Kedamaian Spiritualitas

Jejak-jejak Makna (23)

Ditulis oleh Gede Prama

Jika jiwa sakit tinggal di rumah, daya rusaknya hanya di sekitar rumah. Bila jiwa sakit menjadi tokoh publik yang dikenal banyak orang, daya rusaknya akan menular ke banyak sekali orang. Namun jika jiwa yang sakit memimpin negara sangat berpengaruh, maka daya rusaknya akan menjalar ke seluruh dunia. Belajar dari sini, penting sekali sejak awal tidak saja memikirkan kesuksesan material, tapi juga mempertimbangkan dampaknya pada kesembuhan jiwa. Badan kesehatan dunia WHO pernah meramalkan, sejak tahun 2020 (sudah dekat) penyakit mental akan menjadi beban lebih berat dibandingkan dengan penyakit fisik. Tanda-tanda ke arah itu ada, serta terlihat semakin jelas. Sebelum ia mengunjungi diri Anda dan keluarga, ada baiknya untuk mengendapkan karya indah Deepak Chopra yang berjudul: “Journey Into Healing: Awakening the wisdom within you”. Yang unik dari penulis kelahiran India ini, beliau seorang dokter medis yang mendalami penyembuhan Ayurvedic. Semacam sintesis Barat-Timur yang sangat menginspirasi. Perhatikan cara dokter medis ini mengawali bukunya di bagian cover: “Manusia adalah satu-satunya ciptaan di alam yang bisa mengubah biologi tubuh melalui apa-apa yang dipikirkan dan dirasakan”. Dengan kata lain, kesembuhan bisa dimulai dari pikiran dan perasaan.

Jika penyakit dan rasa sakit diandaikan sebagai pulau ketidaknyamanan, tanpa disadari banyak sekali manusia yang berlayar menuju pulau ketidaknyamanan ini. Terutama melalui pikiran yang serba melawan, serta perasaan yang penuh keluhan. Tanpa dikehendaki, tiba-tiba saja seseorang sudah terkena penyakit kronis yang ganas. Oleh karena itu, apa pun panggilan hidup Anda – dari pekerja sampai ibu rumah tangga, yakinlah kalau Anda tidak sedang berlayar menuju pulau ketidaknyamanan. Caranya, jauhkan pikiran dari penghakiman dan permusuhan. Berhenti meracuni perasaan dengan keluhan dan perlawanan. Kemudian, isi keseharian Anda dengan pengalaman kebersatuan yang penuh rasa trimakasih. Senyuman adalah teman indah dalam hal ini. Lingkungan yang mendukung, itu teman berikutnya. Itu sebabnya, mudah dimengerti kalau Deepak Chopra memiliki pengertian tentang kesehatan yang agak lain: “Health is not the absence of disease. It’s an inner joyfulness that should be ours all the time – a state of positive well-being”. Kesehatan bukanlah keadaan tanpa penyakit. Melainkan keadaan sukacita penuh dan utuh di dalam. Yang perlu digarisbawahi dalam hal ini adalah “keadaan sukacita yang penuh dan utuh”. Sederhananya, siang boleh berganti menuju malam, kawan boleh berubah menjadi lawan, namun ingatlah selalu sifat “utuh” dari kehidupan.

Mirip dengan sayap burung yang berpasang-pasangan, duka pasangannya suka, cacian pasangannya pujian, gagal pasangannya sukses. Keadaan sukacita yang penuh dan utuh di dalam akan tercapai, kalau seseorang bukannya diseret ke sana ke mari oleh pikiran dan perasaan. Melainkan duduk di atas pikiran dan perasaan sebagai seorang saksi yang penuh belas kasih (compassion). Makanya, berulang-ulang ahli pengobatan ayurvedic ini menulis, Anda bukan tubuh, bukan pikiran, bukan perasaan. Anda seorang saksi yang berdiri di pinggir sungai. Dan tubuh, pikiran, perasaan terus menerus mengalir seperti air. Aliran air ini memang bisa diganggu oleh ini dan itu. Tapi Diri Anda yang sejati tidak bisa diganggu oleh apa pun dan siapa pun. Terutama karena Diri sejati istirahat diantara dua pikiran. Di ruang hening-bening diantara dua pikiran inilah Diri sejati bermukim. Siapa saja yang sudah “istirahat” di ruang hening-bening di antara dua pikiran, ia tidak saja sembuh dan utuh, tapi juga ikut menyembuhkan dunia. Meminjam sebuah pepatah tua, tatkala Anda menyembuhkan diri, Anda juga sedang menyembuhkan dunia.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Koleksi pribadi

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.