Kedamaian Spiritualitas

Jejak-jejak Makna (28)

Ditulis oleh Gede Prama

Memiliki jiwa yang tidak mudah tenggelam, itulah pencapaian spiritual yang dirindukan banyak sekali orang. Di kala dicaci ia tersenyum, saat dipuji ia juga tersenyum. Seperti pohon kokoh yang tidak mudah roboh, seperti itulah pertumbuhan jiwa jenis ini. Dan untuk sampai di sana, ongkosnya sangat mahal. Tidak saja ongkos dalam bentuk uang mahal, ongkos dalam bentuk rasa sakit juga mahal. Di beberapa bagian jiwa bahkan melewati terowongan-terowongan sangat berbahaya. Itulah yang dialami oleh jiwa-jiwa yang dalam. Sekaligus itulah kisah-kisah yang mau diungkapkan oleh buku “Chicken Soup For The Unsinkable Soul” yang ditulis oleh Jack Canfield dkk. Seperti pelangi yang kaya warna, begitulah cara jiwa manusia bertumbuh. Di beberapa bagian seseorang boleh meniru, tapi di bagian yang lain jiwa yang dalam mesti bertumbuh unik dan otentik.

Di tingkat-tingkat awal, bertumbuh di keramaian serta meniru orang lain itu diperlukan. Dan buku ini lebih ditujukan pada pembaca awam yang bertumbuh di tingkat-tingkat awal. Perhatikan apa yang ditulis buku ini di halaman 83: “Fondasi sejati dalam hidup adalah keluarga”. Di zaman di mana lingkungan penuh dengan kekerasan, empati manusia menurun di sana-sini, keluarga adalah pohon jiwa yang sejuk. Itu sebabnya, di berbagai kesempatan sering dibagikan pesan ke banyak sekali sahabat agar merawat keluarga. Tidak saja karena keluarga akan menjadi tempat berteduh yang sejuk di usia tua, tapi karena merawat keluarga sama dengan membuat jiwa agar senantiasa bercahaya. Lebih dalam dari itu, cara terbaik untuk menyelamatkan jiwa di zaman ini adalah dengan cara menyelamatkan jiwa orang lain.

Itu sebabnya, buku ini kaya dengan kisah-kisah bagaimana jiwa-jiwa yang tidak mudah tenggelam jadi kokoh, tidak dengan cara lari dari masalah. Sebaliknya tumbuh di tengah masalah. Perhatikan pesan seorang Ibu di halaman 104 buku ini yang jiwanya kokoh karena merawat anak kesayangannya: “Ketika kau masih kecil, mama menggendongmu, menyanyikan banyak lagu, menemanimu tidur. Tujuan mama hanya satu, memberimu akar dan sayap jiwa”. Sementara di dunia material pemberian membuat seseorang jadi tambah miskin, di dunia spiritual pemberian membuat jiwa jadi kaya sekaligus dalam. Begitulah perjalanan jiwa menemukan akar yang kokoh, membuat sayap jiwa agar kuat. Ringkasnya, lupakan cita-cita jiwa bisa kaya dengan cara mudah dan murah. Kembangkan keberanian sejak awal untuk selalu memberi, melayani dan mencintai. Hasilnya tidak selalu lurus dan mulus. Kadang malah menyakitkan. Di tengah keadaan seperti ini, selalu ingat kalau kesulitan, kesedihan, kemalangan adalah malaikat yang menyamar.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Koleksi pribadi

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.