Kedamaian

Jejak-jejak Makna (32)

Ditulis oleh Gede Prama

Ikan yang kehausan di tengah air, ayam yang kelaparan di lumbung padi, seperti itulah nasib banyak sekali pencari di zaman ini. Joseph Jaworski dalam bukunya “Synchronicity: The inner path of leadership” bercerita secara terang benderang soal ini. Ia bertutur melalui pengalaman pribadi, alias cerita tangan pertama, betapa keringnya jiwa yang hanya punya harta. Awalnya, Joseph pernah menjadi pengacara yang sangat kaya, memiliki perusahaan asuransi yang berhasil, tinggal di kawasan sangat elit, mengendarai mobil termewah yang pernah ada di Amerika Serikat. Tapi semua kemewahan material itu membuat jiwanya roboh, terutama karena keluarga yang sangat ia cintai bubar. Istri yang sangat ia cintai menggugat cerai, anak laki-laki satu-satunya memilih hidup bersama ibunya. Akibatnya, kehidupan yang tadinya bergelimang cahaya berubah mendadak jadi gelap dan pengap. Dari sinilah penulis ini mencari jawaban spiritual.

Sejujurnya, pemandangan di kelas-kelas meditasi tidak jauh berbeda dengan pengalaman Joseph. Belum pernah terdengar ada orang yang sedang kaya dan bahagia kemudian berusaha memperkaya jiwa dengan spiritualitas. Nyaris semua pencari di jalan spiritual, pintu pertamanya dibuka oleh penderitaan mendalam. Dari sakit kronis hingga kehilangan orang dekat. Dari anak bermasalah sampai kehidupan yang penuh musibah. Tapi sedikit pencari yang setekun dan setulus Joseph Jaworski. Kendati dibanting demikian hebat, dari puncak kehidupan material tiba-tiba jatuh di jurang spiritual yang sangat menakutkan, kemudian menemukan kilatan-kilatan Cahaya. Perhatikan apa yang ditulis buku ini di halaman 54: “My very worst performance happened when I operated at a purely rational level”. Jurang terdalam dilalui oleh Joseph tatkala ia tumbuh sepenuhnya menggunakan rasionalitas. Dari sinilah ia mengizinkan dirinya dibimbing oleh kebetulan-kebetulan yang penuh makna (synchronicity). Dibandingkan mencoba mengendalikan kehidupan, ia belajar mengizinkan kehidupan “mengalir” melalui dirinya.

Anehnya, apa yang tadinya ia kira musibah ternyata berkah. Apa yang di awal terlihat sebagai penderitaan mendalam, ternyata ia hanya cara sang jiwa memanggil pulang. Itu sebabnya, bagian ke empat dan bagian terakhir buku ini diberi judul “The Gift”. Setelah penderitaan mendalam dijalani dengan penuh ketulusan dan keikhlasan, di sana ada pintu spiritual terbuka: “Ternyata, semuanya berkah”. Di bagian agak akhir buku ini, Joseph mengutip pendapat TS Elliot yang memberikan tanda kalau ia menemukan Cahaya yang dicari: “And the end of our exploring will be to arrive where we started”. Di mana seseorang memulainya, di sana ia akan mengakhirinya. Dengan kata lain, manusia memulainya dengan pikiran yang polos ala anak-anak. Nanti jika diberkahi mengalami pencerahan, ia akan kembali ke pikiran polos yang sama.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Koleksi pribadi

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar