Kedamaian

Menyelaraskan diri dengan frekuensi baru bumi

Ditulis oleh Gede Prama

Di budaya Barat yang eksplisit, dialog ke dalam kadang disebut percakapan dengan Tuhan. Itu sebabnya Neale Donald Walsch memberi judul bukunya “Conversation with God”. Di Timur yang lebih implisit lain lagi. Berikut dialog ke dalam pagi ini di Ashram bersama Nyanyian Di Dalam (NDD).

Penanya: Kenapa umat manusia harus menderita demikian panjang karena virus corona?

NDD: Sebagian lebih penderitaan manusia disebabkan oleh diri mereka sendiri. Persisnya disebabkan oleh kegagalan menyelaraskan diri dengan alam luar sekaligus alam di dalam. Ingat pesan sebelumnya, yang paling mengacaukan di zaman corona ini adalah berita palsu di luar bersekongkol dengan berita palsu di dalam (baca: ketakutan dan kepanikan). Sebelum umat manusia sembuh dari dua berita palsu ini, selama itu juga kehidupan di muka bumi akan kacau.

Penanya: Jika demikian keadaanya, apa yang sebaiknya dilakukan?

NDD: Ajak umat manusia untuk memiliki pengertian yang tepat tentang virus. Virus berumur sangat tua, setua umur biologi yang ada di alam ini. Ia dilahirkan oleh alam untuk menjaga keseimbangan ekosistim. Bukan untuk menyerang umat manusia. Sekali lagi bukan. Jika mau keluar dari krisis panjang berbahaya ini, ajak umat manusia untuk meninggalkan “war mentality” (mentalitas berperang) melawan alam terutama virus. Anti biotiknya dokter, pestisida yang digunakan petani, racun untuk tikus adalah sebagian contoh dari mentalitas berperang yang sebaiknya ditinggalkan. Bertransformasilah dari berperang melawan alam menuju menyelaraskan diri dengan alam.

Penanya: Akan sulit sekali mengajak umat manusia bertransformasi jenis ini, terutama karena mentalitas berperang sudah mengakar demikian dalam di masyarakat.

NDD: Kurangi menyerah sebelum mencoba. Sekecil apa pun lilin, asal tekun dan tulus menyalakan lilin-lilin lain, suatu hari akan jadi Cahaya yang menerangi semesta. Mulailah dengan mengajak orang-orang untuk melihat penyakit sebagai malaikat yang menyamar. Saat tubuh demam misalnya, itu bukan tanda ada sesuatu yang mesti dibunuh di dalam, tapi itu undangan untuk segera menyelaraskan diri dengan bioritme alam sekitar. Jika sedang musim hujan yang dingin, hangatkan badan. Perkuat kekebalan tubuh dengan vitamin C misalnya.

Penanya: Kemungkinan akan berat sekali membagikan Cahaya ini, terutama karena ada jejaring super rumit di bumi yang membuat mentalitas berperang ini sangat kuat.

NDD: Anda dikasi tanda sejak kecil untuk selalu tekun. Tekunlah membagikan Cahaya ini. Lupakan kekuatan super rumit di bumi. Ketekunan mirip dengan menetesi batu yang sama, asal tekun dan tulus nanti akan berlubang. Ingat pesan antropolog terkemuka Margareth Mead, jangan pernah menyepelekan kelompok kecil dengan konsistensi yang besar. Ia akan membawa gelombang perubahan yang juga besar.

Penanya: Jika demikian, apa langkah yang sebaiknya diambil oleh umat manusia setelah ini?

NDD: Virus corona sudah membimbing umat manusia untuk melakukan ziarah ke dalam diri (inner pilgrimage). Dan permata indah yang telah ditemukan dalam ziarah panjang ke dalam diri ini bernama keluarga dan cinta. Percantik jiwa dengan memadukan cinta dan keluarga. Ia akan menjadi lentera indah dan lama di sini di muka bumi. Pelajaran lain, virus corona juga telah menggeser pusat kebahagiaan dari society (masyarakat) menuju solitude (kesendirian yang penuh penerimaan). Ajak umat manusia untuk tidak melawan kecenderungan besar ini. Gunakan kesendirian yang penuh penerimaan untuk merawat keluarga. Jika telah kuat dan kokoh di dalam, perluas pengertian keluarga.

Penanya: Apa maksud memperluas pengertian keluarga?

NDD: Tidak saja umat manusia jadi keluarga Anda, seisi alam semesta adalah keluarga Anda. Ingatkan orang-orang, manusia, virus, binatang, tetumbuhan termasuk ciptaan lain yang tidak terlihat adalah bagian dari tubuh spiritual yang sama. Tatkala seseorang melukai ciptaan lain, manusia sedang melukai bagian tubuhnya sendiri. Persoalan waktu, rasa sakit yang sama akan kembali mengunjungi ia yang melukai. Itu yang sering disebut sebagai God as a law (Tuhan sebagai hukum).

Penanya: Termakasih banyak. Merunduk yang dalam

NDD: ………………………………………………………………………. Tidak ada suara. Hanya nyanyian Sunyi.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Twitter

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.