Kedamaian

Evolusi atau mati

Ditulis oleh Gede Prama

Salah satu sejarahwan jernih zaman ini adalah Prof. Harari dari Israel. Berulang-ulang lulusan Oxford ini bercerita seperti ini: “Manusia telah menjadi Tuhan di muka bumi. Jika ciptaan lain seperti binatang dan tetumbuhan jumlahnya berkurang terus, jumlah manusia menaik terus. Bahkan mengalami ledakan”. Pernyataan ini masih dikemukakan sampai tahun 2019.

Tapi di awal tahun 2020, manusia yang tadinya dicurigai telah menjadi Tuhan di muka bumi, tiba-tiba penuh kepanikan dan penuh ketakutan di muka bumi. Itu pun disebabkan oleh mahluk kecil bernama virus corona. Dalam bentangan sejarah yang panjang, baru sekarang terjadi miliaran manusia tiba-tiba takut keluar rumah. Jalanan dan tempat publik sepi.

Sebuah transisi yang sangat cepat dengan pengaruh yang sangat hebat. Tidak mungkin itu bisa dilakukan oleh virus biasa. Setiap sahabat yang mata spiritualnya terbuka lebar mengerti, virus corona hanya pembawa pesan. Pesannya pun sederhana namun mendalam: “Mari berevolusi ke tingkat yang lebih tinggi”. Jika Charles Darwin dulu mencatat evolusi bentuk fisik manusia, sekarang sudah saatnya berevolusi di tingkat kesadaran yang lebih tinggi.

Persisnya, kesadaran bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri di muka bumi. Apa lagi menjadi Tuhan di muka bumi. Meminjam temuan fisikawan nuklir Inggris David Bohm dalam maha karyanya “Health and The Implicate Order”, kata health (kesehatan) berasal dari kata whole (keseluruhan atau ke-u-Tuhan). Dengan kata lain, jika mau tumbuh sehat di muka bumi, ingat juga kesehatan mahluk lain yang ada di bumi.

Dulunya cerita seperti ini hanya beredar di orang-orang yang kesadarannya telah berevolusi ke tingkat yang lebih tinggi. Dari fisikawan bernas Fritjof Capra dalam The Tao of Physics, antropolog sosial Gregory Bateson dalam Steps Into The Ecology of Mind, sampai Guru meditasi bernama YA Thich Nhat Hanh yang mengkampanyekan Interbeing (baca: manusia tidak bisa hidup sendiri).

Sekarang kesadaran ini terpaksa harus dimengerti oleh banyak manusia. Dari orang biasa sampai pemimpin negeri adi kuasa. Pilihannya pun tidak main-main: “Evolusi atau mati”. Siapa yang gagal bersahabat dengan alam sekitar, sedang terancam mati. Siapa yang terhubung dengan alam sekitar melalui prinsip “interbeing”, ia akan berevolusi ke tingkat yang lebih tinggi.

Dalam kerangka sederhana namun dalam, berevolusi dari ketakutan berlebihan yang vibrasinya sangat rendah, menuju cinta kasih yang vibrasinya cukup tinggi. Dan cinta kasih di sini tidak sebatas sesama manusia, tapi melebar mencakup cinta kasih pada alam sekitar. Dalam kaitan ini filosofi hari raya Nyepi bisa sangat membantu.

Satu spirit dengan ritual thorma di atap bumi Tibet, di Bali alam bawah yang menakutkan itu tidak diserang. Tapi dibikinkan rumah bernama penunggun karang, diberi suguhan. Ini bukan cerita tentang manusia yang menyembah setan. Sekali lagi bukan. Tapi cerita tentang manusia yang kesadarannya telah berevolusi ke tingkat yang lebih tinggi.

Ringkasnya, menyembah Tuhan, itu bisa dilakukan siapa saja. Tapi merawat alam bawah secara indah, itu hanya bisa dilakukan oleh jiwa-jiwa bercahaya. Ketika mendengar kami keluarga Compassion mendoakan alam neraka, setan, gumatat-gumitit, binatang, tetumbuhan sampai alam dewa, seorang sahabat dari Jakarta bertanya heran: “Baru pertama kali kami mendengar ada manusia mendoakan .
setan. Di tempat suci kami, sejak kecil kami diajarkan untuk membunuh setan”.

Di tingkat kesadaran yang rendah, mahluk bawah memang menakutkan. Itu terjadi lebih banyak karena vibrasi energi seseorang masih rendah. Contoh sederhananya, ketika anak kecil yang takut sama anjing berjumpa anjing, tubuhnya memproduksi adrenalin. Adrenalin ini dicium oleh anjing sebagai energi kurang bersahabat. Akibatnya anjingnya menggongong, bahkan bisa menggigit.

Sebaliknya, di tingkat kesadaran yang tinggi, cinta kasih membuat tubuh manusia bebas dari ketakutan. Sehingga tubuhnya tidak memproduksi adrenalin. Ujungnya, tidak saja anjing, bahkan setan pun bisa menghormat. Dulunya, ini hanya cerita di buku suci. Tapi perjumpaan pribadi berkali-kali dengan sejumlah mahluk menakutkan – dari kaki dicium ular, tubuh dinaiki ratusan laba-laba, sampai berjumpa wanita berambut panjang yang kakinya tidak menyentuh tanah di sebuah malam di hutan ketika sendiri – membuat cerita buku suci itu jadi benar dan nyata.

Kesimpulannya, jika kesadaran seseorang masih di tingkat yang sangat rendah (takut, panik, marah, banyak yang terlihat salah), siap-siaplan bumi akan semakin menakutkan. Tapi jika kesadaran para sahabat berevolusi ke tingkat yang lebih tinggi (setidak-tidaknya sampai di tingkat cinta kasih), maka bumi akan menjadi tempat yang sangat mendamaikan.

Selamat hari raya Nyepi. Semoga semua mahluk berbahagia. Semoga bumi dilimpahi Cahaya.

Penulis: Guruji Gede Prama
Video: Ini doa keluarga Compassion saat mendoakan alam neraka, setan, gumatat-gumitit, binatang, tetumbuhan, memedi, manusia, mahluk setengah dewa, alam dewa, alam arahat, sampai alam Bodhisatwa.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.