Kedamaian

Jejak-jejak Makna (24)

Ditulis oleh Gede Prama

Di Zen pernah ada cerita seperti ini. Suatu hari ada orang buta yang melakukan perjalanan malam. Agar tidak ditabrak orang, ia dibekali lentera. Entah kenapa, di tengah jalan lenteranya padam. Begitu orang buta ini ditabrak orang, dengan kasar ia bertanya: “Kamu buta ya, saya sudah membawa lentera tapi tetap ditabrak”. Inilah kisah banyak manusia. Lentera jiwanya sudah padam, tapi dengan percaya diri berani menghakimi orang. Sebagian bahkan betul-betul menyerang. Buku “Handbook For The Soul” yang diedit oleh Richard Carlson dan Benjamin Shield ini bercerita secara sangat jujur, betapa sedikitnya yang kita ketahui tentang jiwa manusia. Kendati kedua editor ini bergelar Ph.D di bidang psiko terapi, dengan terang-terangan mereka menulis seperti ini: “We approach this subject as students, not experts” (kami mendekati jiwa manusia sebagai murid, bukan sebagai seorang ahli). Ringkasnya, jiwa manusia memang tidak sederhana. Kendati tidak sederhana, mesti ada yang berani memasuki wilayah ini. Terutama agar ada yang berbagi Cahaya.

Sementara matematika kaya dengan logika, jiwa sangat kaya dengan rasa. Itu sebabnya, Jacob Needdleman, Ph.D menulis dalam buku ini: “Understanding and love go together”. Sulit membayangkan ada manusia yang bisa mengerti jiwa tanpa bekal kasih sayang sama sekali. Ia sama sulitnya dengan memotret pelangi yang kaya warna dengan kamera hitam-putih. Untuk itu, setiap sahabat yang tertarik memahami jiwa, lebih-lebih memiliki panggilan hidup untuk berbagi Cahaya, latih diri untuk memberi nutrisi pada jiwa. Terutama dengan cara melaksanakan kasih sayang secara mendalam. Begitu praktik kasih sayang mendalam, maka pemahaman seseorang akan jiwa juga mendalam. Itu sebabnya, jiwa-jiwa bercahaya di zaman kita, semuanya bertumbuh di tengah penderitaan yang membangkitkan kasih sayang. Nelson Mandela mengalami penderitaan di tengah penjara Afrika Selatan selama 27 tahun, Bunda Teresa bertumbuh di tengah kota Kalkuta yang kumuh. YM Dalai Lama kehilangan negerinya di umur 15 tahun. Mahatma Gandhi bahkan wafat ditembak orang. Dengan kata lain, perjalanan memahami jiwa adalah perjalanan sangat berbahaya. Stephen Levine bahkan terang-terangan menulis dalam buku ini: “Safety is the most unsafe spiritual path”. Perjalanan memahami jiwa yang serba aman dan nyaman tidak ada. Justru kalau semuanya terlihat aman, itu tanda kalau perjalanan jiwa sedang berbahaya.

Kendati seberbahaya itu keadaannya, mesti ada yang punya nyali untuk memasuki wilayah-wilayah jiwa, untuk kemudian berbagi Cahaya. Setiap sahabat yang perjalanan jiwanya dalam mengerti, semakin dalam seseorang memahami jiwa, semakin hebat guncangan yang datang. Ia bahkan datang dari orang yang semakin dekat. Dari orang yang sangat dicintai dan sangat disayangi. Bagi orang biasa, perjalanan ini sangat menyakitkan. Salah-salah seseorang bisa masuk jurang. Tapi bagi para pemberani – di Tantra disebut Mahasiddha – rasa sakit seperti ini adalah wilayah-wilayah pemurnian dan penyempurnaan jiwa yang sangat luar biasa. Ketulusan dan keikhlasan adalah kawan dekat. Senyuman adalah malaikat penyelamat. Kasih sayang adalah lentera di sepanjang perjalanana. Sangat sedikit ada jiwa pemberani yang bisa melewati terowongan jiwa seperti ini. Bagi yang bisa melewati terowongan menakutkan ini, akan berjumpa dunia sebagaimana ditulis Elisabeth Kubler-Ross, MD dalam buku ini: “Evertyhing, even tragedy is a gift in disguise”. Tidak ada musibah, bahkan tragedi pun adalah berkah yang menyamar. Kesimpulannya, jika manusia yang lentera jiwanya padam bertumbuh di tengah kekerasan, manusia yang lentera jiwanya terang bertumbuh di tengah kedamaian. Bukan sembarang kedamaian, tapi kedamaian yang menjadi rahim bagi lahirnya bayi cantik kasih sayang.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Koleksi pribadi

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar