Kedamaian

Membaca tanda-tanda zaman

Ditulis oleh Gede Prama

Jarang-jarang terjadi, manusia bisa dibikin tiarap penuh hormat di depan alam. Sebagaimana terjadi di zaman virus corona ini. Sehingga ada baiknya merenungkan tanda-tanda zaman.

1. Karena serangan dari arah bawah, pesannya: “Manusia terlalu kuat menyembah ke atas, terlalu lemah menyayangi alam bawah”
2. Serangan paling hebat terjadi di tempat-tempat yang berita negatifnya sangat masif. Pesannya, jauhkan diri dari pikiran dan emosi negatif
3. Dinosaurus punah karena gagal menyelaraskan diri dengan siklus semesta. Belajar menyelaraskan diri dengan siklus semesta
4. Berjanjilah di dalam hati untuk tumbuh selaras dengan alam. Bukan pongah dan congkak di depan alam
5. Kurangi membunuh binatang. Khususnya untuk tujuan kesenangan seperti tas, ikat pinggang, jaket kulit
6. Kurangi mengkonsumsi barang yang membuat pohon ditebang seperti tisu, kertas, kayu untuk bangunan
7. Kurangi menakuti alam secara berlebihan. Sebaliknya, belajar menemukan keterhubungan di sana
8. Lihat dan perlakukan alam sekitar dengan mata dan sikap yang penuh rasa syukur
9. Jika tidak bisa menyayangi alam sekitar, cukup kurangi menyakiti alam sekitar
10. Sesering mungkin berdoalah untuk meringankan beban penderitaan di alam ini
11. Dari kedalaman hati yang bersyukur, bisikkan doa ini sesering mungkin: “Terimakasih, terimakasih, terimakasih”

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo by Joshua Sortino on Unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.