Kedamaian

Jalan indah bhakti

Ditulis oleh Gede Prama

Telah ditulis lama di banyak buku suci tua Tantra pesan seperti ini: “Penderitaan mirip daun kering. Ajaran suci serupa cahaya matahari. Bhakti pada Guru sejati adalah kaca pembesar yang diletakkan diantara keduanya. Sehingga daun kering penderitaan terbakar habis”. Berikut pedoman untuk para sahabat dekat dalam melakukan Namaskara (salah satu bentuk bhakti).

  1. Tumbuhkan keyakinan kuat pada subyek yang disembah. Guru hidup sangat ditekankan karena beliau masih ada di alam manusia yang sama. Sehingga kemungkinan terhubungnya lebih tinggi. Keyakinan ini penting. Tanpa keyakinan daya sembuh Namaskara akan lemah. Dalam bahasa ilmu pengetahuan modern, meningkatkan efek placebo
  2. Di depan subyek yang disembah, renungkan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Agar bisa dibersihkan habis oleh praktik Namaskara. Terutama kesalahan-kesalahan yang bisa membuat perjalanan jiwa jadi sangat berbahaya
  3. Bisikkan di depan subyek yang disembah serangkaian janji untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Kalau pun secara tidak sengaja nanti dilakukan kembali, cepat lagi lakukan teknik ini secara berulang-ulang. Ingat, belajar baca tulis di SD saja butuh waktu 6 tahun. Belajar tekun dan sabar
  4. Baca kembali doa-doa belas kasih (compassion) sebagai bahan pengingat. Semua mahluk pernah menjadi Ibu kita di hidup sebelumnya. Yang jahat memurnikan. Yang baik menjadi cermin keindahan hati di dalam. Bangkitkan niat untuk mengajak mereka ikut Namaskara sehingga ikut termurnikan. Sekaligus membuat efek Namaskara jadi lebih Agung. Tidak saja Anda termurnikan, semua mahluk ikut termurnikan
  5. Langkah di atas dilakukan dalam posisi kaki bersimpuh. Kemudian saat berdiri, letakkan tangan di atas ubun-ubun sebagai simbol meletakkan Guru di atas kepala. Duduk di atas bunga Padma. Kemudian menyembahlah dengan seluruh pikiran, ucapan dan tindakan
  6. Makanya sebelum tubuh ditidurkan di tanah, cakupkan tangan dan letakkan diantara dua alis sambil membisikkan mantra “Aum”. Sebagai simbol menyembah Guru dengan seluruh pikiran
  7. Cakupkan tangan dan letakkan di kerongkongan sambil membisikkan mantra “Ah”. Ia simbol menyembah Guru dengan seluruh ucapan
  8. Tangan yang mencakup diletakkan di ulu hati sambil melantunkkan mantra “Hum” (dibaca Hung). Sebagai tanda menyembah dengan seluruh tindakan
  9. Bersamaan dengan gerakan menidurkan tubuh di tanah, sebelum tubuh sampai di tanah, ucapkan mantra “Om Vajra Sattva Hum” untuk membersihkan seluruh kesalahan melalui ucapan. Serta ingat membayangkan mengajak semua mahluk di alam bawah, tengah, atas (dari neraka, setan, binatang, virus, pohon, manusia dll) untuk ikut menyembah
  10. Begitu seluruh tubuh sepenuhnya menyentuh tanah (2 kaki, 2 tangan, jidat), ucapkan mantra “Nammo Gurubyah” (saya berlindung kepada Guru) cukup 3 kali. Kemudian balik lagi ke posisi berdiri. Gerakan ini dilakukan berulang-ulang sesuai dengan kemampuan (stamina) tubuh. Lebih bagus jika setiap satu gerakan mengajak satu alam Namaskara bersama. Misalnya, di Namaskara pertama mengajak alam neraka Namaskara. Di gerakan kedua mengajak alam setan Namaskara. Dan seterusnya
  11. Begitu selesai, persembahkan berkah Namaskara dan berkah kebaikan di 3 waktu (lalu, kini, nanti) ke subyek persembahan (Guru sejati). Bayangkan Guru sejati dalam wujud samudera yang maha luas. Persembahan Anda seperti setetes air yang dituangkan di sana. Dengan cara ini, persembahan Anda tidak akan pernah hilang (menguap). Selalu tersimpan di samudera yang maha luas. Di mana pun Anda terlahir, Anda akan terjaga oleh persembahan yang pernah dilakukan

Semoga bermanfaat bagi sahabat dekat. Semoga semua mahluk sehat dan selamat

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto milik akun FB Dupa Toh Langkir

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.