Kedamaian

Renungan gempa Bali:

Ditulis oleh Gede Prama

Banyak manusia baru merenungkan kekuatan alam hanya saat-saat terjadi hal keras seperti bencana gempa. Sedikit yang rutin merenungkan kekuatan alam di balik hal-hal lembut seperti matahari terbit, bunga indah bermekaran, burung bernyanyi, bunyi deburan ombak, sampai dengan pelangi indah di langit sana. Padahal, pikiran manusia kolektif ikut mencipta wajah kehidupan. Dan ini dibenarkan oleh tidak sedikit ilmuwan kondang seperti Dr. Gregg Braden sampai Dr. Bruce Lipton.

Undangannya kemudian, mari belajar merenungkan wajah-wajah alam yang lembut. Dari melihat indahnya bintang, nyanyian kodok, sampai dengan bulan Purnama yang cahayanya demikian lembut. Ini tidak saja ikut menyeimbangkan energi di alam yang cenderung keras ketika terjadi gempa, tetapi juga ikut menjaga keselamatan manusia. Hasil penelitian yang sangat sering dikutip dalam hal ini adalah mahakarya Dr. Masaru Emoto soal bentuk partikel air.

Ketika di depan air diucapkan kata-kata yang tidak pantas, wajah partikel air menakutkan. Saat diucapkan kata damai, bentuk partikel air persis sama dengan berlian. Di dunia fisika kuantum, sudah lama disimpulkan bahwa pengamat ikut menentukan perilaku atom. Di atas tumpukan bahan renungan seperti ini, lagi dan lagi para sahabat diajak untuk terhubung dengan kekuatan-kekuatan lembut di alam.

Mulailah dengan terhubung bersama kekuatan lembut di alam kecil bernama tubuh. Untuk direnungkan lebih dalam, lebih dari 70 % unsur pembentuk tubuh manusia adalah barang cair, demikian juga permukaan bumi. Lebih dari setengah permukaan bumi berisi air. Ia media pengingat untuk kembali pada energi lembut di dalam diri. Lebih-lebih orang Bali, telah lama peneliti Belanda bernama Hoykas menyebut agama orang Bali dengan The religion of holy water (Agama Tirtha alias air suci).

Dengan bekal seperti ini, gunakan momentum gempa untuk mengimbangi alam dengan energi-energi lembut. Sebagai misal, ketika ada pejabat tinggi Jakarta yang menuduh pariwisata Bali kurang bersahabat dengan agama tertentu, tidak perlu berespon dengan kekerasan. Terutama karena api tidak akan pernah padam jika ditambahkan api. Api hanya padam jika manusia menyiramkan air yang lembut.

Dan sejarah pernah bercerita, setelah bom teroris meledak di New York 11 september 2001 banyak tentara AS yang menembakkan peluru di Afganistan dan Irak. Ujungnya sudah ketahuan, AS tidak tambah sejuk setelah itu. Setelah bom teroris Bali 12 oktober 2002, pemimpin dan tokoh Bali ketika itu berespon lembut sekali. Tidak menyalahkan siapa-siapa, malah melakukan upacara. Tepatnya upacara membersihkan bumi. Ujungnya sudah dicatat sejarah, Bali berkali-kali dinobatkan oleh banyak media dunia sebagai pulau terindah di dunia.

Bung Karno pernah berpesan: “Jas merah, jangan pernah lupa sejarah”. Sambil ingat, dalam hal penguasaan teknologi dan pengetahuan, generasi baru lebih maju dibandingkan para tetua. Dengan bekal iptek yang lebih maju, seyogyanya manusianya juga berespon secara lebih lembut. Terutama karena pendidikan ada di sini tidak untuk membuat manusia jadi fanatik, tapi untuk membuat manusia agar berespon lebih simpatik.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo by Sergey Chuprin on Unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.