Kedamaian Spiritualitas

Jejak-jejak Makna (26)

Ditulis oleh Gede Prama

Sukses, itulah Cahaya indah yang dicari oleh banyak sekali orang. Nyaris sebagian lebih energi mencari manusia ditujukan untuk menemukan Cahaya ini. Dari anak sekolah sampai dengan orang tua bermasalah, dari jiwa yang luka sampai dengan pengusaha kaya, nyaris semuanya mau sebutan sukses. Kendati pengertian sukses itu bertumbuh sesuai dengan pertumbuhan jiwa seseorang, tetap saja banyak pencari yang haus dan lapar akan Cahaya kesuksesan. Itu sebabnya, buku, cd, vcd, dvd, film yang bercerita tentang kesuksesan nyaris selalu dibeli masyarakat dengan rasa dahaga yang mendalam. Dari pengertian sukses yang paling dangkal seperti berlimpah uang dan pujian, sampai pengertian sukses yang dalam berupa pencerahan, semuanya diserap masyarakat seperti kacang goreng. Dan buku “The Seven Spiiritual Laws of Success” yang ditulis oleh Deepak Chopra masuk pada kelompok pengertian sukses yang agak dalam.

Di dunia spiritual mendalam, sudah lama terdengar pesan seperti ini: “Raja segala pengetahuan adalah pengetahuan tentang diri”. Tanpa pengetahuan jenis ini, maka semua arah akan menjadi arah yang salah. Tidak punya uang resah, punya uang gelisah. Tidak punya ijazah hidup jadi sulit, punya ijazah juga rumit. Inilah jenis manusia yang tidak mengenal dirinya, serta berpotensi untuk masuk jurang. Sehingga mudah dipahami, kalau dokter medis kelahiran India ini menyebut “hukum potensialitas sejati” sebagai hukum pertama. Ia mirip dengan kompas penunjuk arah perjalanan. Begitu kompas ada di tangan, lebih mudah untuk menemukan arah yang indah. Dengan kata lain, kurangi meniru orang lain secara berlebihan, lupakan energi bersaing dengan orang lain secara berlebihan. Kemudian kenali potensi diri yang sejati. Ia disembunyikan di balik banyak sekali hal. Dari mimpi-mimpi masa kecil, pengalaman di hari-hari awal sebagai anak kecil, sesuatu yang menentramkan di sepanjang perjalanan. Sebagian sahabat bahkan menemukan panggilan potensi dirinya yang sejati di balik penyakit yang menyerang. Penyakit jantung membawa tanda akan pentingnya cinta kasih. Penyakit lever (hepatitis) membawa pesan spiritual tentang pentingnya hati yang indah. Penyakit gangguan pernafasan memanggil seseorang untuk segera mengalami keterhubungan.

Dengan bekal pengetahuan akan diri seperti ini, seseorang akan bernasib seperti bunga kamboja yang menemukan tanah kering, mirip dengan bunga lotus yang menemukan lumpur yang basah. Berbekalkan sedikit upaya, tapi banyak keikhlasan, maka kehidupan seseorang akan mekar secara mudah sekaligus indah. Untuk para sahabat yang memiliki darah spiritual yang kental, apa lagi dikasi tanda akan berbagi Cahaya, buku ini sangat layak untuk dibaca. Perhatikan apa yang ditulis oleh dokter medis yang sering memadukan pengobatan modern dengan ramuan ayurvedic: “Kesuksesan adalah persepsi keilahian ke mana pun kita pergi. Apa pun yang kita cerap – dalam kebeningan mata anak-anak, dalam keindahan setangkai bunga, dalam alunan kepak sayap burung – semuanya menjadi pengalaman kesuksesan. Serangkaian pengertian tentang kesuksesan yang hanya cocok untuk jiwa-jiwa dewasa dan bercahaya. Kesimpulannya, silahkan mencari Cahaya kesuksesan semampu Anda. Namun siapkan mental sejak awal untuk menemukan panggilan alami Anda. Begitu ketemu, bertumbuhlah seindah mungkin di sana. Sambil selalu ingat, ikan berrenang di air, burung terbang di udara. Keduanya berbeda, tapi keduanya berbahagia apa adanya.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Koleksi pribadi.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.