Kedamaian Spiritualitas

Jejak-jejak Makna (20)

Ditulis oleh Gede Prama

Kapan saja alam sadar lengkap dengan logika dan rasa tidak banyak membantu, minta bantuan alam bawah sadar. Jika keduanya tidak banyak menolong, jumpai diri Anda yang sakral dan suci. Itu bunyi sebuah nasehat tua. Sedihnya, sangat sedikit ada manusia yang bisa berkomunikasi dengan alam bawah sadar. Jauh lebih sedikit lagi jumlah manusia yang bisa berjumpa Diri yang Agung. Dalam kaitan inilah, buku Dr. Wayne W. Dyer yang berjudul “Your Sacred Self” (diri Anda yang sakral dan suci) bisa dijadikan sebagai salah satu acuan. Buku ini ditulis secara sangat populer, sehingga mudah dimengerti oleh orang biasa. Ada tiga jalan setapak yang disarankan. Pertama, bertumbuh dari kehidupan yang merasa serba kurang menjadi kehidupan yang serba berkecukupan. Kedua, dari rasa berdosa menuju wajah jiwa yang bercahaya. Ketiga, dari keinginan untuk selalu mendapatkan lebih menuju kehidupan yang bebas dari keinginan.Penjelasannya terlihat mudah, tapi menjalaninya jauh dari mudah. Terutama di zaman di mana setiap hari manusia digoda oleh iklan dan lingkungan yang berbunyi seperti ini: “Anda bisa lebih berbahagia kalau memiliki lebih banyak lagi”. Dan hasilnya sudah terlihat di sana-sini, di mana-mana hadir jiwa-jiwa resah dan gelisah yang sangat menyentuh hati. Di Barat ada peneliti yang menemukan: “Jika di negara berkembang banyak manusia tidak bisa makan karena dibelit kemiskinan, di negara-negara maju yang kaya materi juga hadir semakin banyak manusia yang tidak bisa makan. Tentu bukan karena kemiskinan, tapi tidak bisa makan karena hidupnya penuh ketakutan”.

Butuh waktu sangat lama bagi penentu kebijakan untuk menentukan lagi arah baru pembangunan. Tapi sebelum jurang kerumitan menelan jiwa Anda, ada baiknya dipikirkan kembali cara hidup yang hanya memikirkan hal-hal material semata. Buku ini memberi saran praktis: “Buang keraguan Anda, kurangi dialog-dialog penuh drama di dalam, bebaskan diri yang lebih tinggi dari ego dan keakuan. Kemudian, duduk di atas menjadi seorang saksi yang penuh belas kasih”. Serangkaian langkah yang sejalan dengan ajaran-ajaran meditasi. Soal membuang keraguan, itu tidak mudah bagi ia yang hidupnya masih senang. Tapi begitu tubuh diserang kanker ganas, keluarga bubar, keuangan berantakan, di sana banyak sahabat mulai mencari Cahaya spiritualitas. Soal mengurangi dialog-dialog penuh drama di dalam, ini bisa dilakukan sejalan pertumbuhan meditasi. Mengenai membebaskan diri yang lebih tinggi dari keakuan, ia bisa dilakukan melalui tugas-tugas pelayanan. Dan menjadi saksi yang penuh belas kasih, itulah puncak gunungnya meditasi. Semuanya dilihat dengan mata S3 (senyum, senyum saja).

Sementara sebagian agama mengundang manusia memasuki wilayah-wilayah diri yang sakral dan suci, melalui ancaman neraka, serta iming-iming surga, begitu seseorang duduk lama di kursi saksi yang penuh belas kasih, semuanya berjalan alamiah. Jauh dari ancaman, jauh dari ketakutan, sekaligus jauh dari harapan berlebihan. Sebagaimana sifat alami lautan yang penuh gelombang, sifat alami jiwa yang duduk sebagai saksi yang penuh belas kasih adalah penuh kasih sayang. Jika sebagian agama menempatkan kasih sayang sebagai perintah dogmatik, di jalan ini kasih sayang adalah bunga jiwa yang mekar secara sangat simpatik. Sederhananya, silahkan bertumbuh sesuai panggilan alami Anda. Dari menjadi pekerja hingga ibu rumah tangga. Dan di tengah panggilan keseharian ini latih diri untuk menemukan diri Anda yang sakral dan suci. Dalam bahasa ringkas namun dalam, belajar berbahagia dengan cara membuat orang lain bahagia.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Koleksi pribadi

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.