Kedamaian

Jejak-jejak Makna (29)

Ditulis oleh Gede Prama

Menemukan indra yang ke tujuh, itu mimpi banyak sekali pencari. Kalau indra ke enam dengan intusinya, sudah sering dibicarakan orang, tapi indra yang ke tujuh, ia relatif jarang dibicarakan orang. Terutama karena di sana-sini kehidupan bertumbuh semakin sulit dan rumit. Ilmu pengetahuan dan teknologi memang semakin maju, tapi kerumitan hidup juga bertumbuh semakin maju. Kehadiran social media sebagai contoh, di satu sisi memang menghadirkan berkah. Tapi di lain sisi juga membawa banyak musibah. Untuk membekali para sahabat agar jiwanya tumbuh seimbang, itulah alasan kenapa buku “Heart Sense: Unlocking Your Highest Purpose And Deepest Desire” karangan Paula M. Reeves, Ph.D ini menjadi layak direnungkan ulang. Setelah berjumpa ribuan sahabat yang sakit begini sakit begitu, resah karena begini gelisah karena begitu di sesi-sesi meditasi, di sana terlihat pentingnya pendapaf Reeves seperti ini: “To ignore your heart-centered input would be a major lost”. Di zaman ini, siapa saja yang mengabaikan suara-suara hati, ia akan mengalami kehilangan yang sangat mendalam. Bentuknya bisa bermacam-macam, bisa kehilangan orang yang dicintai, bisa kehilangan keluarga, bisa juga kehilangan kesehatan dan kedamaian.

Sebelum musibah spiritual ini mengunjungi diri Anda, cepat melatih diri untuk mengembangkan indra yang ke tujuh (baca: kecerdasan hati atau heart intelligence). Sebagai bahan renungan, di halaman 3 buku ini dikutip hasil penelitian seperti ini: “Tubuh manusia berisi energi elektromagnetik. Dan energi elektromagnetik-nya hati 5.000 kali lebih besar dari yang dimiliki otak”. Ini memberi masukan, siapa saja yang tumbuh di taman jiwa bernama hati yang indah, hidupnya akan berlimpah energi. Tidak saja lebih sedikit sakitnya. Tapi juga lebih banyak cahaya yang bisa dibagikan pada orang-orang sekitar. Pertanyaan yang sering ditanyakan banyak orang, di mana persisnya letak hati spiritual? Buku ini menjawab pertanyaan ini dengan jelas, tegas, lugas di halaman 125: “Heart live in spiritual realms where ego knows nothing”. Hati mulai mekar indah dalam kehidupan seseorang yang ego dan keakuannya mulai layu. Itu sebabnya, sahabat-sahabat di keluarga spiritual Compassion yang sering diajak melayani masyarakat secara tulus tanpa meminta imbalan apa-apa, kwalitas kesehatannya membaik, kwalitas keluarganya juga membaik, cahaya jiwanya juga membaik. Sebagian lebih diantara mereka tidak terlalu mengerti heart intelligence. Yang mereka mengerti hanya bakti kepada Guru.

Sehingga mudah dimengerti kalau di halaman 117 buku ini ada pesan seperti ini: “Home is where heart is”. Jiwa akan merasa aman, nyaman dan tentram tatkala seseorang tumbuh jauh dari ego dan keakuan. Ada beberapa ciri kalau seseorang sudah bertumbuh indah di wilayah-wilayah hati. Dari pikiran yang luwes dan terbuka, penghargaan pada perbedaan, melihat gambar yang lebih besar, merasakan penderitaan orang serta menemukan kebahagiaan dengan cara meringankan beban penderitaan mahluk lain. Apa pun bentuknya, perjalanan menuju ke sana tidak bisa dicapai hanya dengan logika dan kata-kata. Yang lebih banyak membantu adalah pelaksanaan dan tindakan dalam keseharian. Seperti membuka lapisan-lapisan bawang merah, pelayanan dan pelaksanaan dalam keseharian – lengkap dengan cacian dan makian orang-orang, salah-salah diusir dan dibunuh orang – membuat seseorang bisa menemukan wajah kehidupan yang semakin putih dari hari ke hari. Begitu tidak ada lagi yang bisa dikupas, yang tersisa hanya satu: “Air mata yang menetes”.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Koleksi pribadi

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar