Kedamaian

Mendaki ulang Gunung yang berbeda: Terimakasih, terimakasih dan terimakasih

Ditulis oleh Gede Prama

Mendaki ulang Gunung yang berbeda:
Terimakasih, terimakasih dan terimakasih

Tatkala seorang sahabat dekat psikolog terkenal dari AS Kari Joys menulis buku “Finding Joy Around The World”, beliau bertanya begini: “Kenapa Anda mundur dari posisi pemimpin perusahaan ketika umur Anda belum 40 tahun. Bukankah itu mimpi dan cita-cita banyak sekali manusia?”. Kari Joys benar, itu memang mimpi kebanyakan manusia.

Anehnya sebelum setahun duduk di puncak piramida dunia korporasi di Jakarta, tiba-tiba secara mendadak datang musibah berantai. Dari bom Bali di tahun 2002 yang membuat tubuh menggigil menangis, beberapa kali dilarikan ke UGD di rumah sakit terdekat karena serangan rasa sakit hebat di ulu hati (chakra keempat), sampai didatangi masalah keluarga yang tambah lama tambah hebat. Di tahun yang sama, Ibu (istri Guruji) sepulang menjemput Adi pulang sekolah (putera kedua Guruji) mobilnya masuk jurang. Untungnya selamat.

Dari situ muncul suara dari dalam: “Anda memang sedang di puncak gunung, tapi puncak gunung yang keliru”. Ia tidak memberi pilihan lain selain mendaki gunung yang berbeda, kendati usia sedang menuju tua. Dari sana dimulai perjalanan spiritual yang panjang. Dimulai dengan berbagi Cahaya di LP (lembaga pemasyarakatan) di Bali.

Delapan belas tahun setelah semua itu berlalu, di hari ini ketika Guruji berulang-tahun yang ke 57, yang oleh keluarga Compassion dirayakan sebagai Compassion Day (hari belas kasih), kerja keras dan ikhlas itu ternyata berbuah sangat indah. Dibandingkan puncak gunungnya Mahatma Gandhi dan YM Dalai Lama, puncak gunung Guruji memang jauh lebih rendah.

Tapi rasa terimakasih yang muncul dari dalam tidak bisa diukur dan diungkapkan. Sehingga terimakasih super mendalam diucapkan pada keluarga Compassion yang merawat Guruji, keluarga Tajun tempat Guruji terlahir dan disekolahkan, keluarga Puri Buleleng tempat Ibu terlahir, Guru sekolah dari SD 1 Tajun, SMP Bhaktiyasa Singaraja, SMUN 1 Singaraja, FE-Unud, Sekolah bisnis Praseiya Mulya Jakarta, The management school Universitasl Lancaster Inggris, sampai INSEAD Prancis tempat Guruji pernah ikut kursus manajemen puncak selama 2 minggu.

Tentu saja jutaan murid yang tersebar di mana-mana. Dari penggemar social media, penonton televisi, pembaca buku, sampai dengan murid meditasi. Mengulangi doa di awal: “Terimakasih, terimakasih dan terimakasih”. Semoga semua mahluk berbahagia.

Penulis: Guruji Gede Prama
Keterangan foto: Guruji ketika berumur 38 tahun saat menjadi pemimpin perusahaan dengan ribuan karyawan. Foto diambil oleh majalah Eksekutif

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.