Kedamaian

Jejak-jejak Makna (33)

Ditulis oleh Gede Prama

Mengetahui yang satu membebaskan seseorang dari segala sesuatu, itu bunyi sebuah ungkapan tua di Tantra. Siapa yang mengerti yang satu ini melalui pencapaian – bukan melalui perkataan – maka ia akan terbebaskan. Tapi ia yang gagal mengerti yang satu ini, hidupnya akan mirip orkestra simfoni tanpa dirigen. Alat-alat musik yang berragam itu akan berbunyi bising tanpa arah. Tidak punya uang salah, punya uang gelisah. Sekolah bermasalah, tidak sekolah hidup jadi penuh musibah. Ringkasnya, semua arah menjadi arah yang salah. Seperti itulah kehidupan banyak orang. Dan yang dimaksud dengan yang satu ini adalah sifat alami dari pikiran. Untuk itulah, maka buku YA Thich Nhat Hanh yang berjudul “Understanding Our Mind” (mengerti pikiran kita) menjadi sangat penting. Terutama bagi para sahabat yang rindu mendalam akan kedamaian dan kebebasan. Ciri khas Guru meditasi ini, bahasanya selalu bersih dan jernih. Menyederhanakan tanpa kehilangan kedalaman. Di beberapa bagian, Bhiksu kelahiran Vietnam ini bahkan bisa memparalelkan antara meditasi dengan psikologi. Antara meditasi dengan filosofi. Kadang bahkan menggunakan ilmu fisika sebagai acuan. Hasilnya mudah ditebak, karya-karyanya sangat diterima di seluruh dunia.

Dan buku “Understanding Our Mind” bisa disebut sebagai intisari terdalam dari karya-karya beliau yang berjumlah ratusan, atau malah ribuan. Sederhananya, kehidupan jadi penuh masalah karena pikiran penuh dengan halusinasi (delusion). Ciri terdalam pikiran yang penuh halusinasi, ia mengira kalau dualitas seperti salah-benar, buruk-baik, duka-suka sebagai sesuatu yang independen dan tetap (parikalpita). Itu sebabnya, tidak terhitung jumlahnya manusia yang menderita karena berpisah dengan sukacita, atau berjumpa dukacita. Tidak terhitung jumlah manusia yang marah pada pihak salah, sekaligus marah karena membela pihak yang dianggap benar. Pikiran yang penuh halusinasi inilah yang ditransformasikan meditasi menjadi pikiran yang penuh iluminasi (cahaya terang). Caranya, endapkan dalam-dalam di kedalaman keheningan sifat semuanya yang saling
tergantung (paratantra). Bunga indah dan sampah, keduanya saling tergantung. Demikian juga lotus indah dan lumpur kotor, keduanya saling tergantung. Hal yang sama juga terjadi dengan duka-suka, salah-benar, buruk-baik. Keduanya saling tergantung. Orang baik terlihat baik karena ada orang jahat. Kedamaian terasa dalam karena seseorang pernah melewati kemalangan.

Siapa saja yang dalam memahami sifat paratantra (semua hal saling tergantung), suatu hari akan bisa mengalami realita yang tertinggi (nishpana). Di tingkatan realita seperti ini, dualitas seperti duka-suka tidak lagi berwajah dua, tapi menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ia sesederhana bunga lotus indah yang tidak bisa dipisahkan dengan lumpur kotor. Di tingkat pencapaian ini, avidya (ketidaktahuan) tidak lagi menjadi musuhnya vidya (pengetahuan). Keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Hal yang sama juga terjadi dengan samsara (alam penderitaan) dan nirvana (alam penuh kedamaian). Keduanya satu kesatuan. Di tingkat pikiran yang sudah bebas dari ilusi inilah, maka bisa dimaklumi kalau ada Zen Master yang memberi judul bukunya “Wanting Enlightenment Is a Big Mistake” (menginginkan pencerahan adalah sebuah kesalahan besar). Terutama karena pikiran yang penuh ilusi tidak bisa dipisahkan dengan pikiran yang penuh iluminasi. Sebagaimana ombak tidak perlu berjuang menjadi air, mirip bunga yang tidak perlu mencari madu, di tingkatan ini seseorang tidak perlu mencari pencerahan. Khususnya karena sifat terdalam pikiran sudah tercerahkan. Makanya bab ke dua dari akhir buku ini (bab 49) berjudul “Nothing To Attain”. Bab terakhir (bab 50) berjudul “No Fear”. Tidak ada yang perlu dicapai. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Ringkasnya, realita tanpa kelahiran dan tanpa kematian, ia ada dalam siklus kelahiran dan kematian. Jika ada yang bingung membaca kesimpulan ini, itu tanda kalau pikirannya masih penuh ilusi. Pikiran penuh ilusi inilah yang membuat kehidupan seperti orkestra tanpa dirigen, yang membuat semua arah jadi arah yang salah.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Koleksi pribadi

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar