Kedamaian

Jejak-jejak Makna (30)

Ditulis oleh Gede Prama

Menjadi sehat secara spiritual, itu dambaan banyak sekali orang. Jika ukuran sehat secara biologi sudah dikenal luas – dari warna kencing, kwalitas tidur, kandungan gula dalam darah, dll – ukuran sehat secara spiritual masih menjadi lahan pencaharian banyak sekali orang. Sebagian orang mengira, bisa melihat yang hebat-hebat adalah ukuran kesehatan spiritual. Ada juga yang menduga, kalau keajaiban adalah tanda penting kesehatan spiritual. Di Amerika Serikat sana bahkan ada penulis yang menulis buku “Bercakap-cakap dengan Tuhan”. Pesan implisit dari buku ini, penulisnya sudah berjumpa Tuhan. Dan Anda pun boleh menambahkan ukuran sesuai dengan kemampuan Anda. Namun buku “Spiritual Fitness: A seven-week guide to finding meaning and sacredness in your everyday life” karangan Caroline Reynolds, bercerita pengalaman seorang pencari, yang mewakili ciri khas pencari di zaman ini. Sebagaimana diakui Caroline di halaman XII, wanita ini pernah membahayakan jiwanya di jalan alkohol dan seks. Kemudian mengalami apa yang disebut psikolog Carl Jung sebagai “malam-malam gelap buat sang jiwa”. Di kelas-kelas meditasi, lebih dari sebagian sahabat yang datang juga mengalami ini. Macam-macam bentuknya, dari terkena penyakit kronis, luka jiwa yang menahun, keluarga yang bubar, sampai anak yang bermasalah. Intinya satu, begitu semua pintu terlihat tertutup, di sana seseorang mencari Guru spiritual.

Buku ini juga ditulis dengan latar belakang yang sama. Yang membuat buku ini bercahaya, ia ditulis tidak dengan meminjam kata-kata orang lain, melainkan berbicara langsung dari pengalaman penulisnya yang dalam. Ringkasnya, ada tiga sumber yang membuat seseorang sehat secara spiritual: “pikiran, kata-kata, perbuatan”. Pikiran disehatkan dengan cara meditasi. Terutama dengan cara mengistirahatkan semua pertengkaran dan drama di dalam. Kata-kata sebaiknya diawasi. Orang yang berkata-kata kasar atau bohong, di satu sisi memang sedang mengekspresikan diri, tapi di lain sisi ia sedang minum racun kejiwaan. Terutama karena kata-kata bergaung di ruang-ruang jiwa di dalam. Dan diantara semua perbuatan, yang mudah membuat seseorang sehat secara spiritual adalah pelayanan yang penuh ketulusan. Dalam bahasa sederhana namun dalam, cara terindah untuk menyembuhkan jiwa adalah dengan menyembuhkan jiwa orang lain. Sejujurnya, setiap orang memiliki perpaduan unik diantara ketiga sumber kesehatan ini. Ia yang menghabiskan banyak kesalahan di keramaian, disarankan sering duduk hening meditasi dalam kesendirian. Sahabat yang lahir di masyarakat dengan kata-kata tidak sedap, dianjurkan untuk lebih banyak menggunakan bahasa yang lembut dan halus. Teman-teman yang menghabiskan sebagian lebih hidupnya hanya memikirkan diri sendiri, sebaiknya melakukan tugas-tugas pelayanan.

Sebagaimana tubuh manusia yang selalu menyisakan misteri, jiwa manusia juga menyisakan banyak misteri. Itu sebabnya, di halaman 143 buku inj, dengan rendah hati Caroline mengakui: “Spiritual fitness is not about being perfect. It is about constantly aspiring to a life of heart-filled integrity”. Kesehatan spiritual bukan soal menjadi sempurna di sepanjang perjalanan. Melainkan soal terus menerus mengingatkan diri agar selalu kembali ke jalan hati yang indah. Sebagaimana terlihat di dunia nyata. Begitu seseorang kehidupannya meluncur turun ke jurang yang sangat berbahaya, parasut penyelamatnya bukan kepintaran tapi kebaikan. Kebaikan yang pernah dilakukanlah yang membuat orang-orang tertarik untuk menolong. Dan buku ini sangat kaya akan bahan renungan agar seseorang selalu ingat dengan parasut spiritual bernama kebaikan. Dari bagaimana membersihkan jiwa, hati-hati dalam penggunaan kata-kata, belajar meditasi, sampai dengan memegang tongkat komando sukacita. Begitu seseorang memegang tongkat komando sukacita, ia bisa memilih untuk penuh sukacita bahkan di tengah dukacita yang mendalam. Ringkasnya, inilah kesehatan spiritual.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Koleksi pribadi

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar