Kedamaian Spiritualitas

Jejak-jejak Makna (21)

Ditulis oleh Gede Prama

Say it with flower (nyatakan dengan bunga indah), itu bunyi sebuah pesan tua di Barat. Dulunya, pesan ini diterjemahkan ke dalam bentuk sikap keseharian yang suka berbagi bunga. Sekarang, mungkin pesan ini mesti diterjemahkan secara lebih mendalam. Tidak lagi sekadar berbagi bunga indah, tapi juga berbagi sikap yang indah. Terutama karena di sana-sini muncul berita-berita yang bikin banyak jiwa gelisah. Dari politisi yang berkelahi tanpa mengenal henti, sampai berita bunuh diri. Jika sebagian media menambang uang di tengah kekerasan, jiwa-jiwa bercahaya berbagi kesejukan di tengah kekerasan. Dalam bingkai seperti ini, buku berjudul “A Flower Does Not Talk: Zen essays” yang ditulis Abbot Zenkei Shibayama, sangat diperlukan kehadirannya. Sebagaimana pemahaman orang Zen umumnya, pikiran dualistik lengkap dengan pertengkarannya di dalam – dari salah melawan benar, sampai yang kotor bertempur dengan yang suci – disadari sebagai akar semua kekisruhan di dalam. Dan semakin diperdebatkan, semakin kisruh seseorang di dalam. Buktinya ada banyak sekali di masyarakat. Mengungkapkannya kembali di sini, hanya akan memperpanjang daftar kekisruhan yang sudah panjang.

Sebagaimana kegelapan yang tidak bisa diterangi oleh kegelapan, kekisruhan juga tidak bisa diselesaikan dengan kekisruhan. Di tengah lautan kekisruhan, hanya jiwa-jiwa yang hening-bening yang bisa melihat dan mendengar. Keheningan dan kebeningan inilah yang dicari oleh orang-orang Zen. Tidak dengan cara menjelekkan pemerintah, tidak dengan cara memperdebatkan buku suci, tapi dengan cara melampui jurang dalam bernama pikiran dualiistik. Ada yang melakukannya dengan cara meditasi, ada yang melakukannya dengan tumbuh bertahun-tahun di alam terbuka yang bebas dari suara. Penulis buku ini Zenkei Shibayama termasuk jenis pencari yang tumbuh di alam terbuka tanpa suara. Itu sebabnya, simbol-simbol yang dipakai semuanya mengambil dari alam. Perhatikan salah satu bait indah di buku ini: “Seperti salju dan air. Tidak ada salju yang bisa dipisahkan dengan air. Tidak ada Buddha yang bisa dipisahkan dengan ciptaan yang ada di alam”. Sementara pikiran dualistik yang menderita mempertentangkan antara kotor dan suci, Buddha (pencerahan) dengan bukan Buddha, pencari seperti Shibayama tidak mengenal tembok yang memisahkan antara yang kotor dengan yang suci. Semuanya tumbuh di taman pencerahan yang sama.

Itu sebabnya, merobohkan semua tembok dualitas adalah target pencari di jalan Zen. Begitu tembok-tembok dualitas itu roboh, di sana seseorang mengalami “transmission outside the scriptures”. Cahaya di dalam diri dinyalakan, tidak oleh buku suci, melainkan dinyalakan oleh pengalaman kebersatuan. Tandanya sederhana, seseorang melihat ternyata semua sempurna apa adanya. Ikan berrenang di air, burung terbang di udara. Keduanya berbeda, tapi keduanya sempurna apa adanya. Di kala hujan, ayam menjauh dari air, bebek mencemplungkan diri di kolam. Keduanya mengambil jalan bersebrangan, namun keduanya sempurna apa adanya. Perhatikan puisi terindah yang disajikan buku ini: “Dalam keheningan bunga mekar indah. Dalam keheningan bunga layu dan dibuang ke tong sampah”. Ringkasnya, apa yang disebut orang biasa dengan judul yang hebat-hebat mirip dengan bunga indah. Dan semua bunga indah akan dibuang ke tong sampah. Sesampai di sini, bukan berarti seseorang lantas meninggalkan dunia orang biasa. Tapi kembali ke dunia orang biasa dengan membawa Cahaya. Persisnya, Cahaya dalam bentuk sikap yang indah. Setidak-tidaknya menatap dengan mata yang penuh penerimaan. Atau membuat bibir bersahabat dekat dengan senyuman.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Koleksi pribadi

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.