Kedamaian

Jejak-jejak Makna (31)

Ditulis oleh Gede Prama

Kekerasan sedang berpindah dari senjata menuju kata-kata. Jika senjata melukai tubuh, kata-kata melukai jiwa. Bila umur rasa sakit yang ditimbulkan senjata relatif pendek, umur rasa sakit yang ditimbulkan kata-kata bisa sangat panjang. Pesan ini sangat diperlukan di zaman kekinian, terutama karena banyak pemimpin dan tokoh publik tidak benar-benar paham akan daya luka kata-kata. Di sesi-sesi meditasi sering kelihatan, kata-kata yang diucapkan seseorang yang sudah wafat puluhan tahun lalu, masih menyisakan luka jiwa pada diri beberapa orang. Tidak kebayang banyaknya luka jiwa yang ditimbulkan oleh pemimpin negara berpengaruh di dunia, yang mengumbar kata-kata tidak sedap setiap hari di media-media dunia. Dalam konteks waktu seperti inilah, kehadiaran buku “Leadership Aikido” karangan John O’Neil sangat relevan. Penulis buku ini rupanya memahami dua bidang secara mendalam: “kepemimpinan dan seni bela diri Aikido”. Salah satu ciri unik bela diri Aikido, setiap peserta dilarang menyakiti. Tidak saja dilarang menyakiti orang lain, tapi juga dilarang menyakiti diri sendiri. Makanya, salah satu arti Aikido adalah the art of inner harmony (seni menemukan harmoni di dalam diri). Tempat berlatihnya bernama Dojo (a place of enlightenment). Bagi orang biasa, Dojo terlihat sebagai tempat orang bertarung. Tapi itu adalah tempat di mana orang-orang bisa menemukan pencerahan.

Pendekatan kepemimpinan seperti ini sangat diperlukan oleh zaman ini, terutama karena di sana-sini terlihat pemimpin yang tampaknya menang di ruang publik, tapi kalah di ruang pribadi (baca: resah, gelisah, marah-marah). Pemimpin yang karirnya terlihat terbang, tapi jiwanya masuk jurang (penuh ketakutan). Yang mau diperkenalkan oleh Aikido sederhana namun mendalam, begitu seseorang bisa mengalahkan musuh di dalam (seperti ketakutan dan ketidaktahuan), secara alamiah ancaman musuh-musuh luar akan menurun. Itu sebabnya, di Aikido setiap gerakan musuh di luar digunakan sebagai cermin jujur keharmonian seseorang di dalam. Tatkala seseorang diserang oleh musuh dari luar, ia tidak boleh menyerang balik, tapi kembali ke hara (titik pusat yang ada di dalam). Setiap bentuk rasa sakit yang ditimbulkan orang lain, ia adalah masukan jujur kalau konsentrasi seseorang jauh dari titik pusat di dalam. Sehingga mudah dipahami kalau di halaman 13 buku ini tertulis pesan: “Aikido did not make me a better fighter, it made me a better husband, a better father”. Bela diri Aikido tidak diniatkan untuk membuat seseorang menjadi petarung yang menimbulkan banyak luka, tapi diniatkan untuk membuat seseorang menjadi suami dan ayah yang penuh cahaya.

Jalan menuju ke sana ada banyak, dan yang dianjurkan oleh Aikido adalah menjaga harmoni di dalam. Pikiran yang lentur dan terbuka, hati yang bermandikan kasih sayang adalah sahabat dekat dalam hal ini. Di atas semuanya, diperlukan latihan untuk terus menerus bersahabat dengan ke-u-Tuhan kehidupan. Di halaman 54 buku ini ditulis: “Beyond winning and losing”. Belajar melampaui kalah dan menang. Orang yang menang dengan cara melukai orang lain sedang melukai jiwanya sendiri. Ia yang merawat orang lain sesungguhnya sedang merawat jiwanya sendiri. Pencapaian pemimpin yang tenang, tentram, nyaman seperti ini bisa dicapai dengan cara terus menerus berkonsentrasi pada hara. Sebuah titik pusat di dalam yang berlokasi sekitar beberapa inchi di bawah pusar. Setiap pemimpin yang sering istirahat di titik hara ini, tidak saja kata-katanya tidak menimbulkan luka, tapi keteladannya juga diikuti dunia. Meminjam sekelumit kisah Mahatma Gandhi, tatkala jutaan orang sudah siap mengikuti demonstrasi besar menentang penjajah Inggris, Mahatma Gandhi malah duduk tenang bermeditasi. Tatkala ditanya kenapa, pria kurus yang tidak memiliki rambut ini menjawab: “Tidak boleh ada setitik noda kemarahan”. Begitulah ciri jiwa yang sudah tumbuh di titik hara.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Koleksi pribadi

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar