seluruh hidup dan cintaku, Matur suksma Guru…

    danang • 2 years ago
    mantab guru, terimakasih

    putu candra • 2 years ago
    Terima kasih guru….

    setiadjina • 2 years ago
    mantap….

    ketut wex • 2 years ago
    Matur suksma 🙂

    wayan sudika • 2 years ago
    Matur suksma Pak Gede, …..Rahayu!

    Gede Juliarta • 2 years ago
    Matur suksma Guru, mohon izin share.

    i kadek adi pradana • 2 years ago
    Terimakasih Guru 🙂