Kedamaian Spiritualitas

Jejak-jejak Makna (22)

Perhatikan cara manusia berinteraksi di mana-mana. Baik di ruang pribadi atau di ruang publik. Nyaris semua orang mau mendominasi yang lain. Cirinya, kebanyakan orang mau didengarkan, nyaris tidak ada yang mau mendengarkan. Hampir semua orang menganggap dirinya paling benar, nyaris tidak ada yang mengaku bersalah. Sebab di balik semua ini ada banyak. Salah satunya, manusia gagal terhubung dengan sumber energi. Dan kekurangan energi ini mau ditutupi dengan merebut energi dari orang lain. Dan sebagaimana terlihat di sana-sini, cara berrebut energi seperti ini tidak membuat lingkungan tambah sejuk. Sebaliknya, membuat lingkungan tambah panas di mana-mana. Amerika Serikat adalah negara dengan tingkat pendidikan paling maju. Pemenang hadiah nobel paling banyak dari sana. Kalau di negara dengan jumlah doktor paling banyak saja panas, apa yang terjadi di negara-negara yang banyak penduduknya tidak punya ijazah sekolah dasar? Dari sinilah kemudian muncul kebutuhan sangat mendesak agar jiwa belajar terhubung dengan sumber energi.

Diantara banyak pilihan yang tersedia, loving-kindness (cinta dan kebaikan) adalah salah satu jembatan indah menuju ke sana. Awalnya, loving-kindness membuat seseorang mengurangi rasa bersalah. Terutama karena di masa muda khususnya, semua orang melakukan kesalahan. Jika dilakukan secara mendalam, loving-kindness membangkitkan perasaan berguna dan bermakna. Teman-teman yang sering melakukan tugas pelayanan mengalami, semakin dalam pelayanan seseorang semakin nyenyak tidur di kebanyakan malam. Ujungnya indah sekali, loving-kindness membuat seseorang mengalami keterhubungan. Dalam bahasa Upanishad: “Ternyata yang melayani dan yang dilayani sama”. Demikianlah perjalanan menemukan sumber energi di jalan loving-kindness. Sehingga mudah dipahami kalau Tulku Thondup memberi judul bukunya dengan “The Healing Power of Loving-Kindness”. Terutama karena loving-kindness memang menyembuhkan. Buku ini dibuat untuk para pemula. Di tingkatan pemula, seseorang diminta membayangkan jiwa suci yang mewakili loving-kindness. Bisa Shivaji, Bunda Maria, Dewi Kwan Im, dll. Yang disarankan buku ini, jiwa suci yang dibayangkan adalah Buddha belas kasih Avalokiteshvara.

Dengan cara sesering mungkin membayangkan Buddha belas kasih di dalam pikiran, pelan perlahan pikiran-pikiran negatif seperti marah dan serakah berubah menjadi pikiran-pikiran yang indah. Ada beberapa langkah yang disarankan. Pertama, yakini kalau Buddha belas kasih hadir di hadapan Anda. Kedua, bangunkan benih-benih loving-kindness di dalam diri. Sebagai bahan renungan, kita semua dibikin oleh sepasang ibu-ayah yang saling berpelukan. Saat masih bayi, dirawat oleh orang tua dan keluarga dekat juga dengan loving-kindness. Demikian juga di sekolah. Ketiga, bagikan energi loving-kindness pertama-tama ke orang dekat. Kemudian, melebar ke orang yang tidak dikenal. Sampai akhirnya berbagi energi loving-kindness pada orang yang menyakiti beserta seluruh isi semesta. Siapa saja yang dengan tekun dan tulus melakukan langkah ini secara terus menerus, bukan tidak mungkin yang bersangkutan akan terhubung dengan pusat energi. Sementara orang kebanyakan jiwanya panas dengan cara berebutan energi, ia yang sampai di sini akan tumbuh sejuk dan teduh dengan cara berbagi energi. Ringkasnya, jika uang dibagikan akan berkurang, energi jika dibagikan akan membuat perjalanan jiwa semakin terang.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Koleksi pribadi

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.